Jakarta, Aktual.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan 24 rekor sepanjang 2025 dan menutup tahun di level tertinggi historis. Capaian tersebut memicu proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai optimisme tersebut berangkat dari kinerja pasar yang solid, bukan semata faktor psikologis.
Regulator memandang penguatan IHSG selama 2025 ditopang oleh peningkatan likuiditas, bertambahnya jumlah investor domestik, serta terjaganya kepercayaan pasar. Dari perspektif OJK, capaian tersebut menjadi pijakan awal untuk membaca potensi pasar modal ke depan secara lebih rasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan proyeksi IHSG menembus 10.000 pada 2026 memungkinkan selama fundamental ekonomi nasional tetap kuat.
“Kalau ekonomi solid dan peran investor domestik terus meningkat, level tersebut bukan sesuatu yang mustahil,” ujar Inarno dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner OJK yang digelar secara virtual, Jumat (9/1/2025).
Meski demikian, Inarno menegaskan pergerakan indeks tidak hanya ditentukan oleh kinerja emiten, tetapi juga sangat dipengaruhi dinamika global dan sentimen eksternal. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam berinvestasi.
“Kami selalu mengingatkan bahwa investasi harus dibarengi dengan manajemen risiko yang baik,” katanya.
Menurut Inarno, fokus utama regulator bukan mengejar target indeks tertentu, melainkan menjaga pasar modal tetap teratur, wajar, dan efisien. Pertumbuhan pasar yang berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila tidak bergantung pada momentum jangka pendek.
Selain itu, OJK turut menyoroti momentum pergantian direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dijadwalkan berlangsung pada 2026. Regulator menilai proses tersebut strategis untuk memperkuat daya saing dan kredibilitas pasar modal nasional.
Inarno berharap direksi baru BEI mampu meningkatkan integritas pasar dan perlindungan investor melalui pengawasan perdagangan yang lebih efektif. “Penguatan likuiditas, kualitas emiten, serta infrastruktur teknologi dan keamanan siber harus menjadi prioritas,” ujarnya.
OJK menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan BEI sebagai mitra strategis guna memperdalam pasar modal Indonesia dan mendorong pertumbuhan IHSG yang sehat dan berkesinambungan.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi















