Jakarta, aktual.com – Rasa kantuk dan pegal masih dirasakan Wahyudin sesaat setelah dia membuka mata pada Minggu Subuh (5/1).

Lelah yang mendera tubuh itu tak lain karena sejak dua hari lalu dia harus membersihkan rumahnya yang terendam banjir akibat curah hujan tinggi mengguyur Jakarta pada malam pergantian tahun 2020.

Rumah pria 33 tahun itu berada di kawasan Jalan Warung Buncit Raya, yang merupakan salah satu titik banjir di Jakarta Selatan. Air kecokelatan yang masuk ke dalam hunian mungilnya itu setinggi 30 sentimeter.

“Saya bersihkan lantainya, perabotannya, sampai rumah bisa ditempati lagi,” kata dia.

Namun, Wahyudin tidak bisa berlama-lama merasakan lelahnya itu. Panggilan tugas sebagai Petugas Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan telah menanti.

Pada pukul 07.00 WIB dia sudah harus berada di kawasan Rawajati, Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Bina Warga untuk mengikuti apel bersama ratusan petugas gabungan dari sejumlah suku dinas di Jakarta Selatan dan berbagai elemen masyarakat lainnya.

Pagi itu, Pemerintah Kota Jakarta Selatan mengadakan apel yang dilanjutkan dengan kegiatan kerja bakti massal membersihkan sampah sisa-sisa banjir di sejumlah titik, termasuk di Kelurahan Rawajati.

Kegiatan tersebut digelar untuk menindaklanjuti instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang meminta jajaran wali kota, bupati, camat hingga kelurahan untuk melaksanakan kerja bakti di lingkungannya bersama para warga pascabanjir.

Wahyudin datang bersama 19 orang petugas lainnya dari UPK Badan Air Sudin LH Kecamatan Pesanggrahan. Tak hanya mereka, ratusan petugas gabungan dari suku dinas lain juga terlibat, seperti Petugas Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU), Petugas Suku Dinas Bina Marga, Petugas Suku Dinas Kehutanan, serta Petugas Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan.

Selain itu, sejumlah elemen lainnya juga turut berpartisipasi, di antaranya Polri, TNI, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Pramuka, karang taruna, warga setempat hingga mahasiswa. Camat Pancoran Rizky Adhari yang juga hadir mengatakan tak kurang 1000 orang terjun langsung dalam kerja bakti massal itu.

Bersihkan sisa banjir
Sesaat setelah apel digelar, Wahyudin dan ribuan orang lainnya langsung menuju lokasi kerja bakti yang dipusatkan di RW 07 Kelurahan Rawajati.

Di sana, banjir yang terjadi memang cukup parah. Puluhan, bahkan ratusan rumah yang dihuni sekitar 150 Kepala Keluarga (KK)  terendam banjir dengan ketinggian bervariasi antara satu hingga tiga meter.

Selain karena curah hujan, luapan Sungai Ciliwung tak berada tak jauh dari pemukiman memperparah keadaan. Namun luapan banjir itu telah surut sejak Jumat, menyisakan lumpur pekat dan beragam rupa sampah.

Tiap-tiap orang yang bekerja bakti telah membekali diri dengan aneka peralatan pendukung, mulai dari sepatu boot, pacul, cangkul, tali, sarung tangan hingga karung untuk membungkus sampah.

Belasan truk dan mobil bak terbuka disiagakan di tepi jalan besar untuk mengangkut sampah-sampah yang dikumpulkan oleh para petugas dan relawan.

Meski dalam kondisi yang kurang prima, Wahyudin nampak bersemangat. Dia dan beberapa rekannya menyusuri gang-gang sempit yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua untuk memilah sampah yang berserakan.

Sampah berukuran kecil dan juga lumpur dimasukkan ke dalam karung menggunakan sekop. Sementara sampah besar seperti kayu maupun perabot rumah tangga langsung diangkut menuju titik pengumpulan sampah yang sudah ditentukan. Lokasinya berada di ujung jalan besar yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Karena medan yang sulit, petugas gabungan dan relawan berinisiatif membentuk “rantai manusia”, mulai dari titik pengambilan hingga pengumpulan sampah. Sampah-sampah itu lalu dijalankan secara estafet. Jaraknya relatif jauh, sekitar 200 hingga 500 meter.

Cara ini sangat efektif untuk efisiensi waktu dan tenaga. Banyaknya jumlah petugas dan relawan yang terlibat semakin memudahkan proses tersebut.

“Kalau mondar mandir pasti bikin cepat capek, rawan kepleset juga karena lumpur tebal. Kalau estafet gini jadi lebih mudah,” kata Wahyudin.

Hal itu juga diamini oleh Egy, petugas dari Suku Dinas Kehutanan Jakarta Selatan.

Menurut pria 24 tahun itu dengan adanya “rantai manusia” membuat semua petugas dan relawan yang hadir bisa terlibat dalam kegiatan kerja bakti.

“Kalau saling oper sampah seperti ini kan enak, ada rasa kebersamaannya. Kita megang sampah kotor, bau, yang lain juga sama. Kerja juga lebih cepat,” kata dia.

Rantai manusia itu terus mengular ke berbagai sudut pemukiman. Dalam kurun waktu dua jam, ratusan karung berisi sampah serta aneka perabot rumah tangga dan kayu yang terseret banjir berhasil dipindahkan ke titik pengumpulan.

Sampah-sampah itu lalu diangkut dengan truk, mobil bak, maupun gerobak motor.

Isnawa mengatakan bahwa sampah-sampah itu langsung dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Kerja risiko tinggi
Wahyudin tampak terduduk lelah sembari menyeruput teh hangat yang memang disediakan oleh warga sekitar untuk para petugas dan relawan yang bekerja bakti.

Meski keringat bercucuran, ditambah pakaian oranyenya yang penuh dengan cipratan lumpur, dia masih tersenyum tatkala mengobrol dengan beberapa rekannya.

Bagi pria asal Jakarta itu, pekerjaan yang dia lakoni sejak lima tahun terakhir bukanlah sebuah beban yang harus dikeluhkan.

Menurut dia, rasa lelah, aroma sampah, pun pakaian kotor merupakan konsekuensi yang harus dia terima.

“Memang kerjanya begini. Itu sudah jadi konsekuensinya. Disyukuri saja,” ucap ayah dua anak itu.

Dia pun juga harus siap ketika berhadapan dengan hal-hal yang membahayakan diri, semisal adanya paku berkarat maupun pegangan kaca yang rentan tertancap tubuh, atau serangan binatang seperti ular.

“Harus siap (menghadapi risiko). Yang terpenting masyarakat bisa terbantu. Kalau kita di posisi dia (warga) pasti kan juga berharap dapat pertolongan. Hitung-hitung pahala juga,” kata dia.

Di mata Wahyudin, Egy, dan mungkin ribuan petugas serta relawan yang berjibaku membersihkan sampah sisa banjir, tantangan-tantangan semacam itu tak lagi menjadi halangan dalam menunaikan tugas.

Bagi mereka, niat tulus serta kerja nyata membantu sesama yang sedang tertimpa musibah adalah prioritas utama.

Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Isnawa Adji pun mengapresiasi kinerja para petugas gabungan dan relawan yang terlibat dalam kegiatan kerja bakti.

Menurut dia, kegiatan semacam ini harus konsisten dilakukan selama musim penghujan.

Dia pun mengimbau kepada masyarakat yang wilayahnya rentan terendam banjir untuk menjaga lingkungan dan tetap waspada terhadap banjir yang datang secara tiba-tiba.

“Kita harus siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk jika terjadi cuaca seperti kemarin,” kata dia di lokasi kerja bakti. (Eko Priyanto)

(Zaenal Arifin)