6 April 2026
Beranda blog Halaman 36364

Tentara Thailand Didakwa Tembak Mati Dua Rekannya

Jakarta, Aktual.co —  Polisi Thailand mengungkapkan bahwa seorang tentara Thailand didakwa membunuh sesudah menembak mati dua rekannya di asrama tentara di daerah bergolak selatan.

Lebih dari 6.300 orang, sebagian besar warga, tewas dalam lebih dari satu dasawarsa perang tentara dan polisi dengan pemberontak, yang memperjuangkan swatantra lebih besar untuk berpenduduk sebagian besar suku Melayu, yang berbatasan dengan Malaysia.

Seorang tentara 57 tahun dari propinsi selatan, Phatthalung, pada Jumat menembaki asrama di kabupaten Yaring, propinsi Pattani, menewaskan dua tentara lain, kata kepala polisi setempat Montri Kongwatmai kepada AFP.

“Tentara itu membunuh dua tentara lain dan kemudian menyerah,” katanya, “Penyelidikan kami menunjukkan bahwa ia memiliki masalah pribadi dengan mereka.”

Tentara itu dituduh membunuh dan akan diadili di mahkamah tentara, tambah Montri.

Pada November, panglima tentara negara itu memperingatkan bahwa tekanan atas pasukan di selatan memerlukan dukungan lebih baik sesudah seorang wajib militer menembak mati empat petugas sebelum menembak dirinya.

Diperkirakan, 60.000 tentara dan polisi di daerah itu hampir tiap hari menghadapi serangan bom jalanan dan penyergapan dari kelompok pemberontak gelap. Mereka berbaur dengan masyarakat terpencil, yang pada umumnya menentang pemerintah Thailand, sebagian besar suku Siam, yang menjajah wilayah tersebut lebih dari seabad lalu.

Sementara sering menjadi sasaran serangan, pasukan keamanan juga dituduh melakukan pelanggaran luas hak asasi manusia atas warga berbudaya berbeda di selatan.

Itu termasuk pembunuhan warga dalam serangan atas terduga tempat persembunyian pegaris keras.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Motor Antik Tanpa Surat Terjaring Operasi “Jaran Intan”

Jakarta, Aktual.co —   Operasi “Jaran Intan” yang dilaksanakan jajaran Kepolisian Resor Banjar, Kalimantan Selatan, menjaring belasan sepeda motor antik milik anggota komunitas tanpa dilengkapi surat-surat. Belasan sepeda motor keluaran tahun 1970-an dijaring anggota Polsek Martapura Kota.

“Belasan motor antik terjaring razia pada operasi “Jaran Intan” 2015 yang dilaksanakan jajaran Polsek Martapura Kota, Minggu dinihari,” ujar Perwira Urusan Sub Bagian Humas Polres Banjar, Ipda Suwarji mewakili Kapolsek AKP Amalia Afifi, di Martapura, Minggu (10/5).

Ia mengatakan, jumlah sepeda motor antik keluaran tahun 1970-1989 yang terjaring razia sebanyak 12 unit dan semuanya tidak dilengkapi surat kendaraan.

Dia menyebutkan, hasil pemeriksaan 12 unit motor antik tersebut, sebanyak 80 persen tanpa dilengkapi Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNKB) dan 20 persen memiliki STNK.

“Sebagian besar motor tanpa STNK dan ada beberapa yang memiliki STNK dan Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) tetapi pajaknya mati hingga puluhan tahun,” ujar Kapolsek.

Menurut dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Satuan Lalu Lintas Polres Banjar dan disepakati seluruh pemilik dan motornya tidak dikenakan tindakan langsung (tilang).

“Kami sudah berkoordinasi dengan KBO Satlantas Polres Banjar. Hasilnya, seluruh pemilik dan motornya tidak ditilang dan mereka hanya dibina serta diarahkan,” sebut Kapolsek.

Dia menjelaskan, pihaknya mengarahkan pemilik motor mengurus surat-surat kendaraan ke Kantor UPTD Samsat Martapura sehingga sepeda motornya dilengkapi surat-surat yang sah.

“Surat pengantar berisi daftar sepeda motor antik sudah disampaikan ke Kantor UPTD Samsat Martapura dan diharapkan mendapatkan pemutihan pajak dan STNK,” ungkapnya.

Dia mengatakan, jika sudah bisa bayar pajak dan dilengkapi STNK, seluruh anggota komunitas mendapat jaminan SWDKLLJ dari pajak yang dibayar jika mengalami kecelakaan lalu lintas.

“Kelengkapan surat-surat kendaraan selain tertib administrasi juga membuat komunitas motor antik lebih terorganisir dan keberadaannya diakui masyarakat,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

DPR: Rumah Sakit Lingga Menyedihkah

Jakarta, Aktual.co — Anggota DPD Daerah Pemilihan Kepulauan Riau, Haripinto menilai kondisi rumah sakit di Kabupaten Lingga, Kepri menyedihkan, karena hanya rumah sakit lapangan di area terbuka dan tanpa perlengkapan medis memadai.

“Di Lingga hanya ada rumah sakit lapangan, kondisinya menyedihkan,” kata Haripinto di Batam, Kepri, Minggu (10/5).

Rumah Sakit yang ada sekarang hanya peninggalan PN Timah yang pernah berjaya di era 1990-an. Pemerintah daerah seolah tidak memberikan perhatian kepada masyarakat.

Rumah sakit terletak di dalam kontainer dengan perlengkapan seadanya.

Karena tidak ada perlengkapan dan peralatan memadai, maka pasien kerap dirujuk ke Kota Batam atau Kota Tanjungpinang agar mendapatkan penanganan lebih baik.

“Saya berulang kali membawa pasien ke Batam, kawan lainnya juga begitu, membawa pasien ke Tanjungpinang. Kami bergantian saja,” kata Haripinto.

Ia berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian pada kesehatan warga, dengan membangun rumah sakit lebih memadai.

Selain kondisi rumah sakit yang menyedihkan, dia menilai kondisi kabupaten dengan banyak pulau itu juga relatif memprihatinkan.

“Tidak ada air, tidak ada listrik,” kata dia.

Dibanding kabupaten kota lainnya di Kepri, Lingga relatif tertinggal, karena potensinya belum tergarap.

Di Kepri terdapat tujuh kabupaten kota. Dia menjabarkan, Kota Batam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan dan Karimun memiliki keunggulan dengan penerapan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Kemudian, Kabupaten Natuna dan Kepulauan Anambas unggul dari sektor minyak dan gas bumi dengan banyaknya sumur gas dan pusat eksplorasi di dua kabupaten itu. Sedangkan Lingga, potensinya belum tergarap.

Padahal, Lingga memiliki potensi maritim yang sangat bagus, dengan ikan dan pariwisata bahari yang indah.

“Potensi Lingga sebenarnya bagus sekali, ikannya banyak. Saya harap ini dapat segera digarap pemerintah,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Ini Kronologis Warga Rohingnya Hingga Terdampar di Aceh

Banda Aceh, Aktual.co —    Sebuah kapal bermuatan sekitar 500 imigran gelap, termasuk anak-anak dan ibu hamil, asal Myanmar atau Burma dan Bangladesh, terdampar di Desa Meunasah Sagoe, pesisir Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (10/5) pagi, sekitar pukul 05:30 WIB.

Salah seorang warga Rohingnya itu Jahangir Hossin, (37) kepada Aktual.co, Minggu (10/5) dalam bahasa Inggris menyebutkan mereka berencana menuju  Malaysia. Namun, agen perjalanan liar yang disebut-sebut dari Coco Company Thailand menipu dan menelantarkan mereka di tengah laut dalam posisi kapal tanpa bahan bakar minyak sehingga mereka terdampar di Aceh Utara.

“Kapten kapal itu melarikan diri dengan speedboat. Kami sempat terkatung-katung di laut selama empat hari, tanpa makan. Cuma minum saja,” kata Jahangir Hossin.

Warga Rohingnya lainnya Muhammad Juned, (35) menyebutkan mereka berangkat dari negara masing-masing dengan sepuluh boat, lalu transit di Thailand. Di negara itu para imigran disatukan oleh agen dalam tiga kapal besar, lalu berlayar menuju Malaysia.

“Setiba di perairan perbatasan antara Malaysia dan Indonesia, pihak agen termasuk kapten kapal, melarikan diri. Kami tak bisa buat apa-apa karena mereka pakai senjata. Semua bahan pelayaran, termasuk minyak kapal dibawa kabur. Kami terpaksa minta minyak sikit-sikit dari nelayan lain, hingga akhirnya sampai sini,” kata Juned dalam bahasa melayu terbata-bata. Pria ini juga mengantongi kartu pengungsi dari UNHCR perwakilan Malaysia.

Mutaris, (26), imigran asal Bangladesh sejak berangkat dari Bangladesh hingga terdampar di Aceh mereka sudah terkatung-katung selama dua bulan.

Akibat dari terkatung-katung di laut, sekitar 50 orang dari mereka meninggal dunia di laut. Jasad rekan mereka pun terpaksa dibuang ke laut lepas.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Achmadi, menyebutkan para imigran itu sengaja dikumpulkan di Mapolres lebih dulu untuk memudahkan proses pendataan dan pemeriksaan kesehatan. Setelah tahapan itu selesai, mereka langsung diserahkan ke pihak Imigrasi Lhokseumawe. Jangan nanti salah persepsi, kenapa polisi yang tangani duluan. Ini pelanggaran keimigrasian, bukan pidana. Wewenangnya ada di rekan-rekan di Imigrasi. Sementara mengenai kapalnya, kita sudah koordinasi dengan Pol Air untuk segera ditarik ke Lhokseumawe,” pungkas AKBP Achmadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan imigran ini sempat ditampung masyarakat di empat desa terdekat, yakni di Desa Meunasah Sagoe dan Desa Matang Puntong Kecamatan Seunuddon, Desa Matang Raya Timu Kecamatan Baktiya dan Desa Cot Muroeng, Kecamatan Baktiya Barat. Mereka juga diberi makanan dan pakaian alakadar. Tapi, tak lama kemudian, polisi membawa mereka ke Mapolres Aceh Utara di Lhoksukon untuk pendataan, lalu diserahkan ke pihak Imigrasi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Danlanud Soewondo Kunjungi Rumah Duka Korban Paramotor

Medan, Aktual.co — Komandan Landasan Udara (Danlanud) Soewondo Medan, Kolonel Pnb S Chandra Siahaan kunjungi rumah duka korban Medan Air Show di Jalan Puri, Gang Sawo, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Sumut, Minggu (8/5) malam sekira pukul 19.45 Wib.

Chandra terlihat langsung masuk ke rumah duka tempat jenazah Ali Imran (53) korban di semayamkan dan duduk bersama keluarga korban untuk mengucapkan belasungkawa.

Sementara, adik korban Ikhwansyah mengaku masih belum mengetahui kronologis kejadian. “Belum tahu karena kita tidak di lokasi,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya event Medan Air Show di Landasan Udara (Lanud) Soewondo Medan, Sabtu (10/5) siang menelan satu orang korban meninggal dunia.

Korban atas nama, Ali Imran (53) akhirnya meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit Sloam Medan sekira pukul 15.05 Wib.

“Meninggal sekitar jam tiga tadi di rumah sakit bang,” ujar adik ipar korban, Ikhwansyah (33) kepada Aktual.co di rumah duka di Jalan Puri, Gang Sawo, Kecamatan Medan Area, Kota Medan.

Pantauan, saat ini jenazah sudah berada di rumah duka. Puluhan kerabat dan tetangga korban tengah melayat menggelar doa bersama untuk korban.

Informasi sementara dihimpun, insiden kecelakaan itu terjadi saat paramotor hendak lepas landas. Dugaan, terjadi kerusakan pada mesin dan akhirnya gagal terbang dan menubruk sebuah tenda dimana korban saat itu tengah menonton.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Ratusan Imigran Rohingya Terdampar di Laut Aceh

Ratusan pengungsi Rohingya terdampar di Laut Aceh tepatnya di Desa Meunasah Sagoe, Seuneudon, Aceh Utara, Aceh, Minggu (10/5/2015). Sebanyak 567 jiwa Etnis Rohingya Myanmar yang meninggalkan negaranya untuk mencari keamanan dengan tujuan Malaysia namun terdampar ke laut Aceh. AKTUAL/MASRIADI SAMBO

Berita Lain