Jakarta, Aktual.co — Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mengatakan bahwa ada bahaya kelompok Negara Islam memperluas gerakannya hingga ke Afghanistan, meskipun terdapat sedikit bukti akan kehadiran kelompok itu di sana pada saat ini.

Julie Bishop, saat menerima tamunya dari Inggris, Menteri Luar Negeri Philip Hammond dan Menteri Pertahanan Michael Fallon, untuk pembicaraan keamanan tahunan, mengatakan bahwa dia menyadari hal itu setelah muncul “beberapa bukti hubungan” IS dengan unsur keras Taliban pada kunjungan terakhir ke Afghanistan.

“Tapi tidak ada banyak bukti bahwa ISIL (Islam Negeri Irak dan Levant) telah muncul di Afghanistan,” katanya dikutip AFP, Senin (2/2).

“Tapi ada kekhawatiran jika ISIL mengubah perhatiannya dari Irak dan Suriah ada unsur Taliban yang akan menerima ideologi brutal itu. Kami menyadari hal itu,” katanya.

Agenda pertemuan itu fokus pada Timur Tengah, termasuk menanggapi ancaman dari IS, yang juga dikenal sebagai ISIL atau Daesh, dan rekrutmen para pejuang asing.

Milisi Negara Islam, Sabtu, mengumumkan bahwa mereka telah memenggal Kenji Goto, sandera kedua Jepang yang konon dibunuh dalam seminggu.

“Kami tentu sadar akan kebutuhan untuk membendung, mengganggu, dan menurunkan hingga akhirnya mengalahkan ISIL, Daesh, di mana pun mereka berada,” kata Bishop.

“Itu sebabnya fokus kami begitu banyak ada di Irak … dan fakta bahwa ada tentakel yang menuju Afghanistan hanya menggandakan tekad kami untuk mengalahkan ISIL,” katanya.

Bishop mengatakan Australia dan Inggris sepakat bahwa “kami menghadapi pertempuran epik dengan jaringan terorisme, tidak hanya sebagai demokrasi liberal terbuka Barat tetapi sebagai bangsa”.

“Dan ancaman terorisme yang telah kami lihat dalam bentuk ISIL atau Daesh, Boko Haram dan lain-lain tidak menghormati pemerintah, tidak ada batas, tidak ada undang-undang. Mereka tidak menghargai kemanusiaan atau perilaku yang beradab,” katanya.

Hammond, yang sebelumnya mengunjungi kafe yang menjadi lokasi pengepungan mematikan di Sydney pada bulan Desember, mengatakan pembicaraan Senin berlangsung di bawah bayang-bayang pembunuhan dua sandera Jepang dan serangan milisi baru-baru ini di Paris dan di tempat lain.

“Meskipun fokus saat ini adalah pada Irak dan Suriah kami harus siap untuk melihat manifestasi dari ekstrimis Islam, kekerasan ekstremis Islam, bermunculan di seluruh tempat dan kami harus siap untuk berurusan dengan mereka di mana pun mereka muncul, di mana pun mereka menunjukkan diri mereka,” katanya.

Para menteri itu mengatakan dalam sebuah pernyataan mereka sepakat untuk melanjutkan kerjasama kontra-terorisme, dan telah menandatangani nota kesepahaman tentang penggunaan fasilitas diplomatik masing-masing pada saat krisis.

Artikel ini ditulis oleh: