Syekh Izuddin bin Abdisalam

Jakarta, Aktual.com– Sosok Syekh Izzuddin bin Abdisalam adalah sosok yang sangat terkenal kepandaiannya, karangannya pun sangat banyak sekali. Nama lengkap beliau adalah al-‘Allamah al-Syaikh al-Imam al-Faqih al-Mujtahid Hujjatul Islam, Syaikhul Islam Izuddin Abu Muhammad Abdul Aziz ibn Abdussalam ibn Abu al-Qasim ibn Hasan al-Sulami al-Dimasyqi al-Syafi’i. Ia lahir pada 577 Hijriah di Damaskus.

Beliau belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Ahmad al-Muwwazini, Barkah ibn Ibrahim al-Khusyu’I, al-Qasim ibn Asakir, Umar ibn Thabrazid, Hanbal ibn Abdullah, dan beberapa guru yang lain.

Beliau juga menjadi guru bagi banyak murid yang sebagiannya kemudian dikenal sebagai ulama yang cukup masyhur, seperti al-Dimyathi, Ibn Daqiq al-Id, Syihabuddin ibn Farh, al-Yunaini, ibn Bahram al-Halabi, dan lain-lain.

Beliau memiliki riwayat Panjang dalam tradisi ilmu dan ijtihad. Juga dikenal istiqamah dalam memperjuangkan kebenaran dan jihad. Dikenal luas pada zamannya sebagai salah satu ulama besar mazhab Syafi’i. Juga dikenal teguh dalam amar makruf dan nahi munkar. Selain itu, dikenal pula sebagai alim yang warak dan pemberani.

Al-Asnawi mengatakan, “Syekh Izuddin ibn Abdussalam adalah syekh Islam yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ia mengaggap rendah kekuasaan dunia dan para penghamba dunia. Ia juga bersikap tegas kepada para raja dan bangsawan pada zamannya.”

Karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan ia baru bisa merasakan pendidikan di usia yang sudah tidak lagi muda. Ia pun setiap hari harus menginap di emperan Masjid Agung Umayah di Damaskus, karena tak punya bekal yang cukup. Namun beliau tetap menjalaninya dengan tekun dan sabar.

Suatu ketika, di malam yang sangat dingin. Seperti biasa, ia menginap di emperan masjid. Rasa lelah yang begitu mendera, membuat ia cepat tertidur. Memasuki tengah malam ia mengalami mimpi basah. Ia pun bergegas segera mandi di kolam di masjid tersebut. Ia sempat ragu, karena saat itu cuaca di Damaskus sangatlah dingin. Terbersit di pikirannya untuk menundanya besok pagi. Namun cepat-cepat ia putuskan untuk tetap mandi saat itu juga. Tak peduli seberapa dingin airnya. Ia pun kembali tidur.

Tak disangka kejadian itu berulang hingga tiga kali dan ia selalu memaksa dirinya untuk mandi yang membuat ia harus tak sadarkan diri karena kedinginan. Di saat itu pula ia mendengar sebuah suara lirih: “Wahai Ibn Abdussalam apa yang engkau kehendaki ilmu atau amal?”

Kontan ia langsung menjawab, “Tentu saja ilmu, karena dengannya aku akan bisa beramal.”

Esoknya ia seakan mendapat futuh atau keterbukaan hati dari kejadian semalam. Berkat kegigihannya malam itu. Allah memberikan hidayah. Hatinya terasa begitu lapang. Hal itu ia buktikan dengan menghafal Kitab Tanbih karya Imam asy-Syairazi dalam waktu yang relatif singkat. Ia pun terus menekuni ilmu, ia mendatangi ulama-ulama besar di masanya seperti Syeikh Syaifuddin al-Amid, Imam Fakhruddin Ibnu Asakir. Hingga akhirnya ia menjadi ulama besar di Damaskus.

Disebutkan bahwa Syekh Izzuddin meninggal sebagai Zahid (Menjauhi Dunia) pada 660 H di kota al-Mahrusah. Jenazahnya dikuburkan di lembah gunung al-Muqatham. Di tempat itu ada pemakaman yang penjaganya tidak mengizinkan siapa pun dikuburkan di sana kecuali dengan kuburan yang sederhana, tanpa dinding, tanpa hiasan, dan bentuk kemegahan lainnya.

Dengan begitu, Sang Sulthanul Ulama ulama ini tetap menjadi Zahid hingga akhir hayatnya dan dikehidupan berikutnya. Semoga beliau mendapatkan surga Firdaus, kenikmatan yang paling nikmat dan taman surga yang paling luas.

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)