Medan, Aktual.com – Sejak ditingkatkan statusnya dari Siaga (III) menjadi Awas (IV), Gunung sinabung seakan tak berhenti menyeburkan awan panas dengan jarak luncur secara variatif.

Meski berstatus paling tinggi dan berbahaya, tak menyurutkan para pengungsi maupun warga sekitar Sinabung untuk mengais nafkah di daerah-daerah yang merupakan zona merah. Baik di ladang-ladang perkebunan maupun mencari batu sisa erupsi.

Menyikapi hal itu, Ketua Program Aksi Cepat Tanggap (ACT) Medan, Susanto Ginting mengatakan, sikap nekat itu didorong kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi jika hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah.

“Pemerintah hanya membantu mereka untuk makan dan minum saja, sementara untuk kebutuhan sehari-hari anak mereka ke sekolah tidak ditanggung,” ujar Susanto, Jumat (19/6).

Menurutnya, seharusnya pemenuhan kebutuhan tidak hanya sebatas logistik makanan dan minuman para pengungsi, tetapi juga harus didasarkan pada faktor sosial pada masyarakat Karo.

“Warga Karo itu setiap pagi selalu ke kedai kopi. Disitu mereka berinteraksi sosial dengan yang lainnya. Kalau mereka tak punya uang bagaimana mereka ke kedai meski sekedar minum teh saja. Ini hal kecil tapi menjadi salah satu faktor yang membuat mereka nekad pulang ke ladang untuk memetik buah kopi mereka,” imbuhnya.

Persoalan-persoalan kecil seperti itu, lanjutnya sudah menjadi keluhan bagi para pengungsi sejak lama.

“Apa dengan makan dan minum di tenda pengungsian itu cukup? tidak. Para pengungsi juga butuh biaya untuk kebutuhan sekolah anak mereka,” tandasnya.

()