5 April 2026
Beranda blog Halaman 39556

Bambang Widjojanto Akan Pertimbangkan Mundur dari KPK

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyatakan secara personal akan mempertimbangkan mundur sebagai pimpinan lembaga antikorupsi tersebut setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri.

“Sebagai penegak hukum saya harus konsisten, tunduk dibawah konstitusi, moral hukum dan etis hukum,” kata Bambang di kediamannya di Kampung Bojong Lio, Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat (24/1).

Ia mengatakan dalam salah satu pasal UU KPK menyatakan jika telah ditetapkan sebagai tersangka maka akan diberhentikan melalui Keppres. Sehingga saya mempertimbangkan untuk mengajukan pemberhentian kepada pimpinan KPK.

“Nanti biar pimpinan KPK yang akan mengajukan pengunduran diri saya kepada presiden,” katanya.

Menurut dia, dirinya punya alasan tersendiri dengan memilih mundur sebagai pimpinan KPK. Ia ingin menjalani proses hukumnya dengan fokus. Persoalan hukum lainnya nanti akan ditangani oleh pengacara saya.

“Saya ingin bekerja secara optimal untuk menyelesaikan persoalan saya,” katanya.

Bambang Widjojanto ditangkap oleh penyidik Bareskrim Polri pada sekitar pukul 07.30 WIB di Depok seusai mengantarkan anaknya ke sekolah. Markas Besar Kepolisian RI menetapkan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto sebagai tersangka kasus dugaan menyuruh memberikan kesaksian palsu.

Bambang diduga melakukan tindakan itu saat menjadi kuasa hukum perkara sengketa pemilihan Bupati Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, pada 2010.

Sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang dimaksud melibatkan pasangan Ujang Iskandar-Bambang Purwanto dan Sugianto-Eko Sumarno.

Artikel ini ditulis oleh:

Tim Penyelam TNI Berhasil Evakuasi 4 Jenazah Lagi

Jakarta, Aktual.co —Tim Penyelam TNI AL yang tergabung dalam operasi pencarian dan evakuasi korban pesawat AirAsia QZ-8501 hari ini berhasil mengevakuasi lagi 3 jenazah perempuan dan 1 jenazah laki-laki dari badan pesawat AirAsia QZ-8501 di perairan Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kotawaringin Kalimantan Tengah, Sabtu (24/1).
 
“Tim Penyelam TNI AL mulai melanjutkan misi mengevakuasi jenazah korban pesawat AirAsia satu per satu dengan diturunkanya perahu karet dan Sea Raider serta peralatan Dishidros pada pukul 05.00 WIB.  Cuaca di sekitar Selat Karimata terpantau bagus dan kecepatan arus bawah laut 0,3 knot dengan tinggi gelombang 1-2 meter,” kata Kapuspen TNI, Mayjen TNI M. Fuad Basya dalam keterangan pers yang diterima Aktual di Jakarta (24/1).
 
Sebanyak 11 tim penyelam gabungan TNI AL sudah bekerja sejak pukul 05.00 WIB, masing-masing tim terdiri dari 4 orang.  Hingga pukul 10.00 WIB, proses pengangkatan body pesawat masih berlangsung. Body pesawat berada di kedalaman 30 meter dan berjarak 3.400 meter dari titik penemuan ekor yang sudah diangkat beberapa waktu lalu. Flooting bag juga sudah muncul dipermukaan diikuti mengapungnya 4 jenazah, namun keberuntungan belum berpihak kepada tim karena tali putus dan body pesawat kembali jatuh ke dasar laut.
 
“Proses pengapungan dilakukan oleh kapal Crest Onyx. Badan pesawat rencananya juga akan diangkat ke kapal milik SKK Migas tersebut untuk selanjutnya diserahkan kepada KNKT  ke Jakarta guna investigasi,” katanya.
 
Kemudian empat jenazah yang telah berhasil dievakuasi oleh KN Pacitan dan dilanjutkan dievakuasi  ke geladak KRI Banda Aceh, selanjutnya dibawa dengan pesawat Hely Bell TNI AL dan Dolphin dari Basarnas ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun. Seperti pada penemuan jenazah korban AirAsia sebelumnya, dari Pangkalan Bun jenazah dibawa ke RS  Sultan Imanuddin guna dirawat dan dimasukkan peti jenazah yang selanjutkan akan dibawa ke Surabaya untuk diserahkan kepada tim DVI.
 
“Sejauh ini sudah 69 jenazah telah berhasil dievakuasi. Pada sore hari ini 6 jenazah diterbangkan dari Pangkalan Bun menuju Lanudal Juanda Surabaya dengan menggunakan pesawat Cassa TNI AL C-212. Ke 6 jenazah tersebut kemudian akan diserahkan kepada tim DVI guna kepentingan identifikasi,” tambahnya.
 
Penyelaman dihentikan siang hari ini selain untuk evaluasi dan merencanakan langkah berikutnya juga dikarenakan arus sudah mulai deras dan cuaca tidak mendukung serta membahayakan tim, sehingga evakuasi diputuskan untuk dilanjutkan esok hari dan berharap cuaca baik dan mendukung untuk penyelaman.

Artikel ini ditulis oleh:

Menteri Koperasi dan UKM AA Gede Ngurah Puspayoga Mancing Bersama Jurnalis

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga menunjukan ikan hasil tangkapannya saat berpartisipasi dalam rangka HUT ke-1 Jurnalis Joran Indonesia (JJI) di Pemancingan Puspita, Jakarta, Sabtu (24/1/2015). Kegiatan ini diikuti oleh puluhan jurnalis yang hobi pada olahraga memancing. AKTUAL/Dok Jojoners

Selamatkan Indonesia! Selamatkan Trisakti!

Perseteruan antar institusi negara (KPK dan Polri) kembali menarik perhatian kita.

Sekilas tampak, penunjukkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) baru oleh Presiden Joko Widodo menuai protes dari sejumlah kalangan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantas menetapkan Kapolri yang baru ditunjuk tersebut (BG) sebagai tersangka. Hanya berselang dua hari, Bareskrim Polri menangkap dan menahan Wakil Ketua KPK (BW). Media heboh. Publik geger. Cerita Cicak vs Buaya seolah berulang. Kembali muncul seruan “Save KPK” (Selamatkan KPK) dari berbagai kalangan.

Dalam pandangan PRD, hal terpenting untuk dilihat dalam situasi ini adalah persoalan korupsi di Indonesia dalam kaitan dengan sistem ekonomi-politik yang berlaku sekarang. Korupsi tumbuh subur karena terdapat sistem yang memberi peluang, yakni: 1) liberalisasi politik dan pemerintahan sampai ke daerah-daerah, yang memberi peluang besar bagi korupsi di segala lini dan segala tingkatan; 2) liberalisasi ekonomi yang memberi keleluasaan modal mengeksploitasi sembari menyogok aparatur pemerintahan demi kepentingan eksploitasi tersebut; 3) serta liberalisasi budaya yang menyemai watak egosentris dan konsumerisme baik di tingkatan pejabat maupun masyarakat umum.

Pemberantasan korupsi adalah penting dan mendesak. Tapi alangkah baiknya bila lembaga negara yang dibentuk untuk tugas itu, baik KPK maupun Kejaksaan, memprioritaskan kasus-kasus korupsi besar yang berhubungan langsung dengan persoalan kedaulatan bangsa, sebagaimana garis politik yang dijanjikan pemerintahan baru Joko Widodo-Jusuf Kalla (Trisakti).

Ketua KPK sendiri pernah mengatakan bahwa sekitar 60% perusahaan pertambangan tidak membayar pajak atau royalti kepada pemerintah. Terdapat pula 14 perusahaan migas asing yang tidak pernah membayar pajak dan royalti. Serta pada tanggal 27 Februari 2013, KPK mengidentifikasi bahwa hanya 11% dari 150 juta hektar pengelolaan hutan yang memiliki izin sesuai dengan peruntukannya.

Sedikit contoh di atas harusnya sudah menjadi gambaran, bagaimana kerugian negara akibat praktik korupsi yang berkait-kelindan dengan eksploitasi atas sumber daya bangsa. Pertanyaan besar yang muncul adalah mengapa penanganan kasus-kasus terkait eksploitasi modal yang sebagian besar merupakan modal asing itu sedemikian lamban?

Alangkah baiknya bila perhatian terhadap korupsi tidak hanya difokuskan pada kasus-kasus yang terkait kepentingan politik jangka pendek, sehingga wilayah pemberantasan korupsi terkesan sedemikian sempit, bahkan cenderung dinilai semata sebagai instrumen politik pihak tertentu.

Pada momentum ini PRD juga menyampaikan kritik atas ketidakberdayaan Presiden Joko Widodo dalam menangani persoalan. Tekanan-tekanan dari lingkaran partai maupun pendukungnya dalam pilpres telah memposisikan dirinya tidak mampu memutuskan apa-apa atas dua lembaga negara yang berada langsung di bawah otoritasnya tersebut.

Sesungguhnya Presiden dapat mengambil tindakan tegas, baik terhadap Polri maupun KPK, apabila mereka bergerak melenceng dari koridor misi pemerintah untuk menciptakan Indonesia baru yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya, (TRISAKTI) termasuk di dalamnya Indonesia yang bersih dari korupsi.

Semangat Trisakti inilah yang harus terus menerus menjadi penekanan dari pemerintahan Jokowi-JK dengan disertai implementasi program-program yang berpihak pada rakyat di semua sektor. Semangat dan konsepsi Trisakti inilah yang dapat menjadi penerang, penunjuk jalan, bagi bangsa Indonesia untuk keluar cengkraman imperialisme. Sungguh sangat disayangkan apabila kekuasaan negara dan pemerintahan yang ada di tangan Jokowi-JK sekarang tidak digunakan untuk merebut kembali kedaulatan nasional yang sudah diserahkan kepada modal asing oleh pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Dalam situasi obyektif menghadapi cengkraman imperialisme ini, dalam pandangan PRD, persatuan nasional mutlak dibutuhkan. Oleh karena itu, setiap konflik yang berdasarkan pada hal-hal yang tidak prinsipil, atau pada kepentingan-kepentingan yang sempit, pemikiran-pemikiran yang sektaris, sudah sewajarnya untuk dihindari. Bangsa Indonesia akan terus berusaha dipecah belah oleh kekuatan imperialis agar mudah dieksploitasi, dan kita pun larut dalam kebodohan sendiri apabila turut memecah belah diri sebagai satu kekuatan nasional.

Mari, Perkuat Persatuan Nasional Menghadapi Imperialisme! Hentikan Neoliberalisme! Rebut (kembali) Kedaulatan Nasional!

Jakarta, 24 Januari 2015

Oleh Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD), Agus Priyono
                                               

Artikel ini ditulis oleh:

Adnan Pandu Diduga Rugikan Perusahaan Miliaran

Jakarta, Aktual.co —Wakil Ketua KPK diklaim punya pekerjaan ganda. Selain jadi komisioner KPK, Adnan juga diduga menjadi pemegang saham perusahaan kayu di Kalimantan Timur.

Hal itu disampaikan Kuasa Hukum PT Daisy Timber, Mukhlis Ramlan saat melaporkan Adnan ke Bareskrim atas tuduhan pemalsuan dokumen.

“Adnan Pandu itu memegang saham mayoritas (PT Daisy Timber) sampai hari ini,” tekan Mukhlis usai membuat laporan resmi ke Bareskrim Mabes Polri, Sabtu (24/1).

Bersama temannya Indra Warga Dalam, Adnan dituduh merampas mayoritas saham perusahaan dengan cara memalsukan akte kepemilikan.

Belum cukup mengambil saham, Adnan kata Mukhlis, juga merampas seluruh kekayaan pemilik PT Daisy Timber yakni Muis Murad (alm). “Kami dirugikan atas kasus ini. Keluarga ya ratusan miliar sejak tahun 2006,” keluhnya.

Oleh sebab itu, melalui laporan nomor ppl/48/1/2015/Bareskrim, Mukhlis berharap penyidik Mabes Polri dapat segera membuka kedok dari Adnan yang sebenarnya.

“Saya cinta dengan KPK, jangan sampai oknum-oknum mafia yang merugikan negara menduduki posisi penting di institusi penegakan hukum,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Mempersingkat Kunjungan ke India, Obama Kunjungi Arab Saudi

Jakarta, Aktual.co — New Delhi, Aktual.co —Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan mempersingkat lawatannya ke India pada Selasa (27/1) untuk mengunjungi Arab Saudi, menyusul kematian Raja Abdullah, kata sumber di Ibu Kota India, New Delhi, Sabtu (24/1).

Namun, pihak Gedung Putih tidak bisa segera dihubungi untuk memberikan komentar. Presiden Obama dijadwalkan tiba pada Minggu (25/1) untuk kunjungan selama tiga hari ke India, di mana ia akan menghadiri parade Hari Republik atas undangan Perdana Menteri Narendra Modi.

Para analis mengatakan undangan untuk menghadiri perayaan Hari Republik pada Senin (26/1) menunjukkan kedekatan baru antara dua negara demokrasi terbesar di dunia itu. Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Jumat (23/1), Obama mengatakan “bintang-bintang selaras” mendorong Amerika Serikat dan India untuk menjalin kemitraan global.

Karena kunjungan hanya akan berlangsung singkat, Obama pun telah membatalkan rencana untuk mengunjungi Taj Mahal selama perjalanan ke India, kata seorang pejabat pemerintah setempat. Presiden AS itu sebelumnya dijadwalkan untuk mengunjungi monumen terkenal India itu bersama dengan Ibu Negara Michelle Obama pada Selasa (27/1), pada akhir kunjungan selama tiga hari ke negara itu.

Ratusan petugas kebersihan telah dipekerjakan untuk merapikan makam marmer putih dalam persiapan menyambut kedatangan pasangan Barrack-Michelle Obama. Namun, pejabat tinggi administrasi di daerah itu mengatakan telah diberitahu bahwa kunjungan ke Taj Mahal tersebut dibatalkan. “Kunjungan yang diusulkan Obama telah dibatalkan,” kata Pradeep Bhatnagar. “Tidak ada alasan khusus yang disampaikan kepada kami, namun diyakini bahwa perubahan rezim di Arab Saudi bisa jadi salah satu alasannya,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain