Syeikh Ahmad Zarruq Tomb

Jakarta, Aktual.com – Syekh Ahmad Zarruq, demikian beliau biasa disebut. Sufi besar dari Fes Maroko, dan juga tokoh penting mazhab Maliki pada masanya. Beliau merupakan guru kesembilan dalam mata rantai silsilah tarekat Syadziliyah, setelah Al-Imam Quthb Al-Aqthab Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili (qs).

Bernama lengkap Syihabud-Din Abu al-Abbas Ahmad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Isa Zarruq al-Fasi al-Burnusi. Beliau disebut dengan nama “Zarruq” karena mata beliau yang biru. Beliau berasal dari suku Barnusi yang tinggal di daerah antara Fes dan Taza. Beliau juga dikenal sebagai Imam Zarrūq ash Shadzili.

Beliau lahir pada tanggal 7 Juni 1442 atau 22 Muharram 846 Hijryah di Tiliwan, sebuah daerah pegunungan di Maroko. Sebagaimana yang beliau tuturkan tentang kelahirannya, “Aku lahir saat terbit matahari pada hari kamis tanggal 22 Muharram 846H/1442M.”

 

Masa kecilnya sangat memprihatinkan. Semenjak kecil sudah menjadi yatim piatu. Ibu dan ayahnya meninggal ketika dirinya berumur tujuh hari. Syekh Ahmad Zarruq kecil kemudian diasuh oleh neneknya Ummul Banin yang dikenal sebagai ahli hukum ulung.

Neneknya merupakan seorang ahli fikih yang salehah, ialah yang menanggung segala kebutuhan Zarruq kecil setelah kewafatan kedua orangtuanya. Beliau mengatakan, “Nenekku yang mengajarkanku dan memerintahkanku shalat, ketika itu aku masih lima tahun, dan (pada umur itu) aku sudah melaksanakannya.”

Pada umur lima tahun, neneknya sudah mengajarkannya ilmu tauhid, tawakal, keimanan, perkara agama dengan metode yang menakjubkan. Ia tiap harinya menyediakan Zarruq makanan, setelah selesai belajar, Zarruq kecil datang untuk makan, namun neneknya selalu berkata, “Aku tidak memiliki apapun, namun rezeki ada di pembendaharaan Allah Swt azza wa jalla, maka duduklah kita meminta pada Allah Swt,” ia pun mengulurkan tangannya ke langit, Zarruq kecil mengikutinya dan sama-sama berdoa selama beberapa waktu, kemudian si nenek berkata, “Lihatlah! Semoga Allah menjadikan sesuatu di dekat tiang rumah, sesungguhnya rezeki adalah keringanan. Kami pun memeriksanya bersama-sama dan mendapati makanan disana, Zarruq pun senang dengan pemberian ini, juga senang dengan Allah Swt yang telah memberikannya rezeki.

Neneknya berkata, “Mari kita bersyukur sebelum kita memakannya, karena Allah telah menambahkan rezeki pada kita,” maka Zarruq dan neneknya mengulurkan tangan, memuji-Nya dan bersyukur, kemudian menyantap makanan itu.

Dalam hal pendidikan, nenek Zarruq lebih mendahulukan cucunya untuk memperdalam ilmu dibandingkan dengan syair, beliau berkata kepada Zarruq, “Siapapun yang meninggalkan ilmu dan sibuk dengan syair, perumpamaannya seperti seseorang menukar gandum dengan jewawut (keduanya sama-sama jenis gandum namun beda kualitas).

 

Setelah Zarruq menyelesaikan hafalannya, ia pun melanjutkan untuk talaqqi. Awal kali beliau bertalaqqi kepada syaikh As-Shathiy dan Syaikh Abdullah Al-Fakhhor, begitu juga talaqqi alquran kepada beberapa masyaikh, diantaranya syaikh Al-Qowry, syaikh Az-Zahwany, dan syaikh Al-Mujashy. Kemudian ia mempelajari ilmu tasawuf dan ilmu tauhid dengan menggunakan Ar-Risalah Al-Qudsiyyah dan ‘Aqoid At-Tusy kepada syaikh Abdurrahman Al-Majduly.

Selain itu, beliau juga sempat membaca Shohih Bukhori dan sebagian kitab At-Tanwir kepada Al-Qoury, kemudian kepada Abdul Haqqi As-Shufro beliau mempelajari ilmu fikih dan Jami’ Tirmidzi.

Adapun masyaikhnya sangat banyak, disini bisa dilihat kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu. Nama-nama mereka adalah, Abul Al-Abbas Ahmad Al-‘Ajl 856H (suami dari nenek beliau), Abu Al-Abbas Ahmad bin Sa’id Al-Miknasi Al-Fasy 870H, Abdullah bin Muhamad Qosim Al-Qoury 872H, Ahmad bin Abdullah Az-Zaituny 870H, Abul Ali Hasan bin Mandil Al-Mughily 864H, Abul Abbas Ahmad bin Aly bin Salih Al-Faylaly 860H, Abu Abdillah Sulaiman Al-Jazuly 870H, Abu Abdillah Muhammad Al-Masydzali 866H, Abu Abdillah Muhammad Ibn Amlal 856H, Muhammad bin Qosim Ar-Risho’ 890H,.

 

Disamping memiliki masyayikh yang banyak, beliau juga memiliki murid yang cukup banyak, namun yang mashur diantaranya adalah, Ahmad Al-Manjur 955H, Syamsun Al-Laqqoni 935H, Al-‘Alim Muhammad bin Abdirrahman Al-Hatthob 945, Zaen Thohir Al-Qisthiny 899H, Abdul Wahhab Az-Zarqoq 961H, Abu Abdillah Muhammad bin Abi Jum’ah Al-Habthy 930H, Aburrahman Al-Qonthory 956H, Muhammad bin Ali Al-Kharuby At-Thorobnusy 963H, dan Muhammad Abul Fadhl Khoruf At-Tunisy 966H.

Beliau adalah seorang Penulis, Ahli Hadits, Pengulas Mahzab Maliki dan Pengulas Al-Hikam karya Syaikh Abu al-Fadl Ahmad ibn Muhammad ibn Abdul Karim Ibn ‘Ata Allah al-Iskandari (qs). Beliau pergi berdakwah ke timur, ke Hijaz hingga ke Mesir sebelum menetap di Libya dan wafat di sana pada tahun 1493.

Syaikh Zarruq telah menyusun banyak kitab turats yang mengandung banyak manfaat, khususnya dalam bidang tasawuf. Kitab-kitab yang ditulis oleh beliau adalah, Al-Hawadits Al-Bida’, Syarh Aqidah Al-Ghozaly, Risalah Ilal Fuqoro Al-Muntasibin liithoriqoh Az-Zaruqiyyah, Syarh Qosidah Nuniyyah Lisyastary, An-Nasihah Al-Kafiyyah liman Khossohullahu bil ‘Afiyah,Qowaid At-Tasawwuf, Tanbih Dzawil Himam Ala Ma’ani Alfadz Al-Hikam, Nadzmu ‘Uyubinnafsi wa Mudawaatuha, Thoifah min kalam Az-zaruq biduuni ‘Unwan, Al-Fath wa At-Tamkin, Al-Qosidah At-Taiyyah fil Hatssi Alal ‘Uzlah, Risalah Fi At-Tasawwuf, Ushul At-Thoriqoh, Rislaah ‘Ibaroh An Washiyyah Wajjahaha Zaruq li ahadi Ash-Habihi Yushihi fiiha bi taqwallah, Al-Haqiqoh, Iddah Al-Murid As-Shodiq, Wadzifah Az-Zaruq, Syarh Qosidah Ad-Dhimyathiyyah, Al-Maqshod Al-Asma, Al-Jami’ Lijumalin Minal Fawaid wal Manafi’, Syarh Hizb Bahr dan masih banyak lagi, beliau juga telah mensyarahi kitab Al-Hikam ibn Athoillah.

Diantara keunikan Syarah Syeikh Zarruq, ketika beliau mensyarahi Al-Hikam sampai terulang 17 kali. Setiap kali khatam membuat syarah kitab Al-Hikam selalu hilang, atau dicuri orang. Dan syarah yang masih utuh hingga sekarang adalah syarah beliau atas Al-Hikam yang ke 17. Dan setiap satu syarah yang lalu maupun yang kali berikutnya selalu berbeda. Itulah misteri Kitab Al-Hikam.

 

Beliau wafat di Misrata, Libya pada 18 Shafar tahun 899 atau 1493 Hijriyah saat usia 54 dan dimakamkan disana. Makamnya tak pernah sepi oleh para peziarah. Namun pada hari Ahad 26 Agustus 2012, simpatisan ISIS menggali kuburan Syekh Ahmad Zarruq dan diduga membuang jenazahnya di tempat yang tidak diketahui. Kuat dugaan bahwa jenazahnya  ditempatkan di lokasi rahasia, karena ISIS ingin menjauhkan orang-orang yang menghormati jenazahnya karena dianggap sesat. Konon jenazahnya telah ditemukan lagi. (Dari berbagai sumber)

(As'ad Syamsul Abidin)