“Perlu dipastikan, sampai saat ini belum ada kegiatan penambangan di sana. Banyak berita kita sudah melakukan penambangan. Belum ya. Karena kami sebagai BUMN pasti memantuhi aturan,” jelas dia.

Di tempat terpisah, pendamping masyarakat yang pro pabrik semen Rembang dari Forum Kyai Muda se-Jawa Tengah, Anis Maftuhin menegaskan, dari hasil pertemuan dengan Teten Masduki tida‎k ada pernyataan bahwa Presiden Joko Widodo meminta SMGR menghentikan kegiatan penambangan.

“Sekarang saja belum melakukan penambangan di sana, bagaimana mau menghentikan kegiatan penambangan. Pak Teten kemarin tidak bilang untuk menghentikan,” tutur Anis.

Dirinya justru merasa aneh banyak waga yang kontra, padahal penambangan di Gunung Kendeng itu sudah terjadi selama 20 tahun sebelum SMGR datang, tapi malah tak ditolak.

“Makanya kita sampaikan semua fakta ke Pak Teten. Selama ini, dia kurang informasi. Kami ini silent majority yang pro semen Rembang. Tapi yang kontra selalu demo, seolah-olah yang anti jumlahnya besar,” tutur dia.

Kemarin, Teten meminta kepada para penolak pengoperasian pabrik semen di Pegunungan Kendeng, untuk menghentikan aksi demo mereka hingga ada hasil KLHS. Katanya, pemerintah memerlukan waktu untuk melakukan analisis lingkungan. Dan akan menyatakan hasil KLHS April 2017 nanti.

“Ini yang sedang dilakukan KLHS, sehingga kita menghendaki semuanya menunggu dulu hasil KLHS selesai, baru kita lebih mudah ambil keputusan. Meski itu harus dibicarakan antara Kementerian BUMN, KLH, dan Pemda,” ucap Teten. (*)

(Laporan: Busthomi)

()

(Eka)