16 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38809

Mengaku Ateis, Pria AS Jual Alkitab dan Untung Rp1,2Miliar

Jakarta, Aktual.co —Trevor McKendrick, pengusaha software yang ateis ini mungkin saja tidak percaya adanya Tuhan. Namun, berbisnis kitab suci terbukti mendatangkan rejeki yang melimpah untuknya. Bagaimana tidak, dalam satu tahun, McKendrick dapat menjual aplikasi alkitab di iPhone dan mendapat untung US$100 ribu, sekitar Rp1,2 miliar. Dilaporkan Business Insider, cerita sukses McKendrick dimulai pada Februari 2012, ketika dia menghadiri makan malam bersama keluarga besarnya. Kala itu, saudaranya menceritakan dia mendapat keuntungan hingga US$10 ribu, hanya dengan menjual aplikasi di plaftform App Store di iPhone.

Tergiur dengan untung besar yang didapatkan saudaranya, McKendrik kemudian mencoba peruntungan serupa. Dia kemudian mengamati bahwa aplikasi alkitab terjemahan bahasa Spanyol yang berada di iPhone memiliki kualitas yang rendah, namun banyak diunduh oleh pengguna iPhone.  “Ternyata sebagian besar aplikasi Alkitab berbahasa Spanyol aplikasi sangat buruk. Hipotesis saya kala itu adalah: (1) Bisnis Alkitab Spanyol bisa mendatangkan banyak uang, (2) Saya bisa membuat aplikasi yang lebih baik, dan (3) kompetisinya tidak terlalu berat,” ujar McKendrick, seperti ditulis International Business Times, Rabu (4/2).

Merasa mampu membuat aplikasi yang lebih baik, McKendrick pun memutuskan untuk melakoni bisnis penjualan alkitab ini. McKendrick kemudian menggandeng seorang programmer asal Romania untuk menciptakan aplikasi Alkitab dengan terjemahan Spanyol yang dapat diunduh di App Store. Pada bulan pertama, pendapatan dari aplikasi terjemahan Spanyol tersebut mencapai US$1.475 atau setara dengan Rp18,6 juta. Penjualan ini telah melampaui biaya pembuatannya, yang berkisar US$500, atau Rp 6,3 juta, namun McKendrick tak cukup puas dengan hasil tersebut.

Beberapa bulan kemudian McKendrick menyewa sebuah studio audio profesional untuk merekam seluruh Alkitab dalam bahasa Spanyol. Rekaman ini digunakan sebagai audiobook, yang terpisah dari aplikasi terjemahan pertama yang dibuatnya. Ternyata, di situlah peruntungannya dimulai. Aplikasi audiobook yang awalnya hanya sebagai proyek sampingan, ternyata mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar. International Business Times mencatat, audiobook yang dibanderol dengan harga US$9,99, atau Rp113 ribu di App Store ini mendatangkan pendapatan bersih sebesar US$73 ribu atau Rp920 juta, atau pada tahun pertama. Pada tahun kedua, penjualan audiobook ini mendatangakan pendapatan lebih dari US$100 ribu. “Pendapatan saya pada saat itu sekitar US$4.000 sampai US$5.000 per bulan,” kata McKendrik, dikutip dari Huffington Post, Kamis (5/2).

Namun, McKendrick tak akan berhenti sampai di situ. McKendrick menyatakan akan melakukan ekspansi bisnis, dan berharap dapat bermitra dengan penerbit buku Kristiani berbahasa Spanyol untuk menciptakan berbagai terobosan baru di bidang bisnis alkitab. “Saya berharap bisa berteman dengan orang-orang yang memiliki hak cipta untuk menambah konten yang diminta oleh pelanggan kami. Bisnis ini bukan hanya mendatangkan menyenangkan , tapi pelanggan kami akan mencintai kami, ” katanya .

Dibesarkan sebagai penganut Mormon
Meskipun saat ini McKendrik mengaku tidak percaya Tuhan, pengusaha software asal Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat ini mengaku dibesarkan sebagai seorang penganut Mormon. Namun, lama kelamaan dia meninggalkan gereja dan sekarang tidak mengikuti keyakinan apapun.  “Saya menggambarkan diri saya sebagai seorang ateis. Saya sering mendapatkan email dari para pengunduh aplikasi saya, bahwa mereka berdoa untuk saya sembari meminta saya menafsirkan ayat-ayat tertentu. Mereka pikir saya seorang pengkhotbah,” kata McKendrik.

Reaksi para pengunduh aplikasinya inilah yang kadang menempatkan McKendrick dalam posisi yang sulit.  “Orang-orang bertanya apakah saya merasa bersalah. Dan meskipun kadang saya merasa tak enak, saya yakinkan diri bahwa saya membuat produk yang berkualitas,” kata McKendrick kepada International Business Times. “Saya tidak akan menutup aplikasi yang berkualitas itu,” kata McKendrick melanjutkan.

Pemimpin Hong Kong Digambarkan di Tisu Toilet

Jakarta, Aktual.co —Otoritas Tiongkok menyita sekitar 8.000 tisu toilet bergambar pemimpin Hong Kong Leung Chun-ying. Lo Kin-hei dari Partai Demokratik Hong Kong mengatakan, polisi menyita tisu kontroversial itu dari sebuah pabrik di kota Shenzhen, Tiongkok, Sabtu (7/2).

Seperti diwartakan Associated Press, belum diketahui mengapa petugas menyita ribuan tisu toilet tersebut. Lo menyebut tisu Leung Chun-ying akan dijual saat Hari Raya Imlek. Penyitaan tisu terjadi setelah Tiongkok mengecam demonstrasi pro demokrasi terbaru di Hong Kong. Pendemo Hong Kong mengkritik Leung yang dinilai terlalu berpihak pada Negeri Tirai Bambu.

Awal Februari, ribuan pendemo pro demokrasi kembali memenuhi berbagai ruas jalan di Hong Kong. Ini merupakan aksi lanjutan pertama setelah pemerintah Hong Kong mengakhiri demonstrasi yang terjadi dua bulan berturut-turut.

Lautan manusia yang membawa payung berwarna kuning, simbol gerakan demonstrasi, bergerak perlahan di jantung Hong Kong. Mereka meneriakkan sejumlah slogan “kebebasan memilih universal yang sesungguhnya.” Slogan ini menyindir Tiongkok yang mengharuskan setiap kandidat pemimpin Hong Kong untuk diseleksi terlebih dahulu.

Sejumlah Pekerja Indonesia Bikin “Ulah di Madinah

Jakarta, Aktual.co —Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) dikabarkan terlibat tawuran dengan Pekerja asal Negara Mesir di Kota Madinah, Arab Saudi, beberapa waktu lalu. Untungnya tak ada korban yang meninggal dunia atas insiden tawuran tersebut. Tim KJRI Jeddah yang pada Jumat (6/2) melakukan pengecekan langsung ke Kota Madinah pun membenarkan peristiwa tersebut.

Tim mengaku tahu karena mendapat laporan dari BMI-Saudi Arabia pada Kamis malam. “Berdasarkan informasi yang didapat oleh Tim KJRI melalui Kantor Kepolisian Madinah, tidak didapati adanya korban meninggal dunia atas kejadian tawuran dimaksud. Namun kejadian tersebut mengakibatkan 5 orang PMI mengalami luka-luka,” kata Pelaksana Fungsi Pensosbud-KJRI Jeddah, Syarif Shahabudin dalam keterangannya diterima Tribun, Jumat malam.

Menurut Syarif, tawuran antara Pekerja Migran Indonesia dengan Pekerja Mesir yang bekerja untuk perusahaan Bin Laden, yang saat ini sedang menangani proyek perluasan area Masjid Nabawi terjadi pada jam istirahat. Tepatnya saat para pekerja akan kembali ke camp, pada Rabu, 4 Februari 2015 pukul 11.30 waktu setempat.

Bulan Ini, Terpidana Mati Australia Dieksekusi

Jakarta, Aktual.co —Kementerian Luar Negeri Indonesia telah mengkonfirmasi ke Kedutaan Besar Australia di Jakarta bahwa Andrew Chan dan Myuran Sukumaran akan menghadapi regu tembak bulan Februari ini, seperti yang dikuti Tribunews.com.  Kedua terpidana mati asal Australia itu berada di Bali menunggu waktu eksekusi, karena sebelumnya pemimpin geng “Bali Nine” tersebut tertangkap tangan menyelundupkan heroin.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, mengatakan, kementeriannya menerima pemberitahuan dari kantor kejaksaan di Bali bahwa Chan dan Sukumaran akan menghadapi eksekusi pada bulan Februari.
Ia mengungkapkan, Kedutaan Besar Australia diiinformasikan perihal ini, tadi (5/2) malam. Namun, kantor Jaksa Agung, yang bertanggung jawab untuk mengatur eksekusi, belum memutuskan tanggal.

Sebelumnya, Jaksa Agung Indonesia mengungkapkan bahwa rencana untuk mengeksekusi dua terpidana mati itu, kemungkinan, menunggu hingga pengajuan grasi penyelundup narkoba asal Nigeria ditolak.

Sempat “Ngambek”, Duta Besar Belanda Kembali Lagi

Jakarta, Aktual.co —Duta Besar Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol telah kembali ke Indonesia setelah sempat ditarik pulang ke negaranya sebagai bentuk protes Kerajaan Belanda atas eksekusi mati terhadap seorang warganya bulan lalu. Negara lain yang juga menarik perwakilan diplomatiknya adalah Brasil. Hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai kapan atau apakah Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto Da Silveira Soares kembali ke Jakarta, seperti yang dikutip Tribunews.com.

Duta Besar Rob Swartbol mengatakan kepada BBC Indonesia ia senang bisa kembali ke Indonesia. “Saya kembali setelah berkonsultasi dengan Kementerian Luar Negeri Belanda,” katanya. Swartpol ditarik pulang pasca-eksekusi terhadap warga negara Belanda Ang Kiem Soei bulan Januari lalu.

Sementara itu, harian Belanda Volkskrant mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Belanda Bert Koenders yang mengatakan Belanda tetap menentang hukuman mati. “Sekarang rencana eksekusi mati berikutnya telah diumumkan dan saya menilai sangat penting Duta Besar Belanda berada di Jakarta,” kata Koenders. Sejumlah media daring Belanda, diantaranya nltimes.nl melaporkan bahwa ada satu lagi warga negara Belanda yang telah divonis mati dalam kasus narkotika di Indonesia yaitu Siegfried Mets.

Sosok Tawanan ISIS Asal AS, Sang Humanis

Jakarta, Aktual.co — Serangan udara yang dilakukan oleh militer Yordania ke basis pertahananankelompok teroris yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), padaJumat (6/2) siang, dikabarkan menewaskan tawanan perempuan asal AmerikaSerikat. Informasi ini masih simpang siur, karena kabar kematian tawanan ituhanya dirilis oleh ISIS, seperti yang dikutip Kompas.com.

Dalam sebuah pernyataan di internet, ISIS mengatakan perempuan AS ituterkubur reruntuhan bangunan akibat serangan yang dilancarkan ke kota Raqa.ISIS hanya memperlihatkan sebuah gambar reruntuhan bangunan, tanpamemperlihatkan jenazah korban.

Mengutip Washington Post, Sabtu (7/2), perempuan AS yangditawan itu diidentifikasi oleh ISIS sebagai Kayla Jean Mueller. Perempuan asalPrescott, Arizona, itu merupakan pekerja kemanusiaan asal AS yang bekerja untuklembaga Support to Life dan masuk ke Suriah pada akhir 2012. Mueller diperkirakandiculik ISIS pada 4 Agustus 2013 di kota Aleppo, usai bekerja di sebuah rumahsakit yang dikelola lembaga Doctors Without Borders asal Spanyol.

 

Derita pengungsi

Sebuah media lokal di Arizona, Daily Courier, pernah menulis profilKayla Mueller. Ketika itu, perempuan berusia 26 tahun itu mengaku hatinuraninya makin tersentak dengan penderitaan masyarakat Suriah ketika menjadirelawan di kamp pengungsian warga Suriah di Turki.

Kayla mengenang hal yang menjadi titik balik dalam hidupnya berawal ketikamembantu seorang pria Suriah menemukan dua anak perempuannya yang berusia 6tahun di pengungsian tempatnya bekerja. Pria Suriah itu mengaku telahkehilangan istrinya yang tewas di Suriah, tapi dia belum juga bisa menemukananak laki-laki dan anak perempuannya yang berusia 11 tahun, yang masih hilangsaat berusaha kabur dari Suriah.

Beruntung, pria itu kemudian menemukan anak perempuannya yang berusia 11tahun itu, yang baru saja menyelesaikan operasi di sebuah rumah sakit di Turki.Tapi, pria Suriah itu tetap merindukan anak laki-lakinya. Kepada Kayla, priaitu pun memperlihatkan foto anak laki-lakinya yang hilang.

“Ini bukan kisah yang asing di Suriah. Ini adalah realita untukmasyarakat Suriah selama dua tahun terakhir,” ucap Mueller kepada DailyCourier, dalam sebuah acara amal saat pulang ke kampung halamannya diPrescott, Arizona pada 31 Mei 2013. “Saat para warga Suriah itu tahu sayaorang Amerika, mereka bertanya. ‘Di mana (tindakan) masyarakat dunia?’ Saat itusaya hanya bisa menangis, karena saya memang tidak tahu,” ucap KaylaMueller.

Kayla pun semakin larut dalam kesedihan yang dimiliki pengungsi Suriah,sehingga dia merasa yang dilakukannya tak pernah cukup. Setiap hari, Kaylamendengar cerita tentang anak-anak yang terluka akibat bom, perempuan yangdipaksa menikah di usia sangat muda, dan anak-anak yang dipaksa untuk salingbunuh oleh pihak yang bertempur. Anak-anak tentu saja juga tak bisa sekolahkarena tempat mereka belajar itu menjadi sasaran bom. “Selama saya hidup, saya tidak akan membiarkan penderitaan ini dianggapnormal, dianggap hal yang bisa kita terima,” ucap Kayla.

 

Fokuskan anak-anak

Karena sadar kemampuannya terbatas, Kayla Mueller pun membantu dari halterkecil yang bisa dilakukan. Misalnya, dia mengajak anak-anak untuk bersenang-senangdengan menggambar, melukis dan bermain. Salah satu kegiatan yang tidak akan dilupakannya adalah saat para bocahSuriah itu diminta untuk menggambar tempat yang dianggap paling nyaman, palingmenyenangkan, paling diinginkan. Ternyata, anak-anak itu mengaku menggambarrumah sendiri, rumah yang sudah ditinggalkan dan mungkin kini sudah rata dengantanah. “Mereka bercerita apa saja tentang rumahnya. Mereka bilang, ‘Ada pohondi depan rumah yang biasa dipanjat’. Atau, ‘Ada pintu berdecit karena tidak pernahdiperbaiki ayah’,” tuturnya.

 

Ironi

Mengutip Mashable, keluarga menyebut Kayla sudah mengabdikankehidupannya untuk membantu orang lain di negara mana pun yang membutuhkan.Karena itu ketika lulus dari Universitas Arizona pada tahun 2009, jenjang karirbukan dianggapnya sebagai pilihan hidup yang dipertimbangkan.

Bahkan, Kayla pernah membuat video yang diunggah di YouTube, sebagai bagiandari solidaritas media sosial dalam proyek bernama “Syria Sit In”.Dalam video yang diunggah pada 2 Oktober 2011 itu, Kayla mengutuk kekerasanyang terjadi di Suriah. Saat itu, Kayla juga terang-terangan menuduh PemerintahSuriah di bawah pimpinan Bashar al-Assad sebagai pihak yang paling bertanggungjawa.

“Saya dalam solidaritas dengan masyarakat Suriah. Saya menolak brutalitasdan pembunuhan yang dilakukan otoritas Suriah kepada rakyatnya,” ucapMueller dalam video itu. “Karena diam berarti ikut berpartisipasi dalamkejahatan itu, saya mendeklarasikan partisipasi saya dalam ‘Syrian Sit In’ diYouTube,” lanjutnya.

Ironisnya, nasib Kayla Mueller kini masih tidak jelas setelah ditawan olehISIS, kelompok yang juga memerangi Bashar al-Assad. Nasib Kayla belum diketahuisejak diculik ISIS di Aleppo pada 4 Agustus 2014. Pemerintah AS sendiri masihenggan memberikan komentar dan belum bisa memastikan tewasnya Kayla Mueller.

“Saya masih belum bisa memberikan konfirmasi apa pun. Saya tidak akanmemberikan informasi spesifik mengenai tawanan AS di luar negeri,” ujarjuru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Marie Harf.

Berita Lain