19 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38471

Badrodin: Penegakan Hukum di KPK dan Polri Harus Tetap Berjalan

Jakarta, Aktual.co — Komjen Pol Badrodin Haiti segera menjalin komunikasi dengan para Pelaksana Tugas (Plt) komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk meredakan konflik yang kini terjadi antara KPK dengan Polri. Calon tunggal Kapolri itu pun berharap konflik dengan KPK segera diselesaikan.
“Saya lakukan pertama adalah kordinasi dengan pimpinan KPK yang baru, sehingga ada langkah konkrit yang bisa menyelesaikan persoalan ini semua,” ujar Badrodin disalah satu televisi nasional, Rabu (18/2).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penegakan hukum baik di Polri maupun KPK harus tetap berjalan.”Bagaimanapun juga penegakan hukum yang ada di KPK  maupun di Polri tidak boleh terganggu dengan masalah-masalah seperti ini,” kata dia.
Ia mengaku, sudah berkordinasi dengan salah satu plt pimpinan KPK.” Dengan Taufikurahman Ruki, kita ada kesamaan pandangan dengan calon pimpinan KPK, kita saling mendukung antara kedua belah pihak,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Rossi Targetkan Raih Gelar Juara Dunia MotoGP Ke-10

Jakarta, Aktual.co — Pebalap Movistar Yamaha MotoGP, Valentino Rossi, menargetkan untuk bisa meraih gelar juara dunia untuk yang ke-10 kalinya. Target ini dipasang The Doctor untuk musim balap MotoGP 2015 ini.

Pebalap asal Italia ini, pada Senin (16/2) kemarin genap berusia 36 tahun. Dan menjadi pebalap MotoGP tertua.

Namun, Rossi tidak menjadikan usia yang beranjak tua itu menjadi halangan untuk merealisasikan cita-citanya itu pada musim ini.

“Satu gelar dunia lagi bukannya mustahil. Tentu saya menargetkannya tahun ini juga,” ujar Rossi, dikutip Crash.net, Rabu (18/2).

Rossi meraih gelar juara dunia sebanyak sembilan kali, di kelas yang berbeda. Tujuh kali di kelas MotoGP, satu kali kelas 250cc dan satu kali di kelas 125cc.

Selain itu, Rossi juga mengungkapkan bahwa, menjadi pebalap motor bukanlah keinginan Rossi kecil, meski dirinya tidak asing dengan dunia balap. Maklum, orang tua Rossi, Graziano Rossi merupakan mantan pebalp GP250.

Rossi baru memutuskan untuk menjadikan dunia balap motor ini sebagai profesinya pada usia 17 tahun.

“Saya baru benar-benar memutuskannya pada tahun 1996, yakni tahun pertama saya di GP125. Pada awalnya memang sulit, tapi ketika saya mulai mampu tampil baik, saya akhirnya memutuskan jadi pebalap motor saja,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Bingung Cari Restoran “Halal” di Singapura? Ini Daftar Panduannya

Jakarta, Aktual.co — Singapura merupakan negara yang dihuni oleh banyak etnik atau suku bangsa dari seluruh dunia. Mayoritas penduduk Singapura berasal dari etnis China. Dengan, demikian makanan-makanan yang tersaji atau ditemui disana, biasanya tidak halal.

Bila Anda kebetulan mengunjungi ke negara paling maju di kawasan ASEAN tersebut, maka Anda harus teliti sebelum membeli makanan atau memilih restoran disana. Pilihlah tempat yang memasang logo “halal” di setiap pintu masuk restoran atau counter makan di mal. Carilah logo seperti di samping ini untuk menjamin makanan yang mereka jual adalah halal. Berikut daftar restoran halal di Singapura.

1. Kintamani Indonesian Restaurant
Dari namanya saja kita sudah pasti tahu, kalau restoran ini menyajikan masakan Indonesia. Ya, begitu Anda memasuki pintu masuknya yang mirip seperti sebuah lorong gua lengkap dengan interior Bali, Anda akan disambut sama bunyi-bunyian musik gamelan.

Restoran Kintamani ini sudah mendapat sertifikat “halal”sejak tahun 1998 lalu, dan telah menjadi restoran favorit untuk acara-acara pemerintah, perusahaan ataupun untuk keluarga yang menyukai masakan Indonesia.

Di restoran Kintamani ini, Anda bisa menemukan rendang, nasi timbel dan juga nasi kuning tumpeng dengan rasa yang membuat kamu merasa sedang berada di Indonesia. Untuk hidangan malam (dessert). Jangan lupa juga untuk menyantap segarnya es teler disana.

2. Tiffany Café and Restaurant
Berlokasi di lantai lobby Furama City Centre, Tiffany Café and Restaurant adalah tempat paling pas untuk Anda yang ingin mengisi perut sambil bersantai dan relaksasi setelah seharian beraktivitas. Suasana yang cozy akan membuat Anda betah berlama-lama sambil menikmati snack ringan dan juga soft drink yang tidak membosankan.

Menu buffet internasional dan juga sajian “a-la-carte-nya” sudah barang tentu telah mendapat sertifikasi ‘Halal’. Nikmati ‘appetizers’ mulai dari salad, siew mai, lalu sashimi ke pasta, berbagai macam seafood, sup dan yang lainnya, sesuai selera masing-masing. Bila ingin sesuatu yang berbeda? Coba “Furama Nasi Goreng” yang terkenal dengan keunikan cita rasanya.

3. Straits Kitchen
Kunjungi Straits Kitchen yang berada di Grand Hyatt Singapura, mulai dari Chinese food, masakan Melayu dan India yg sudah pasti ‘Halal’ dan cocok dengan lidah. Semua menu makanan disiapkan secara eksklusif oleh para chef dari Hyatt Regency Dubai.
Menu andalan disana diantaranya, laksa khas Singapura, nasi ayam hainam, roti prata, dan juga menu favorit ala Timur Tengah seperti babaganoush, tabouleh, Kabab Halla and Ktayef.

4. Restoran Tepak Sireh
Berbuka puasa dengan nuansa historis Melayu masa lampau? Anda bisa datang ke Tepak Sireh yang berlokasi di Gedung Kuning, di sebuah kompleks Istana Kampong Glam. Selain sajian khas Melayu seperti rendang, asam pedas, kepala ikan tersedia juga sajian bernuansa India dan Chinese.

Datanglah pada akhir pekan, nikmati menu special yang sangat ‘best recommended’, seperti nasi briyani, nasi minyak ghee dan juga nasi tomato. Tepak Sireh juga menyediakan dessert andalan yakni, Pulut yang tersedia dengan bermacam varian rasa : durian, mangga, serawa dan sebagainya.

Artikel ini ditulis oleh:

Perayaan Imlek, Ahok: Tidak Ada “Open House”

Jakarta, Aktual.co —  Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku tidak akan menggelar “open house” saat perayaan tahun baru China (Imlek) yang jatuh pada 19 Februari 2015.

“Saya memang tidak pernah mengadakan open house untuk merayakan Imlek. Jadi, ya tidak ada open house,” kata Basuki di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (18/2).

Pria yang akrab disapa Ahok itu mengatakan pada saat perayaan imlek, kegiatan yang biasa dilakukan adalah mengunjungi rumah orang tua atau saudara-saudara yang usianya lebih tua.

“Paling-paling besok hanya pergi ke rumah orang tua yang merayakan Imlek. Kemudian ke rumah om, tante dan lain-lain yang juga merayakan Imlek. Tetapi tidak sampai mudik lah,” ujar Ahok.

Mantan Bupati Belitung timur itu menuturkan ibunya merupakan anggota keluarga yang paling tua jika dibandingkan dengan anggota yang lainnya, sehingga seluruh keluarga akan datang mengunjunginya.

“Kalau di keluarga saya, ibu saya kan yang paling tua, jadi nanti paling kita hanya tinggal menunggu keluarga yang lain pada datang ke rumah,” tutur Ahok.

Sementara itu, mengenai tradisi bagi-bagi “angpao” (amplop berisi uang yang dibagi-bagikan saat perayaan tahun baru China), dia mengaku tidak pernah melakukannya.

“Saya tidak ada tradisi bagi-bagi angpao. Lagipula, kalau pejabat kan tidak boleh terima angpao, takut nanti malah dianggap gratifikasi,” ungkap Ahok. 

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

PDIP Kecewa Jokowi Tak Lantik BG

Jakarta, Aktual.co — Sikap Presiden Jokowi yang memutuskan untuk menujuk Wakapolri Komjen Badrodin Haiti sebagai nama baru calon kapolri pengganti Komjen pol Budi Gunawan, mendapatkan tanggapan dari politisi Senayan.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP, Dwi Ria Latifa mengaku kecewa dengan keputusan yang diambil oleh presiden tersebut.
“PDIP pastinya kecewa. Tapi satu hal bahwa ketika mengusulkan Komjen Pol Budi Gunawan, kemudian langsung disetujui dan mengusulkan nama baru mekanisme perlu dicermati, itu pertanyaan resmi yang perlu ditanyakan nanti (setelah reses),” kata dia kepada wartawan, di Komplek Parlemen, Senayan, Rabu (18/2).
Pun demikian, dirinya mengembalikan semua keputusan yang diambil presiden sebagai hak yang diatur dalam konstitusi. Akan tetapi, dengan sikap presiden yang langsung mengusulkan nama calon kapolri baru tentu itu menjadi keputusan yang kurang pas.
“Apalagi sekarang dengan mengusulkan nama baru seperti ada strategi khusus dimasukan saat DPR sewaktu reses. Dicermatilah, feeling saya ini akan jadi persoalan tersendiri nantinya,” ucap dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Syahrir: Yang Lebih Suka Diplomasi

Jakarta, Aktual.co —Saat ini di Indonesia, dalam perdebatan wacana tentang pembangunan ekonomi nasional, sering muncul tudingan-tudingan bahwa pemerintah telah menjalankan kebijakan yang neo-liberal. Kebijakan ini dianggap lebih mementingkan akomodasi terhadap kepentingan modal asing ketimbang kepentingan rakyat Indonesia sendiri. Nah, jika kita telusuri ke sejarah, pola-pola pendekatan semacam itu tampak pada tokoh Partai Sosialis, Syahrir.
Selain Soekarno dan Mohamad Hatta, tokoh pergerakan Indonesia yang cukup menonjol pasca proklamasi kemerdekaan adalah Syahrir. Ia dipandang sebagai tokoh penting pada minggu-minggu pertama revolusi. Syahrir, dengan dukungan pemuda-pemuda di sekitarnya, berhasil banyak mempegaruhi jalannya politik yang akhirnya menempatkan dirinya di kursi Perdana Menteri pada 14 November 1945.
Lahirnya sistem Kabinet Perdana Menteri ini sebenarnya secara konstitusional menyimpang dari ketentuan UUD ’45, walaupun secara politis pada waktu itu dibenarkan oleh suasana darurat revolusioner. Garis politik Syahrir ini tercermin dalam brosurnya “Perjuangan Kita,” yang penerbitannya diumumkan oleh Kementerian Penerangan pada 10 November 1945.  
Di situ Syahrir mengemukakan idenya tentang revolusi demokratis yang menekankan pentingnya arti demokrasi buat melawan kecenderungan fasisme yang masih membekas, terutama di kalangan generasi muda, akibat pengaruh pendudukan militer Jepang.
Banyak orang mengatakan, Syahrir itu figur politisi yang lebih suka berdiplomasi ketimbang berperang melawan penjajah Belanda. Syahrir memang tidak menginginkan semangat revolusi yang meluap-luap, yang bisa berubah menjadi “terorisme” yang tidak bertanggungjawab terhadap orang-orang Belanda, Indo, dan kelompok-kelompok minoritas yang dianggap pro-Belanda, seperti Cina, Ambon, dan Manado.
Dari situ dapat dilihat benih-benih sosialisme kemanusiaan atau demokrasi sosial, yang ingin ditebarkan Syahrir di kalangan kaum muda. Tetapi sebenarnya hal itu juga berkaitan erat dengan pandangan Syahrir tentang kedudukan Indonesia yang sangat lemah pada waktu itu, yang menurutnya masih berada di bawah pengaruh kekuatan kapitalis Amerika Serikat dan Inggris.
Oleh karena itu, menurut pandangan Syahrir, adalah tidak bijaksana bagi negara muda yang masih rapuh ini untuk memusuhi mereka. Cara pandang Syahrir yang terkesan “lembek” dan “akomodatif pada penjajah” ini jelas tidak akan klop dengan politisi atau aktivis pergerakan dari kubu nasionalis dan kubu komunis, yang berapi-api menyatakan permusuhan pada kekuatan kapitalis.
Syahrir bahkan melihat, nasib Indonesia amat tergantung pada kebijaksanaan politik yang akan diambil oleh kekuatan-kekuatan imperialis itu. Dari situlah, Syahrir menyimpulkan, satu-satunya jalan untuk menjamin kemerdekaan Indonesia adalah dengan melalui “diplomasi yang lihai dan fleksibel, agar Amerika dan Inggeris tidak terundang buat mendukung Belanda secara penuh.”
Selanjutnya, secara logis, sikap yang menolak konflik terbuka dengan kekuatan imperialis itu menuntut lahirnya kebijaksanaan politik yang liberal terhadap modal asing, pengakhiran kekerasan corak/pemuda, terutama terhadap orang-orang kulit putih, mendirikan lembaga-lembaga politik yang dapat diterima Barat, dan sebagainya.
Itu semua serasi dengan kecenderungan politik Syahrir yang liberal-demokratis. Sulit disangkal bahwa Syahrir memang mengutamakan diplomasi daripada menggunakan kekuatan/kekerasan senjata dalam revolusi Indonesia. Hal itu sesuai dengan jalan pemikiran Syahrir tentang demokrasi sosial yang humanis.
Pendekatan Syahrir ini sangat kontras bahkan bertolak belakang dengan pendekatan tokoh seperti Tan Malaka, misalnya, yang revolusioner. Warisan pendekatan a’la Syahrir ini tampaknya masih bisa kita lihat dalam era pemerintahan sekarang. Tarik-menarik antara kubu “neolib” dan kubu yang lebih radikal-nasionalis, masih terus berlangsung. ***

Dikutip dari buku “Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi” dengan Penyunting William H. Frederick dan Soeri Soeroto (Jakarta, LP3ES:1991).

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain