Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhyiddin Yassin
Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhyiddin Yassin

Putrajaya, Aktual.com – Presiden merangkap Ketua Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) Muhyiddin Yassin mengatakan lima orang bekas anggota Bersatu dikeluarkan dari partai itu bukan karena dipecat tetapi otomatis keluar karena melanggar aturan partai.

“Mereka tidak dipecat dari partai. Sebaliknya, perbuatan mereka melanggar peraturan partai telah menyebabkan keanggotaan mereka terhenti dengan serta merta,” ujar Muhyiddin dalam pernyataan pers di Putrajaya, Sabtu (30/5)

Muhyiddin mengharapkan anggota-anggota Bersatu dapat bersabar dan tenang dalam menghadapi situasi terlucutinya keanggotaan lima orang bekas anggota Bersatu.

Kelima orang itu adalah Mahathir Mohamad, Mukhriz Mahathir, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, Amiruddin Hamzah dan Maszlee Malik.

“Saya sendiri tidak mengambil tindakan terburu-buru walaupun terdapat banyak desakan supaya tindakan terhadap mereka diambil lebih awal. Saya mau berlaku adil kepada semua pihak dan memastikan apa saja tindakan yang dibuat mestilah berlandaskan aturan partai. Tidak ada siapa pun individu yang di atas aturan partai,” katanya.

Muhyiddin yakin dan percaya Bersatu akan terus teguh karena partai tersebut telah menghadapi banyak tantangan sejak didirikan.

“Kita telah menempuh banyak duri dan ranjau dalam perjuangan. Yang penting kita tidak berjuang demi siapa pun individu, tetapi demi agama, bangsa dan negara kita,” katanya.

Muhyiddin menyatakan berduka atas pilihan yang dibuat Mahathir, untuk tidak berada bersama Bersatu dalam wadah dan haluan perjuangan partai seperti yang telah diputuskan oleh Majelis Pimpinan Tertinggi.

“Tun bersama pengikutnya yang lain memilih untuk terus bekerja sama dengan Pakatan Harapan walaupun partai memutuskan sebaliknya. Jika itu pilihan Tun, saya ucapkan selamat maju jaya. Marilah kita rapatkan saf bersama saya untuk terus memperkukuh pemerintah yang telah kita tumbuhkan demi masa depan Malaysia yang lebih aman dan sejahtera,” katanya, saat menyebut nama Mahathir dengan “Tun”.

Sementara itu dalam surat pemecatan Mahathir pada 15 Mei 2020, disebutkan bahwa kedudukan Mahathir di parlemen adalah di blok yang tidak mendukung pemerintah Perikatan Nasional, yang dipimpin Perdana Menteri Muhyiddin Yassin merangkap Presiden Partai Bersatu.

Dalam sidang parlemen pada 18 Mei 2020, Mahathir juga terlihat duduk bersama partai oposisi.