3 April 2026
Beranda blog Halaman 22

Silaturahmi dengan Muhammadiyah Jaksel, HNW Soroti Peran Ijtihad untuk Kemajuan Bangsa

Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI Hidayat Nur Wahid didampingi Ketua PP Muhammadiyah tahun 2005-2015 Prof. Din Syamsudin, Rektor UTM Jakarta Prof. Agus Suradika, Ketua PDM Jakarta Selatan Dr. Edi Sukardi, bersama pengurus dan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah se Jakarta Selata, saat Silaturahim Idul Fitri 1447H bersama PD Muhammadiyah Jakarta Selatan. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI Hidayat Nur Wahid mengungkapkan bahwa tradisi Halal bi Halal yang kini menjadi bagian yang diterima dan tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat, dan laku sosial yang bermanfaat.

HNW sapaan akrabnya menyebutkan itu adalah salah satu warisan ijtihad dari kalangan Muhammadiyah dengan hadirkan terminologi yang awalnya dipopulerkan oleh Rahmad warga Muhammadiyah dari Gombong Jawa Tengah yang menuliskannya dalam Majalah Soeara Moehammadijah edisi 5 tahun 1924 dalam rubrik khusus yang memfasilitasi pembaca untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus menjalin silaturahmi melalui media massa, dengan menggunakan istilah “Alal Bihalal”. Yang kemudian pada jelang Idul Fithri tahun 1926, majalah Soeara Moehammadijah itu menampilkan iklan terkait dengan istilah yang sekarang populer yaitu “Halal bil Halal”

“Maka tradisi yang dengan sebutan “Halal bi Halal” yang kita kenal hari ini tidak lepas dari peran (warga) Muhammadiyah yang mempopulerkan istilah tersebut dalam kehidupan umat, sebagai bagian dari upaya menghadirkan Islam yang mencerahkan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Hidayat dalam agenda Silaturahim Idul Fitri 1447H bersama PD Muhammadiyah Jakarta Selatan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PP Muhammadiyah tahun 2005-2015 Prof. Din Syamsudin, Rektor UTM Jakarta Prof. Agus Suradika, Ketua PDM Jakarta Selatan Dr. Edi Sukardi, bersama pengurus dan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah se Jakarta Selatan.

Hidayat yang juga merupakan Penasihat PD Muhammadiyah Jakarta Selatan menambahkan, dalam perjalanan sejarahnya, tepatnya pada tahun 1948, istilah Halal bi Halal kemudian diadopsi dalam konteks kebangsaan. KH Wahab Hasbullah pada tahun 1948 merespons permintaan Presiden Soekarno yang meminta diselenggarakannya event yang menarik kehadiran para tokoh bangsa selain dengan istilah “Silaturahim”.

Beliau mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk menggunakan istilah Halal bi Halal untuk dapat mempertemukan dan mendamaikan para tokoh bangsa yang saat itu tengah mengalami ketegangan politik. Presiden Soekarno menerimanya dan jadilah ia tradisi yang berlaku di istana negara khususnya dan di Indonesia umumnya.

“Momentum Halal bi Halal pada masa awal kemerdekaan menjadi sarana strategis untuk mempererat persatuan melawan politik devide et imperanya kolonialis Belanda. Ini menunjukkan bahwa tradisi keislaman dapat diterima, dilanjutkan dan berkontribusi besar dalam menjaga keutuhan bangsa, dan mempererat ukhuwah tali persaudaraan di antara para Pimpinan Bangsa dan sesama warga Bangsa,” jelasnya.

Menurut Hidayat, momentum Halal bi Halal pada tahun ini memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya sebagai tradisi sosial-keagamaan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi permasalahan global, termasuk agenda besar tahunan Umat Islam pasca Ramadhan, yakni Ibadah Haji.

“Tahun ini pertama kali penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia dilaksanakan oleh Kementerian Haji dan Umrah. Sebagai hasil perjuangan kami di Komisi VIII, tentu diharapkan dapat menghadirkan penyelenggaraan yang lebih baik, profesional, terbebas dari kasus hukum, dan berorientasi pada kemaslahatan jamaah, dan itu semua harus berbasiskan kepada prinsip yang “halal” dan dilakukan dengan “bil halal”. Agar tak terjadi lagi kasus Menteri Agama yang bermasalah dengan KPK,” tegas HNW.

“Komitmen perbaikan penyelenggaraan haji dulunya ternyata juga dimulai oleh Muhammadiyah. Ketika KH A Dahlan melakukan tuntutan perbaikan penyelenggaraan Haji dengan Ordonansi Haji dengan kemudian membentuk Bagian Penolong Haji pada tahun 1922, yang langsung diketuai oleh murid beliau KH M Sudja”, sambungnya.

Selain itu, Hidayat juga mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum Halal bi Halal sebagai sarana memperkuat solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina, juga untuk menyelamatkan masjid Al Aqsha. Sikap yang dalam konteks Indonesia, ternyata juga diawali oleh kader muda Muhammadiyah yang nantinya menjadi Bapak Bangsa dan Pahlawan Nasional yaitu Abdul Kahar Mudzakkir.

Saat itu tahun 1931,beliau masih berusia 24 tahun, tapi sudah dipercaya oleh Mufti Jerusalem asSayyid M Al Amin alHusaini, untuk memperjuangkan Palestina dan Masjid Al Aqsha dalam Konferensi Dunia Islam di Al Quds, di mana Kahar Mudzakkir bahkan dipercaya menjadi “Katib”/Sekretarisnya.

“Saat-saat sekarang ini Palestina (Gaza, Tepi Barat) nasibnya bukan makin damai, makin baik, tapi bahkan dengan diberlakukannya perang Israel & AS atas Iran, kondisi mereka makin parah. Perdamaian makin jauh saja,” ungkap Hidayat.

Apalagi ketika militer Israel menutup masjid Al Aqsha sejak awal perang Israel & AS dengan Iran. Peristiwa yang baru kali ini terjadi sejak pendudukan di wilayah Al Quds pada 1967 oleh Israel, untuk pertama kalinya salat Tarawih, I’tikaf, sholat Jumat dan salat Idulfitri dilarang diselenggarakan di Masjid Al Aqsa. Dan penutupan tersebut masih berlangsung hingga bulan Syawal, hingga tanggal 15 April 2026.

Bila tidak ada solidaritas global yang kuat dan tekanan lembaga-lembaga internasional yang efektif, maka bisa jadi penutupan masjid Al Aqsha akan permanen, bahkan masjid kiblat pertama umat Islam itu akan dirobohkan diganti dengan Solomon Temple, sesuai program zionis untuk wujudkan klaim negara Israel Raya. Dan bila itu terjadi maka cita-cita hadirkan negara Palestina habis sudah karena tidak akan bisa diwujudkan.

“Karena itu, Halal bi Halal juga harus menjadi momentum untuk kembalinya umat Islam pada fitrahnya yaitu dengan memperkuat solidaritas terhadap Masjid Al Aqsha dan dukungan bangsa Indonesia untuk penyelamatan Masjid Al Aqsha dan kemerdekaan Palestina, melanjutkan apa yang dulu sudah diperjuangkan oleh Prof Dr. KH Abdul Kahar Mudzakkir, kader muda Muhammadiyah, yang menjadi anggota BPUPK, Panitia 9, dan kemudian menjadi Bapak Bangsa dan Pahlawan Nasional,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt

Pemeriksaan Penting Mobil Listrik dan Hybrid Pasca Mudik

Jakarta, Aktual.com – Perjalanan mudik Lebaran menempuh ratusan kilometer memberikan tekanan ekstra pada semua jenis kendaraan, termasuk mobil listrik (EV) dan hybrid. Setelah digunakan, pemeriksaan menyeluruh menjadi kunci agar kendaraan tetap aman, nyaman, dan siap digunakan kembali dalam rutinitas harian.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menekankan pentingnya pengecekan komponen utama pasca-mudik. “Pada mobil hybrid seperti HEV dan PHEV, seluruh pemeriksaan mobil konvensional tetap berlaku mulai dari ban, rem, hingga kaki-kaki, tetapi perlu tambahan perhatian pada sistem kelistrikan dan baterai,” ujar Yannes, Sabtu (29/03/2026).

Yannes menyarankan pemilik mobil untuk memeriksa kondisi aki 12V serta melakukan pemindaian (scan) jika indikator peringatan muncul di panel. Sistem pendinginan baterai, termasuk kipas dan jalur sirkulasi udara di kabin, juga harus diperiksa. “Kabin yang penuh penumpang selama mudik dapat meningkatkan suhu dan membawa debu, sehingga berpotensi mengganggu kinerja sistem,” jelasnya.

Selain itu, sistem pengereman mobil hybrid perlu dicermati. Dalam beberapa kondisi, rem mekanis bekerja lebih keras ketika regenerative braking tidak optimal. “Untuk PHEV, pastikan port charging dan kabel dalam kondisi bersih dan aman,” tambahnya.

Bagi mobil listrik murni (BEV), perhatian utama terletak pada bagian bawah kendaraan. Bobot baterai yang besar menurunkan ground clearance, sehingga risiko benturan pada pelindung baterai meningkat. “Inspeksi underbody menjadi sangat penting untuk memastikan tidak ada kerusakan,” kata Yannes. Sistem pendinginan baterai wajib dicek, terutama jika kendaraan menggunakan fast charging selama perjalanan mudik. Pemilik juga harus memastikan port pengisian berfungsi normal dan aki 12V tetap prima.

Ban dan sistem pengereman EV juga memerlukan perhatian khusus. Ban cenderung lebih cepat aus karena bobot yang lebih berat, sementara rem jarang digunakan akibat regenerative braking sehingga rawan karat atau seret jika tidak diperiksa.

Sebelumnya, PT PLN (Persero) memastikan kesiapan jaringan pengisian kendaraan listrik untuk mudik Lebaran 2026 dengan menyiapkan 4.769 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di 3.097 titik strategis.

EVP Niaga dan Pemasaran PLN, Nayusrizal, menyatakan, “Dengan kesiapan infrastruktur dan layanan yang kami siapkan, masyarakat dapat merasakan pengalaman mudik dengan kendaraan listrik yang aman, nyaman, dan bebas hambatan.”

PLN memproyeksikan sekitar 23 ribu kendaraan listrik akan digunakan saat mudik Lebaran 2026, meningkat 1,6 kali lipat dari tahun sebelumnya. Untuk jalur Sumatra–Jawa–Bali, 1.681 SPKLU ditempatkan di 994 titik dengan jarak rata-rata antar SPKLU 22 kilometer. Lebih dari 5.000 personel siaga 24 jam dan 15 unit SPKLU Mobile siap membantu EV yang kehabisan daya di perjalanan.

Dengan melakukan pengecekan komponen penting dan memanfaatkan dukungan infrastruktur, pemilik mobil listrik dan hybrid dapat kembali menggunakan kendaraannya dalam aktivitas harian dengan performa optimal, keselamatan terjaga, dan kenyamanan maksimal.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Usai Mudik, Cek Komponen Ini Agar Mobil Tetap Prima

Jakarta, Aktual.com – Libur Lebaran telah usai, dan masyarakat yang menggunakan mobil untuk mudik disarankan melakukan pemeriksaan menyeluruh agar kendaraan tetap prima saat kembali menjalani rutinitas pekerjaan. Pemeriksaan ini penting untuk menjaga performa, kenyamanan, dan keselamatan berkendara pasca-perjalanan jauh.

Auto2000 memberikan sejumlah tips komponen yang wajib diperiksa. Pertama, ban mobil. Perjalanan mudik dengan muatan maksimal dan berbagai kondisi jalan membuat ban bekerja ekstra. Pastikan telapak ban tidak aus, bersihkan kerikil yang menempel, dan cek dinding ban dari benjol atau sobek. Ban yang tidak layak harus segera diganti.

Selain itu, kolong mobil perlu diperiksa, termasuk shock absorber, karet penyangga, selang rem, kampas rem, dan tromol. Waspadai kebocoran pada selang rem dan pastikan sistem pengereman bekerja optimal. Oli mesin dan minyak rem juga harus diperiksa; perubahan warna atau endapan menandakan potensi masalah.

Komponen cairan lain seperti air radiator, minyak kopling, air aki, air pembersih kaca, oli transmisi, dan minyak power steering hidrolis harus dicek agar volumenya sesuai standar pabrikan. Panel instrumen perlu diperiksa dengan menyalakan mesin dan mendengar suara aneh. Jika terdengar indikasi kerusakan, mobil sebaiknya dibawa ke bengkel resmi. Kabin mobil juga perlu dibersihkan menyeluruh, termasuk karpet, rongga, dan kolong kabin, agar nyaman digunakan kembali.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menekankan pentingnya pemeriksaan kendaraan setelah perjalanan mudik jarak jauh, terutama di atas 500 kilometer dengan beban berlebih. “Fokus utama ada pada ban, rem, dan kaki-kaki karena tiga komponen ini yang paling menerima tekanan,” kata Yannes, Sabtu (29/03/2026).

Yannes menambahkan, sistem pengereman harus mendapat perhatian serius. Jika pedal rem terasa lembek, muncul bunyi, getaran, atau bau gosong, pemeriksaan lanjutan wajib dilakukan. Mobil yang bergetar perlu segera dilakukan spooring dan balancing. Komponen kaki-kaki seperti shock absorber, bushing, dan ball joint juga cenderung aus akibat beban mudik.

Mesin dan transmisi juga bekerja ekstra, sehingga pemeriksaan oli, filter, radiator, dan sistem pendingin sangat penting untuk mencegah overheat. Filter udara perlu diperiksa agar performa mesin tetap optimal, dan pada transmisi otomatis, gejala perpindahan gigi yang terlambat atau menghentak harus diwaspadai.

Dengan pemeriksaan menyeluruh, mobil tidak hanya siap digunakan kembali dalam rutinitas pekerjaan, tetapi juga tetap nyaman dan aman bagi pengemudi serta penumpang.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Pengamat: Kasus Penyerangan Andrie Yunus Harus Tuntas, Indonesia Harus Kita Rawat

Jakarta, Aktual.com – Analis politik dan militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting, menekankan bahwa kasus penyerangan aktivis KontraS, Andrie Yunus, dengan air keras pada pertengahan Maret 2026 harus dituntaskan secara adil dan transparan. Menurutnya, penegakan hukum tegas penting tidak hanya bagi korban, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.

“Dalam negara hukum, tidak ada ruang bagi tindakan kekerasan yang melanggar martabat kemanusiaan. Setiap pelaku harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Penegakan hukum tegas bukan hanya penting bagi korban, tetapi juga menjadi fondasi utama bagi kepercayaan publik terhadap negara,” kata Selamat, Minggu (29/03/2026).

Selamat menekankan pentingnya membedakan tanggung jawab individu dengan kehormatan institusi. Kasus ini harus ditempatkan sebagai perbuatan personal sebelum menilai seluruh institusi, termasuk TNI, dengan prinsip praduga tak bersalah yang harus dijunjung tinggi.

“Tidak adil apabila sebuah institusi yang menjadi pilar pertahanan negara diseret dalam penilaian publik sebelum ada fakta hukum yang jelas. Profesionalisme TNI ditunjukkan melalui dukungan mereka pada proses hukum yang berjalan dan menegakkan disiplin internal tanpa memberikan ruang bagi pelanggaran,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengunduran diri Letjen Yudi Abrimantyo dari jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI sebagai bentuk tanggung jawab pribadi dan upaya menjaga kehormatan institusi.

Selamat juga menekankan peran masyarakat dalam mengawal kasus ini. Kritik dan pengawasan publik merupakan bagian dari demokrasi, tetapi harus dilakukan secara rasional dan bertanggung jawab agar tidak menimbulkan delegitimasi institusi negara.

Lebih jauh, ia menyinggung dinamika global, termasuk tuduhan aktivis sebagai “agen asing,” yang kerap digunakan di berbagai negara untuk membenarkan tindakan represif, seperti di Iran awal 2026 maupun kasus Tiananmen 1989 di Tiongkok. Narasi provokatif semacam ini dapat memperkeruh suasana dan mengancam kohesi sosial.

“Kasus Andrie Yunus bukan sekadar peristiwa kriminal, tetapi juga cerminan bagaimana bangsa merespons. Menuntaskan hukum harus sejalan dengan menjaga keutuhan institusi negara,” jelasnya.

Selamat menegaskan bahwa penegakan hukum dan pemeliharaan kehormatan institusi harus berjalan bersamaan.

“Indonesia adalah rumah bersama yang harus kita rawat. Keadilan hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, sementara institusi negara yang tidak terlibat tetap dijaga kehormatannya. Dengan sikap adil dan rasional, hukum berjalan tanpa mengorbankan persatuan nasional,” pungkasnya.

Kata Kunci:

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

RI Perlu Exit Strategy Keluar dari Krisis Selat Hormuz dan Bangun Kepercayaan Iran

Gambar ilustrasi ranjau laut Iran yang siap disebar di Selat Hormuz jika Israel atau AS kembali menyerang Iran - foto X

Jakarta, Aktual.com – Pengamat politik internasional Pizaro Gozali Idrus menilai Indonesia perlu menyusun exit strategy yang jelas. Dan menunjukkan keberpihakan diplomatik kepada Iran, untuk menghadapi krisis yang terjadi di Selat Hormuz akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Kondisi ini berujung pada terganggunya lalu lintas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia, yang secara historis menjadi rute transit sekitar 30 % pasokan minyak global. Gangguan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu penyebab melonjaknya harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian pasar energi internasional.

“Indonesia gak punya banyak pilihan dalam mencapai exit strategy untuk menembus Selat Hormuz,” ujar Pizaro kepada Aktual.com, Minggu (29/03/2026).

Menurut Pizaro, posisi diplomatik Indonesia selama ini dinilai kurang kuat di mata Iran. Jakarta cenderung ragu untuk memperdalam kerja sama energi dengan Teheran karena kekhawatiran terhadap sanksi dari Amerika Serikat. Sementara respons diplomasi terhadap dinamika internal Iran belum menunjukkan hasil signifikan dalam membuka akses pelayaran bagi kapal Indonesia.

Pizaro membandingkan situasi tersebut dengan pengalaman India dan Pakistan yang berhasil menjaga hubungan dengan berbagai pihak sekaligus mendapatkan izin melintasi Selat Hormuz. India, misalnya, membangun hubungan strategis jangka panjang, termasuk pengembangan Pelabuhan Chabahar dengan dukungan tingkat tinggi antara kepala negara, sehingga kapal-kapalnya tetap bisa melintas.

Hal ini menurut Pizaro karena Teheran melihat adanya sinyal diplomatik yang kuat dari New Delhi.

“Jadi Iran masih membutuhkan bukti kalau Indonesia berpihak kepada mereka,” kata Pizaro.

Atasa dasar itu ia menekankan, bahwa masalah akses jalur strategis tersebut perlu ditangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Karena menurutnya upaya diplomasi di tingkat menteri belum cukup untuk menghasilkan perubahan signifikan terhadap keputusan Teheran.

Sehingga komunikasi langsung di level tertinggi diperlukan untuk membangun kepercayaan, dan memperkuat posisi Indonesia di tengah ketegangan geopolitik yang semakin tajam.

Krisis Selat Hormuz juga berdampak luas pada perekonomian global, terutama dalam stabilitas pasokan energi dan harga komoditas, sehingga negara-negara importir energi seperti Indonesia perlu memastikan strategi mitigasi yang matang untuk melindungi ketahanan energi nasional.

“Pendekatan seimbang dan komunikasi di level tertinggi adalah kunci utama bagi negara yang ingin mengamankan kepentingannya di jalur perdagangan internasional yang strategis,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Trump Hina MBS, Sebut Harus Menjilat AS di Tengah Ketegangan Global

Jakarta, aktual.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tertangkap melontarkan pernyataan kontroversial yang bernada merendahkan terhadap Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), di tengah hubungan erat kedua negara.

Pernyataan itu muncul dalam rekaman yang disiarkan oleh C-SPAN, saat Trump berpidato dalam forum Saudi Investors Forum di Miami pada 27 Maret.

Dalam pidatonya, Trump kembali menyinggung berbagai pencapaiannya selama menjabat, sekaligus melontarkan pujian kepada MBS sebagai pemimpin de facto Arab Saudi.

“Dia memiliki sekitar 700 gelar dan saya katakan bahwa dia memiliki lebih banyak gelar daripada manusia mana pun. Dia pantas mendapatkannya karena dia adalah seorang pemenang.”

Namun, nada pidato itu berubah ketika Trump menyiratkan bahwa posisi MBS kini bergantung pada hubungan dengan Amerika Serikat.

“Dia tak menyangka ini bakal terjadi. Dia tak menyangka sekarang harus mencium pantat saya. Dia kira saya seperti presiden Amerika lain yang merupakan pecundan di negara yang sedang terpuruk,” kata Trump menggunakan istilah Inggris yang menggambarkan penjilat.

Ia juga menegaskan bahwa MBS harus menjaga hubungan baik dengan dirinya di tengah situasi geopolitik saat ini.

“Serang di harus baik-baik dengan saya. Bilang sama dia sekarang dia harus baik-baik dengan saya,” kata Trump ditingkahi gelak tawa peserta forum.

Dalam kesempatan yang sama, Trump turut menyinggung kemungkinan perluasan normalisasi hubungan negara-negara Teluk dengan Israel melalui skema Perjanjian Abraham.

“Saya bilang ‘Muhammad… kami sudah mengalahkan mereka (Iran) dan sekarang kita harus mewujudkan Perjanjian Abraham,” ujar Trump.

Di sisi lain, ketegangan kawasan terus meningkat. Serangan Iran terhadap pangkalan militer di Arab Saudi dilaporkan melukai sejumlah tentara Amerika. Laporan dari The New York Times dan The Wall Street Journal menyebut serangan tersebut melibatkan rudal dan drone yang menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan.

Dalam insiden itu, beberapa pesawat pengisian bahan bakar udara mengalami kerusakan. Total korban dari pihak militer AS sejak konflik meningkat dilaporkan mencapai belasan orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Sementara itu, situasi geopolitik masih belum stabil. Trump mengklaim bahwa proses perundingan damai sedang berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran. Di saat bersamaan, Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan mengerahkan tambahan pasukan dan armada perang.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain