Amerika Mata-matai Wartawan Investigatif
Jakarta, Aktual.co —Sebuah survei terbaru menunjukkan sebagian besar jurnalis investigasi di Amerika Serikat percaya bahwa mereka dimata-matai oleh pemerintah. Sekitar dua pertiga anggota Investigative Reporters and Editors khawatir pemerintah mengumpulkan data panggilan telepon, email, atau komunikasi online para wartawan, menurut jajak pendapat yang dilakukan Pew Research Center/Columbia University, seperti yang dikutip dari Rimanews.com.
Menurut survey yang diikuti 671 wartawan, produser, editor, spesialis data, dan jurnalis foto investigasi kekhawatiran mengenai kegiatan mata-mata yang dilakukan pemerintah sangat tinggi di kalangan jurnalis yang membuat laporan tentang pemerintah federal atau keamanan nasional dan urusan luar negeri. Sebanyak 71 persen wartawan mengatakan pemerintah telah mengumpulkan data mereka. Sementara 62 persen wartawan investigasi lainnya menyetujui hal tersebut.
Hampir 50 persen wartawan investigasi mengatakan mereka telah mengubah cara mereka menyimpan dokumen karena masalah tersebut. Jumlah yang sama mengatakan bos mereka tidak memberi perlindungan yang cukup bagi mereka dan sumber-sumber mereka dari pengawasan dan hacking. Sebanyak 2 persen di antaranya bahkan mengatakan kegiatan mata-mata memaksa mereka untuk meninggalkan jurnalisme investigatif.
Mayoritas responden mengatakan mereka tidak terpengaruh oleh kegiatan mata-mata yang dilakukan pemerintah. Sementara 3 persen di antaranya mengatakan pengawasan tersebut akan mencegah mereka mengejar cerita tertentu. Survei ini dilakukan di tengah kekhawatiran tindakan keras pemerintah atas bocornya keamanan nasional. Kelompok HAM mengatakan kebijakan tindakan keras merupakan ancaman bagi kebebasan pers.
Mantan reporter CBS Sharyl Attkisson bersaksi di depan panel Senat pekan lalu dan mengatakan pejabat pemerintah memperlakukan jurnalis investigatif dan sumber mereka seperti “musuh negara”. “Tugas mendapatkan kebenaran tidak pernah sesulit ini,” katanya pada sidang konfirmasi calon Jaksa Agung, Loretta Lynch. Sebanyak, 13 persen wartawan mengatakan mata-mata atau hacking yang dilakukan pemerintah akan membuat mereka berpikir berkali-kali untuk menjangkau seorang atau sebuah sumber berita.














