Jakarta, Aktual.co — Upaya pemerintah Australia agar Indonesia tidak mengeksekusi mati dua terpidana narkoba asal ‘Negeri Kangguru’ tersebut kian gencar. Terbaru, Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengingatkan Presiden Joko Widodo soal jasa Australia ketika bencana Tsunami melanda Indonesia pada 2006.
“Saya akan mengatakan kepada orang-orang Indonesia dan Pemerintah Indonesia, Kami di Australia selalu ada untuk membantu Anda, dan kami berharap bahwa Anda mungkin membalas,” ujar Tony, sebagaimana dikutip dari Reuters, belum lama ini.
Tony menuturkan, ketika peristiwa bencana alam yang meluluhlantahkan Aceh tersebut, Australia menggelontorkan AUD 1 miliar.
“Saya tidak ingin merugikan hubungan terbaik dengan seorang teman yang sangat penting dan tetangga. Tapi saya harus mengatakan bahwa kita tidak bisa mengabaikan hal semacam ini,” tegas dia.
Abbot dan Sekjen PBB, Jenderal Ban Ki-Moon sebelumnya, telah meminta kepada Indonesia untuk tidak mengeksekusi para tahanan untuk kejahatan narkoba, juga di antara mereka terdapat warga Brazil, Perancis, Ghana, Indonesia, Nigeria dan Filipina.
Namun demikian, seperti diketahui Presiden Joko Widodo telah menolak memberikan grasi terhadap para terpidana mati tersebut.
Australia dan Indonesia sendiri, memiliki sejarah panjang ketegangan diplomatik, yang secara berkala rumit kerjasama mengenai isu-isu regional, termasuk penyelundupan manusia dan penyadapan.
Indonesia memanggil pulang Dubes-nya dan membeku kerjasama militer dan intelijen pada 2013 setelah laporan bahwa Canberra telah memata-matai para pejabat Indonesia, termasuk istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kerjasama diplomatik penuh dipulihkan Mei lalu, namun Menteri Luar Negeri Julie Bishop bulan lalu menolak untuk mengesampingkan menarik Duta Australia dari Jakarta jika eksekusi mati tetap dilakukan. (Laporan: Nebby Mahbirahman).
Artikel ini ditulis oleh:

















