Ketua Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu' tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya menyapa Maulana Syekh Dr. Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani saat bertemu sebelum Muktamar JATMAN XII di Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (14/1/2018) malam. Muktamar JATMAN ke XII di Pekalongan akan kedatangan puluhan ribu ulama dari nusantara dan dunia, juga akan kehadiran Presiden RI dan sejumlah Menteri kabinet kerja. Kabar kepastian hadirnya orang nomor satu di Republik Indonesia untuk membuka acara muktamar. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Mimpi bertemu Rasulullah Saw sangatlah diidam-idamkan dengan seluruh umat Islam di Dunia, bagaimana tidak? Setiap orang pasti ingin sekali melihat siapa yang senantiasa ia puja, ia banggakan, ia cintai.

Maulana Syekh Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani menjelaskan, bahwa mimpi bertemu baginda Nabi Muhammad Saw memiliki makna yang berbeda-beda, bergantung kepada siapa yang melihat dan rupa dari baginda Rasulullah dalam mimpinya itu.

“Barang siapa yang mimpi bertemu baginda rasulullah dan baginda dalam keadaan rupanya yang asli, maka ini menunjukkan kesempurnaan baginya. Dan barang siapa yang melihat baginda nabi SAW dalam rupa yang tidak sempurna, maka mimpi ini adalah merupakan risalah khusus untuknya agar senantiasa menyempurnakan dirinya,” ucap syekh Yusri.

Melihat baginda Rasulullah Saw dalam keadaan meninggal, berarti yang bermimpi telah mematikan salah satu dari sunah baginda, maka bersegaralah untuk muhasabah diri, sunah apakah yang telah ia tinggalkan.

“Baginda Rasulullah Saw adalah kaca dari yang melihatnya. Dan barang siapa yang melihat baginda nabi SAW dalam rupa syekhnya, maka artinya adala tetaplah ia istiqomah untuk bersamanya dan jangan pernah meninggalkannya,” terang syekh Yusri.

Allah Ta’ala telah berjanji melalui lisan Rasulullah Saw, bahwa siapa saja yang bermimpi melihat baginda Rasulullah Saw, maka ia akan melihatnya dalam keadaan sadarnya. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh imam Bukhari bahwa baginda bersabda:

مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَسَيَرَانِى فِى الْيَقَظَةِ وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِى

“Barang siapa yang melihatku dalam mimpinya, maka ia akan melihatku dalam sadarnya, dan syaitan tidak mampu untuk menyerupaiku,” (HR. Bukhari)

Mengomentari hadits diatas, Syekh Yusri berkata, “Seminimalnya adalah ia akan melihat baginda secara nyata ketika ruhnya keluar,”

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)