Pelajar membakar sepeda motor dan rambu lalu lintas saat berdemonstrasi di belakang Gedung DPR, Palmerah, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Selain membakar sejumlah benda, para pelajar juga melempari Gedung DPR dengan batu. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Ketua Forum Osis DKI Jakarta Alvinaldy Fitrah, mengharapkan agar pelajar Indonesia menggunakan momentum aksi pelajar sebagai langkah awal menunjukkan eksistensi pelajar untuk berpendapat di ruang publik.

“Kami pelajar juga punya hak-hak politik dan suara. Ini merupakan momentum bagi pelajar untuk kembali didengar oleh negara,” kata Alviandy saat mengikuti acara ‘Santuy (Banget)’ di area Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Jumat (4/10).

Ia pun menambahkan harapannya agar tidak ada lagi pemisahan antara STM, SMK, dan SMA atau pun pendidikan menengah atas sederajat.

Alviandy pun mengharapkan semakin banyak kegiatan positif yang dilakukan oleh pelajar-pelajar Indonesia sehingga stigma negatif masyarakat tentang pelajar yang anarkis tidak terjadi lagi.

“Agar masyarakat luas memandang pelajar bukan cuma turun ke jalan saja dan demonstrasi. Tapi ada juga pelajar yang bersatu. Kami melakukan aksi secara damai,” kata Alviandy.

Ia mencontohkan salah satu kegiatan yang positif adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan ketertiban sosial.

Forum Osis DKI Jakarta termasuk ke dalam bagian kelompok Aktivi (Z) yang terdiri dari pelajar- pelajar SMA yang mengikuti kegiatan bertajuk aksi ‘Santuy (Banget)’ untuk membersihkan coretan- coretan yang
tersisa di fasilitas publik pascademo ricuh lalu.

Para peserta aksi ini menilai kegiatan mengecat tembok yang penuh coretan pascademo itu merupakan cara mereka mengekspresikan pendapat mereka sebagai masyarakat Indonesia.

“Iya ini salah satu bentuk kita juga buat tunjukkan aspirasi kita, kita sih sukanya aksi yang ‘santuy’,” kata salah satu peserta aksi ‘Santuy (Banget)’ bernama Karlo saat ditemui di lokasi yang akan mereka cat.

Mereka belum bersedia merinci, berapa anggaran yang disiapkan untuk melakukan kegiatan itu seperti untuk pembelian cat dan lainnya, termasuk sumber dananya.

Sebelumnya, aksi demo yang berakhir ricuh di depan DPR meninggalkan banyak kerusakan fasilitas umum termasuk coretan di tembok- tembok dekat dengan jalan utama yang sering dilewati kendaraan umum.

Contohnya seperti coretan di tembok bekas pembangunan monorail di Jalan Asia Afrika banyak yang tercoret dengan tulisan ‘Save KPK’, ataupun ‘DPR 4.0’.

Ant.

(Zaenal Arifin)