Denpasar, Aktual.com – Hari Raya Nyepi, yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu Bali, memiliki tradisi unik. Tradisi itu adalah, mengarak ogoh-ogoh raksasa yang mereka buat.

Ogoh-ogoh yang dibuat oleh masyarakat Hindu Bali, biasanya menyimbolkan sifat jahat yang dikalahkan oleh sifat baik.

Namun, ketika adanya rencana untuk mereklamasi Teluk Benoa di Bali, masyarakat setempat pada perayaan Nyepi tahun ini, banyak membuat ogoh-ogoh dengan tema reklamasi.

Untuk diketahui, sebagian besar masyarakat Pulau Dewata itu, menolak keberadaan reklamasi Teluk Benoa.

Ogoh-ogoh dengan tema penolakan reklamasi tersebut, bermunculan di berbagai daerah di Bali. Seperti di Jalan Gunung Agung, pemuda yang tergabung dalam Pemuda Tanah Abu, membuat ogoh-ogoh bertema serupa.

Yudha, seorang pemuda yang mengonsep ogoh-ogoh tersebut menjelaskan, ogoh-ogoh yang dibuatnya menyimbolkan ketamakan investor terhadap reklamasi Teluk Benoa. Ogoh-ogoh yang dibuatnya yakni berupa patung tikus raksasa, di mana di tangannya menggenggam sebuah eskavator.

“Ogoh-ogoh kami bertema ‘tolak reklamasi’. Ini memang sengaja dibuat untuk menyampaikan aspirasi kami dalam penolakan reklamasi Teluk Benoa. Ini sebagai bentuk kecintaan kami terhadap Bali,” kata Yudha, Selasa (8/3).

Tak hanya di Denpasar, di Kabupaten Badung, tepatnya di Banjar Kancil, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, pemuda yang tergabung dalam Sekaa Teruna-Teruni (STT) Eka Dharma Canthi juga membuat ogoh-ogoh serupa. Ogoh-ogoh yang merupakan Jogormanik tengah mematahkan eskavator itu diberi tema “Sang Jogormanik Tolak Reklamasi”.

Ketua ST Eka Dharma Canthi, I Komang Sukra Wijaya menuturkan, Jogormanik merupakan Dewa yang bertindak mengadili perilaku buruk dari manusia. Ogoh-ogoh itu menyimbolkan jika rencana reklamasi Teluk Benoa merupakan perilaku tak baik bagi lingkungan alam Bali.

“Kami tidak memiliki kepentingan politis dengan ogoh-ogoh ini. Ini murni aspirasi kami agar alam Bali dijaga dan tidak dirusak,” ucap Koman Sukra.

()