Dua orang terlihat di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (31/7/2015). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari terakhir pekan ini ditutup berhasil tembus 4.800 didukung ramainya transaksi. IHSG melesat 90,04 poin atau 1,91% ke level 4.802,53. AKTUAL/TINO OKTAVIANO 

Jakarta, Aktual.com —  Pada perdagangan awal pekan ini, First Asia Capital memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dengan support pertama di 4750 dan resisten di 4820 cenderung koreksi.

“Menyusul minimnya insentif positif baik dari eksternal maupun internal, IHSG pada perdagangan hari ini rawan melanjutkan tren pelemahannya,” kata Analis First Asia Capital David Sutyanto di Jakarta, Senin (10/8).

Dari eksternal, ungkap dia, pasar akan terimbas sentimen negatif ekonomi China. Surplus perdagangan China Juli lalu menyusut menjadi USD43 miliar di bawah ekspektasi USD53,4 miliar menyusul ekspor China turun 8,3% (yoy) dan impor turun 8,1% (yoy). Indeks harga produser China Juli lalu juga turun 5,4% (yoy), lebih besar dari perkiraan yang turun 5% dan bulan sebelumnya turun 4,8%.

Ia menambahkan, IHSG akhir pekan lalu kembali terkoreksi, gagal bertahan di atas level 4800, tutup koreksi 36,261 poin (0,75%) di 4770,303. Koreksi terutama dipicu sejumlah saham unggulan sektoral terutama yang bergerak di perbankan dan infrastruktur.

Pelaku pasar mengkhawatirkan depresiasi rupiah atas dolar AS yang pekan lalu telah berada di atas Rp13500 dan turunnya cadangan devisa akhir Juli USD750 juta berada di USD107,55 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Ini merupakan penurunan selama lima bulan berturut-turut dan terendah sejak Juni 2014. Penurunan cadangan devisa menambah buruknya potret perekonomian domestik sepanjang tahun ini hingga Juli lalu,” terangnya.

Dilihat sepekan terakhir, IHSG terkoreksi 0,67% melanjutkan koreksi pekan sebelumnya 1,11%. Sedangkan rupiah atas dolar AS melemah 0,41% sepekan terakhir di Rp13536. Perlambatan ekonomi domestik dan pencapaian laba 2Q15 emiten sektoral yang di bawah estimasi menjadi sentimen negatif pasar selama pekan kemarin. Dari eksternal, tekanan pasar datang dari data ekonomi China yang mengindikasikan perlambatan.

Sementara Wall Street akhir pekan kemarin kembali melanjutkan tren pelemahannya. Indeks DJIA dan S&P selama sepekan masing-masing koreksi 1,79% dan 1,25% tutup di 17573,38 dan 2077,57. Sentimen pasar yang menekan Wall Street pekan kemarin terutama dipicu sentimen individual terkait kinerja 2Q15 sejumlah emiten yang di bawah ekspektasi dan penurunan harga minyak mentah yang kembali menekan saham sektor energi. Data tenaga kerja di AS yang bertambah 215 ribu Juli lalu dengan tingkat pengangguran 5,3% kembali memicu spekulasi The Fed akan menaikkan tingkat bunganya untuk pertama kali sejak 2006 lalu pada September mendatang.

“Harga minyak mentah akhir pekan kemarin kembali anjlok di USD44,31/barrel. Sepekan kemarin harga minyak mentah di AS telah anjlok 6,2%,” tutupnya.

(Eka)