Ilustrasi menulis (Pexels)

Bondowoso, Aktual.com – Orang bijak berkesimpulan bahwa hidup ini adalah masalah. Hampir tidak ada satupun manusia di muka Bumi ini yang tidak pernah masuk dalam episode jeratan masalah. Karena itu, masalah harus dihadapi, bukan malah lari, menghindari.

Tuhan merancang hidup berikut sistemnya dengan sangat sempurna. Ia menghamparkan beribu macam masalah agar manusia mampu menarik pelajaran berharga dari persoalan itu. Bersamaan dengan itu, Tuhan juga menyiapkan beribu ladang bagi manusia agar bisa keluar dari masalah-masalah yang dihadapi.

Seribu, bahkan sejuta cara yang disediakan Tuhan bagi manusia untuk menyelesaikan makalah itu, hakikat muaranya hanya satu, yakni disalurkan, bukan dipendam.

Masalah yang dihadapi manusia sangat mirip dengan simpanan energi atau magma dari gunung berapi. Ketika tumpukan magma sebuah gunung berapi sudah maksimal, maka tumpahlah si magma dengan cara yang dahsyat, gunung meletus.

Cara pelampiasan tumpukan energi semacam ini membawa dampak kerusakan yang luar biasa. Meluntuluh-lantakkan semua yang berada di radius terdekat. Karena itu, ahli kegungapian kemudian menemukan cara mengeluarkan magma tidak sekaligus. Permukaan gunung dibuatkan lubang-lubang saluran agar energi magma terbuang sedikit demi sedikit, dan tidak menimbulkan letusan.

Begitu juga manusia dalam menghadapi masalah. Ia memerlukan saluran-saluran kecil untuk menumpahkan beban. Dunia psikologi mengenal penyaluran energi masalah itu sebagai katarsis. Seseorang bisa menumpahkan atau bercerita mengenai masalahnya kepada orang lain, seperti psikolog, sahabat atau tokoh spitritual yang dipercaya.

Salah satu pilihan katarsis itu adalah menuangkan segala unek-unek atau tetek bengek persoalan hidup ke dalam tulisan. Zaman generasi lama sangat akrab dengan istilah buku harian atau catatan harian.

Sebagai sarana penyaluran beban energi, menulis untuk terapi itu tidak terikat oleh aturan-aturan mengenai menulis cerita, layaknya cerita pendek atau esai, bahkan juga puisi. Pokoknya, menulis saja. Berbicaralah dengan kertas atau layar laptop dan komputer. Kini tambahan penumpahan itu bisa dipilih ke layar telepon seluler pintar.

Mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie adalah salah seorang yang memilih jalan menulis itu sebagai terapi ketika kehilangan kinasihnya Hasri Ainun Besari. Lahirlah buku Habibie dan Ainun, yang kemudian difilmkan.

Kisah-kisah mereka yang memilih berbicara dengan menulis saat menghadapi persoalan hidup dibukukan dalam “17 Therapist: Writing Tips for Happiness Healing Therapy” yang dimotori oleh novelis dan praktisi writing therapist Naning Pranoto alias “Mbok Noto”.

Buku setebal 179 halaman yang diterbitkan oleh Kosa Kata Kita Jakarta bekerja sama dengan Yayasan RayaKultura Bogor ini memuat kisah 17 orang, umumnya perempuan, menghadapi masalah. Mereka menjadikan menulis sebagai sarana mencapai kebahagiaan, sehingga sehat lahir dan batin.

Ke-17 penulis yang telah membuktikan efektivitas menulis sebagai terapi itu adalah Suster Anastasia Marlina, Anastasia Rini Pujowati, Asri Indah Nursanti, Daniel Liunando, Elvirawati Pasila, Endang Sri Suherminingsih, Erina Charlotte, Hatmiati Masy’ud, Jaclyn Winanti, Lidya Renny Christinawaty, Lies Wijayanti SW, Mikael Agung Prananto, Rita Anugerah, Rosa Osmawarni, Siska Susantrin, Suster Theresina CB dan Yulius Budi Susila.

Buku ini terbagi dalam lima bab. Bab pertama berisi tentang kekuatan “kutipan” para penulis mengenai makna hidup yang bisa digali maknanya oleh pembaca. Bab 2 mengenai cerita-cerita pedih para penulis di masa remaja, khususnya menghadapi perceraian kedua orang tuanya.

Dengan gaya penulisan yang apa adanya dan mengalir, cerita-cerita haru di bab ini cukup menghanyutkan. Cerita-cerita itu bukan sekadar mengajarkan para remaja untuk tidak segan-segan menuangkan kegetiran hidup lewat tulisan, tapi juga bagaimana para orang membaca perasaan anak remaja, sehingga tidak seenaknya mengambil keputusan bercerai.

Pada bab 3 berupa penceritaan ulang bagaimana penulis dulunya mengisi kegersangan hidup dengan menulis, khususnya oleh Lies Wijayanti SW, pemilik gelar doktor dan Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2000-2006.

Lies yang meraih gelar doktor dari universitas di Jepang ini bercerita bagaimana menulis, khususnya puisi, menjadi jalan meraih kebahagiaan. Jika ada yang menganggap dirinya tidak bisa menulis, maka tipsnya adalah, “menulis, menulis dan tetap menulis”. Sekali lagi, ia berucap, “Tetaplah menulis, seperti bernapas”.

Di Bab 4, buku ini bukan sekadar mengajak pembaca untuk menumpahkan isi hati lewat tulisan, tetapi bagaimana seseorang mampu menangkap makna di balik peristiwa yang dialaminya. Model tulisan untuk terapi ini disebut sebagai life writing, yakni tulisan yang bersifat “menghidupkan” bagi pembacanya. Tentu, sebelum pesan menghidupkan itu sampai kepada pembaca, penulisnya harus terlebih dahulu sudah menangkap makna dari cerita hidupnya itu.

Ambillah cerita Anastasia Marlina yang pada tahun 1970-an harus menjalani kehidupan remaja dengan penuh tekanan orang tua, menjadi penyanyi. Ia menjadi terkenal dan banyak uang, namun ada yang hilang dalam hidupnya, kebebasan. Hidupnya terasa dalam kekangan, yakni obsesi orang tua dan kejaran wartawan untuk wawancara serta setumpuk surat-surat dari penggemarnya.

Pada akhirnya, Anastasia mampu menangkap pelajaran berharga dari perjalanan hidupnya yang “dipaksakan” oleh orang tua dengan menerima keadaan itu sebagai jalan kebahagiaan. Ia kemudian menyimpulkan bahwa kedamaian jiwa merupakan harta dan kebebasan merupakan pilihan hidup.

Demikianlah, sehat dan bahagia itu sederhana. Hadapi setiap peristiwa dan maknai sebagai jalan kebaikan yang telah ditentukan oleh Tuhan. Kalangan medis mengakui bahwa sebagian besar penyakit diakibatkan oleh pikiran. Berpikiran positif mengenai hidup akan menjadi jalan bahagia dan tentu menyehatkan, jiwa maupun fisik.

(Antara)

(Dede Eka Nurdiansyah)