Bantah Tak Butuh IMF, Pidato Jokowi di KAA Disebut Kampanye
Jakarta, Aktual.co — Pengamat Psikologi Politik Universitas Indonesia Dewi Haroen menyayangkan pidato Presiden Joko Widodo saat pembukaan Konferensi Asia Afrika (KAA) seperti pidato kampanye.
“Saya menyayangkan sikap Jokowi itu seperti kampanye kepresidenan,” ujar Dewi di Jakarta, Selasa (28/4).
Menurutnya, pidato tersebut hanyalah bentuk kampanye yang ditujukan untuk menaikkan popularitasnya yang menurun pasca evaluasi enam bulan pemerintahan.
“Jadi kampanye itu lebih ke dalam negeri bukan internasional. Liputannya lebih banyak dalam negeri, luar tidak terlalu meliput. Jadi sebetulnya agenda dibalik itu untuk menaikkan popularitas Jokowi dimata rakyat Indonesia secara keseluruhan, karena popularitasnya semakin turun,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, ada kesalahan komunikasi politik disini, maksudnya ditujukan ke masyarakat Indonesia secara keseluruhan, tetapi yang mengikuti KAA hanya rakyat menengah keatas.
“Rakyat kecil dihadapakan kemacetan, harga barang naik, soal korupsi malah lebih menarik dari KAA. Rakyat tidak tertarik, tujuannya jadi nggak tercapai,” cetusnya.
Dia menyarankan, lebih baik dana yang digunakan untuk KAA agar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat dan implementasikan pidato tersebut.
“Lebih baik seremony KAA tidak lagi diadakan. Lebih baik Rp200 miliar buat yang lain. masyarakat cuma butuh satu itu kesejahteraan, jadi stabilkan harga barang, keamanan dan ketertiban itu aja sederhana. Lain kali jangan hanya seremonial rame dengan retorika dan gagasan.”
Artikel ini ditulis oleh:











