4 April 2026
Beranda blog Halaman 37856

Kejari Bontang Cokok Buronan Kasus Pengadaan Internet di Tangerang

Jakarta, Aktual.co — Kejaksaan Negeri Kota Bontang, Kalimantan Timur, membekuk bekas Kepala Bagian Evaluasi Pembangunan Pemkot Bontang Syamsuddin Nonci yang menjadi buronan kasus korupsi pengadaan internet senilai Rp 1,2 miliar tahun 2012.
Informasi yang diperoleh Syamsuddin buron sejak 2013, ditangkap petugas kejaksaan di tempat persembunyiannya di wilayah Tangerang, Banten, Kamis (19/3) siang dan sempat diamankan di Kejari setempat.
Dia tiba di kantor Kejari Bontang, Jumat (20/3) pukul 03.30 Wita dengan pengawalan ketat, setelah perjalanan panjang dari Jakarta ke Balikpapan dilanjutkan jalur darat menuju Bontang.
Syamsuddin menjadi daftar pencarian orang (DPO) Kejari Bontang sejak September 2013 setelah mangkir dari pemeriksaan. Proses penangkapan itu berkat kerja sama Kejari Bontang dengan Kejari Tanggerang dan Kejaksaan Agung.
Kepala Kejari Bontang Anang Supriatna mengatakan, Syamsuddin masuk dalam DPO setelah mangkir dari pemeriksaan kejaksaan atas kasus dugaan korupsi pengadaan internet.
“Dia dibekuk saat menunggu paket kiriman di Jalan MT Haryono, Kelurahan Suka Sari, Tanggerang. Sebelumnya, kami sudah memperoleh laporan dari masyarakat soal keberadaannya,” katanya.
Dalam penangkapan yang dipimpin Kasi Pidsus Kejari Bontang Affan M Hidayat dengan delapan petugas itu, Syamsuddin tidak melakukan perlawanan, kendati terkejut lokasi persembuyiannya diketahui petugas.
Sebelumnya dia telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tidak pidana korupsi pengadaan fasilitas jasa layanan internet di kantor Sekretariat Daerah Kota Bontang senilai Rp 1,2 miliar pada 2012.
Selama berstatus DPO, Samsuddin tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkot Bontang. “Dia akan dijerat UU Tipikor dengan ancaman hukuman di atas lima tahun dan maksimal 20 tahun penjara,” kata Kajari.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Pengalihan BBM ke BBG Masih Terkendala Infrastruktur

Jakarta, Aktual.co — Kebijakan pemerintah yang mendukung pengalihan dari bahan bakar minyak (BBM) menjadi ke bahan bakar gas (BBG) dinilai masih temui beragam kendala dalam penerapannya di lapangan, terutama karena masih kurangnya infrastruktur.

“Upaya pengalihan BBM ke BBG memang sudah jadi isu nasional dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, tak mudah mengaplikasikannya karena berbagai kendala di lapangan,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Compressed Natural Gas Indonesia (APCNGI) Robbi Sukardi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (20/3).

Menurut dia, kendala tersebut khususnya pada masih minimnya infrastruktur seperti stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di berbagai daerah. Akibatnya, ia berpendapat bahwa Indonesia bisa disebut tertinggal dalam upaya konversi BBM ke BBG dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga. Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah produsen gas alam terbesar, sehingga berbagai pihak juga perlu mempertimbangkan pemanfaatan stok energi tersebut.

Sebelumnya, PT Perusahaan Gas Negara Tbk diberitakan telah mengoperasikan stasiun pengisian bahan bakar gas atau SPBG di Ngagel, Surabaya, Jawa Timur, guna mendukung konversi BBM ke BBG. “Setelah Jakarta, Bekasi, dan Bogor, kini Perusahaan Gas Negara (PGN) menghadirkan SPBG di Surabaya,” kata Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup di Jakarta, Senin (9/3).

Menurut dia, SPBG Ngagel yang dibangun dengan biaya sendiri mempunyai kapasitas 0,5–1 MMSCFD atau 15.000–30.000 liter setara premium (LSP) per hari.

Pemerintah juga bakal terus mengoptimalkan penyerapan gas yang dihasilkan dari sumber domestik atau dalam negeri, antara lain dengan membangun dan mengembangkan fasilitas terminal penerimaan LNG di sejumlah daerah. “Bila kita mau memanfaatkan LNG (gas alam cair) kita yang banyak, maka harus banyak pula punya ‘receiving’ terminal (terminal penerimaan),” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan, setelah mengunjungi Pabrik Terminal LNG Sodegaura milik perusahaan Tokyo Gas, Jepang, Minggu (15/3).

Wapres mengingatkan bahwa Indonesia yang memiiki banyak sumber gas, ternyata belum maksimal dalam memanfaatkan LNG yang sebenarnya merupakan sumber energi yang ramah lingkungan. Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa Indonesia telah banyak melakukan pengiriman atau pendistribusian tetapi masih minim dalam melakukan penerimaan LNG, antara lain karena fasilitas infrastruktur yang belum menunjang.

Artikel ini ditulis oleh:

Barack Obama Cabut Komentar Provokatif Terhadap PM Israel

Semarang, Aktual.co — Presiden Amerika Serikat, Barack Obama mencabut kembali atas pernyataan provokatif kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu setelah pemilihan umum di Israel, Selasa lalu.

Secara resmi, Kamis (19/3) kemarin, Obama menelepon Netanyahu dengan mengucapakan selamat atas kemenangannya. Namun, disisi lain juga mengintervensi Netahyahu yang menentang pembentukan negara Palestina pada hari-hari terakhir kampanyenya.

“Presiden mengatakan kepada Perdana Menteri bahwa kami akan menilai kembali pilihan kita untuk mengikuti posisi baru Perdana Menteri, dan tetap memberikan tanggapan atas solusi dua negara tersebut,” kata seorang pejabat Gedung Putih, demikian lapor laman CNN.

Presiden Obama juga menekankan komitmen lama untuk solusi dua negara (Palestina-Israel) tersebut.

Kamis pagi, Netanyahu berjalan mencari solusi posisi dua negara tersebut, yang perlu didukung dari pemilih sayap kanan maupun jajak pendapat untuk menghadapi persaingan ketat.

Para Pejabat AS telah menunggu langkah Netanyahu yang akan berdiri di belakang komentar kampanye penggabungan negara Palestina. Saat ia bergerak membentuk pemerintahan koalisi.

“Saya tidak ingin solusi satu negara. Saya ingin, solusi damai dua negara yang berkelanjutan,” kata Netanyahu, pada Kamis, dalam sebuah wawancara dengan MSNBC, Andrea Mitchell.

“Saya belum dapat mengubah kebijakan tersebut,” imbuh dia.

Sementara itu, sekretaris Pers Gedung Putih Josh Earnest mengatakan, bahwa penilaian ulang AS yang menawarkan dukungan resolusi PBB untuk pembentukan sebuah negara Palestina. Resolusi ini ditentang oleh Yerusalem.
Namun, para pejabat AS telah melayangkan tawaran atas pernyataan di belakang Netanyahu.

Artikel ini ditulis oleh:

DEN Dorong Pertamina Kelola Blok Mahakam 100% Tanpa Masa Transisi

Jakarta, Aktual.co — Dewan Energi Nasional (DEN) mendukung rencana Pemerintah yang akan menyerahkan pengelolaan blok Mahakam kepada PT Pertamina (Persero). Untuk itu, DEN juga berharap Pemerintah dapat menetapkan porsi wewenang pengelolaan secara penuh atau 100% bagi Pertamina.

Seperti diketahui, saat ini pengelolaan blok migas tersebut berada di bawah kendali perusahaan asal Amerika Serikat yakni Total EP Indonesie. Kontrak Total sendiri akan habis pada 2017 akhir mendatang dan Pemerintah pun telah berencana untuk mengalihkan pengelolaan blok yang berada di Kalimantan Timur itu kepada BUMN PT Pertamina (Persero). Perlu diketahui juga bahwa beberapa waktu lalu pihak Total telah mengajukan permohonan kepada Pemerintah untuk masa transisi selama lima tahun.

“Blok mahakam kasih ruanglah untuk industri dalam negeri, Pertamina. saya lebih suka 100 persen, masa gak bisa? pasti bisa. Jadi kalau kita bilang akan rugi yah gak juga,” kata Anggota DEN Tumiran kepada Aktual.co di Jakarta, Jumat (20/3).

Terkait masa transisi yang diusulkan oleh pihak Total EP, Tumiran menegaskan bahwa hal itu tidak perlu dilakukan. “Gak perlu masa transisi, ambil aja SDM (Sumber Daya Manusia) yang di sana dialihkan ke Pertamina. Pasti jalan. Teknologi kan sudah selesai, itu kan menjadi aset negara. semua kan cost recovery dibayar negara, jadi smua yang ada di lapangan kan punya negara setelah masa kontrak habis,” tegasnya.

Sebelumnya, hal senada diungkapkan oleh Anggota Komisi VII DPR RI fraksi Partai Gerindra, Hari Purnomo. “Saya pikir begini, terlepas dari kontraktual, sikap kami partai Gerindra jelas, sekarang saatnya kita kembali menuju jalan yang benar, yaitu semua kontrak yang sudah habis, Kontrak Karya (KK), atau kontrak bagi hasil ini, serahkan dulu kepada BUMN, Pertamina,” ujar Hari saat ditemui di kompleks gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/3).

Menurutnya, setelah itu baru biarkan Pertamina kembali yang menentukan jalan terbaik terkait mekanisme pengelolaan apakah akan menggaet partner dan dengan siapa akan bermitra dalam mengelola blok Mahakam. “Apakah dia mau kerja sama lagi dengan pihak lain silahkan saja tapi urusannya berdasarkan kaidah-kaidah bisnis. Jangan lagi ada aspek-aspek yang lainnya. Ada titipan sana titipan sini, ada pemburu rente dan lain-lain. Tidak boleh itu,” tegas Hari.

Artikel ini ditulis oleh:

Hingga Pukul 24.00 Wib, Deadline Mendagri Soal Penyelesaian Konflik RAPBD DKI

Jakarta, Aktual.co — Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menegaskan pihaknya memberikan batas waktu pada Jum’at (20/3) hingga pukul 24.00 Wib terkait hasil kesepakatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama DPRD DKI Jakarta terkait RAPBD 2015. 
“Saya tunggu hingga pukul 24.00 Wib hari ini, tentang kesepakatan bersama DPRD dan Gubernur soal RAPBD ini,” ucap Tjahjo kepada Aktual.co, Jum’at (20/3).
Saat ditanya kalau terjadi deadlock kembali pembahasan kesepakatan hasil evaluasi RAPBD DKI tersebut, mantan Sekjen PDIP itu belum bisa berandai-andai kebijakan apa yang pihaknya lakukan.
“Saya belum mau berandai-andai,” sergahnya.
Seperti diketahui, pasca diserahkan RAPBD DKI 2015 evaluasi oleh Kemendagri sampai saat ini pembahasan tengah dilakukan oleh Pemprov DKI maupun DPRD DKI. Rencananya hari ini juga merupakan pembahasan final mengingat tenggat waktu penyerahan kepada Kemendagri pada Jumat (20/3).

Artikel ini ditulis oleh:

Ditanya Soal Kebijakan Ahok? Talita Latief: Maaf Saya Nggak Suka Politik

Jakarta, Aktual.co — Kesibukkan mengurus rumah tangga dan menjaga sang buah hati, membuat Aktris Talita Latief jarang tampil di layar kaca televisi. Namun demikian kegiatan baru yang dilakoninya saat ini bukan berarti membuatnya berhenti menjalani karier di dunia entertainment.

Talita mengaku, job sebagai presenter masih terus dilakoninya. Hanya saja, lebih banyk kegiatan off air  yang dilakukannya sekarang.

“Ada aku nggak kemana-mana. Kegiatan masih sibuk nge-MC. Cuma belakangan ini kalau aku jarang terlihat memang kegiatannya lebih banyak off air. Udah gitu, aku  sibuk menjadi ibu rumah tangga, ” ungkap Talita Latief, ditemui di acara Magnum di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.

Ditanya seputar politik, khususnya tentang kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thjaja Purnama (Ahok)? Ibu satu anak ini tak berani berkomentar mengenai situasi politik yang terjadi di ranah Jakarta, seperti sekarang ini.

“Jujur aku nggak berani kalau ngomongin politik. Apalagi dimintai pendapat seseorang. Karena saya orang yang cinta damai. Biarlah kalau urusan politik ada ada ranah nya masing-masing, karena memang au sendiri nggak punya kepentingan dengan politik itu, ” pungkas Talita sambil bergegas pergi meninggalkan Aktual.co.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain