15 Januari 2026
Beranda blog Halaman 39686

Ini Peran Lima Buron Terduga Teroris Poso

Jakarta, Aktual.co — Tim Detasemen Khusus 88 Polri dan Polda Sulawesi Tenggara berhasil mencokok lima orang buron yang diduga terlibat aksi teroris Poso.
“Mereka adalah Ilham Syafii, Saiful Jambi, Rustam alias Ape, Hasan beserta istri bernama Ros,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kombes Pol Agus Riyanto, Jakarta , Senin (12/1).
Agus menatakan, kelimanya memiliki peran dalam aksi terorisme di Poso antara lain sebagai berikut:
Ilham Syafii, terlibat sebagai pendukung pendanaan teror kelompok Masyarakat Indonesia Timur (MIT). Dia juga pernah mengikuti pelatihan militer bersama kelompok Santoso dan Daeng Koro.
“Dia juga berperan sebagai kurir kelompok MIT pimpinan Santoso dan Daeng Koro. Diduga dia mengetahui persembunyian teroris DPO (lainnya-red).”
Agus mengatakan, saat akan ditangkap pelaku melawan hingga terjadi baku tembak dan menyebabkan Ilham meninggal dunia. Dari penangkapan Ilham, polisi menyita satu pucuk senjata api jenis Browning HI Power Automatic, kaliber 9mm, lima peluru kaliber 9mm, satu buah ponsel, dan pisau lipat.
Sedangkan Saiful Jambi, lanjut Agus, ditangkap pukul 11.30 WITA dengan keterlibatannya sebagai kurir logistik MIT. Tadrib tahun 2010 di daerah Topoyo, Sulawersi Barat, dan bersama-sama membuat bom dengan tersangka lain bernama Oca (sudah ditangkap sebelumnya).
Saiful juga menerima kiriman dana dari seseorang bernama Ikhwan di luar Sulawesi Tenggara. Perannya sebagai pengurus keuangan kelompok MIT, dan diduga membantu menyembunyikan DPO Daeng Koro dan Santoso.
Rustam alias Ape, diduga yang bersangkutan membantu pelarian dan menyembunyikan Daeng Koro dan Santoso, dia juga membantu mengurus pembelian logistik kelompok MIT.
“Tersangka pernah mengikuti pelatihan militer di Morowali di tahun 2007, dan membantu mengurus keuangan dan sebagai pemberi dana operasi Tuturuga Morowali,” kata Agus.
Hasan dan Ros, adalah pasangan suami istri yang ditangkap dengan barang bukti sekitar Rp23 juta. Keterlibatannya sebagai pendukung logistik kelompok Santoso. “Dia menerima dan mengirimkan logistik tersebut.”

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Perkuat Pasokan Listrik, PGN Pasok Gas ke Pembangkit Listrik PLN

Jakarta, Aktual.co — Penyaluran gas bumi kepada sektor industri di Lampung merupakan bukti dari komitmen PT Perusahaan Gas Negara (Persero) untuk terus meningkatkan penggunaan energi non Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebagai energi baik yang ramah lingkungan, hemat dan aman, penggunaan gas bumi diharapkan mampu memperkuat daya saing industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Lampung dan sekitarnya.

“Selain mendistribusikan gas bumi kepada sektor industri, di Lampung PGN juga telah siap untuk menyalurkan gas bagi sektor rumah tangga dan sektor usaha kecil (UMKM),” ujar Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup dalam rilis yang diterima Aktual, Senin (12/1).

Dikatakan lebih lanjut, untuk memperkuat pasokan listrik di Lampung, PGN juga bersinergi dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan menyediakan gas bagi sejumlah pembangkit listrik milik PLN.  Rencananya, PGN akan menyalurkan gas ke beberapa titik serah gas yang akan dibangun pembangkit listrik antara lain GI Sribawono 100 MW, GI Sutami 30 MW, GI Sutami 100 MW, GI New Tarahan 30 MW dengan total kebutuhan gas mencapai maksimum ± 45 BBTUD.

“PGN memiliki komitmen untuk terus memperkuat pemenuhan energi nasional, sehingga potensi ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia dapat dioptimalkan. Melalui penyediaan gas bumi, wilayah seperti Lampung akan memiliki daya tarik bagi investor untuk menanamkan investasinya,” jelasnya.

Upaya PGN untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi juga dilakukan di berbagai wilayah seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Riau.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Nestle: Penggunaan Gas Bumi Hemat Biaya Energi Hingga 25 Persen

Jakarta, Aktual.co — Salah satu komitmen PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yaitu dengan menyalurkan gas bumi ke sektor industri di Lampung merupakan bukti untuk terus meningkatkan penggunaan energi non Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebagai energi baik yang ramah lingkungan, hemat dan aman, penggunaan gas bumi diharapkan mampu memperkuat daya saing industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Lampung dan sekitarnya.

“Penggunaan gas bumi akan memberikan banyak benefit bagi perusahaan. Dalam aspek biaya operasional lebih menghemat 25 persen,” ujar Factory Manager PT Nestle Indonesia Plant Panjang Lampung, Budi Utomo dalam keterangan yang diterima Aktual, Senin (12/1).

Menurutnya, dengan harga gas bumi yang lebih hemat, Nestle memperkirakan akan mampu menekan biaya energi hingga 25% sampai akhir tahun. Penurunan biaya energi tersebut tentunya akan menciptakan efisiensi dan pada tahap selanjutnya akan memperkuat daya saing perusahaan.

“Kami bersyukur dapat bekerjasama dan mendapat pasokan gas bumi dari PGN. Dengan pengalaman panjang yang dimiliki PGN, kami percaya pemanfaatan gas bumi ini akan memberikan jaminan energi dan efisiensi bagi perusahaan hingga 25 persen. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan bisnis Nestle,” jelas Budi Utomo di Lampung.

Menurut Budi, di Lampung perusahaannya khusus memproduksi kopi. Selain menggunakan gas bumi yang menggantikan HFO (high fuel oil), Nestle juga menggunakan cangkang kelapa sawit sebagai sumber energi.  Saat ini Nestle sedang melakukan ujicoba penggunaan gas bumi selama tiga bulan ke depan. Melalui ujicoba ini perusahaan akan mengetahui kebutuhan pasokan gas yang riil bagi pabriknya di Lampung.

PT Nestle Indonesia Plant Panjang Lampung telah meneken Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) selama 5 tahun dan dapat diperpanjang setelah periode tersebut berakhir. Untuk kebutuhan operasional, kebutuhan gasnya diperkirakan sebesar 172.800 m3/Bulan.

“Kami percaya penggunaan gas bumi ini akan menghemat biaya produksi, memperpanjang umur mesin dan ramah lingkungan. Itu sebabnya kami berani melakukan investasi untuk membangun jaringan pipa gas di areal perusahaan,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Kebijakan Jonan Terhadap Penerbangan Tak Nyambung

Jakarta, Aktual.co — Dalam tragedi musibah penerbangan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan harusnya tak mencari “kambing hitam”. Hal itu disampaikan Sekretaris Pusat Kajian Trisakti Fahmi Habsyi, di Jakarta, Minggu (11/1). 
Fahmi mencontohkan Jonan sebelumnya mengkambinghitamkan adan peizinan illegal, kali ini mantan Dirut KAI itu meneken peraturan yang mematok tarif batas bawah layanan penerbangan minimal 40 persen dari batas atas. 
“Aturan yang mulai diterapkan paling lambat 30 Juni 2015 itu dinilai sama dengan menghapus bisnis penerbangan murah atau low cost carrier (LCC),” ucapnya. 
“Kami sarankan dipertimbangkan kembali keputusan itu. Istilahnya, kebijakan Jonan itu sah sebagai menteri yang tidak tepat buat publik. Jika maskapai menggratispun tidak masalah karena itu investasi swasta bukan APBN,” sambungnya.
Fahmi menjelaskan beberapa kebijakan itu tidak tepat karena pertama,  pemerintah tidak perlu ikut campur dalam penentuan harga yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak  seperti bbm dan bahan pokok.
“Kedua, pemerintah semestinya mendorong industri swasta apapun untuk tumbuh, bersaing yang efisien   dapat memberikan terbaik pada rakyat sebagai konsumen yang diuntungkan,” sergahnya.
Sementara itu, ketiga, pemerintah hanya bertugas memperkuat infrastruktur, membuat regulasi dan kontrol yang tegas terhadap industri penerbangan menyangkut keselamatan penumpang check and recheck pesawat sebelum  pemberangkatan.
Keempat,  pemerintah lakukan adalah reformasi birokrasi koruptif  di Dephub agar penerapan regulasi itu berjalan sesuai harapan setiap hari dan  skandal seperti terbang tanpa izin tidak terulang.
“Lalu jika pesawat ada jatuh lagi, “kambing hitam” apa lagi yang perlu diatur ? Harga suku cadang pesawat kah? “tandasnya.
“Saya sarankan yang dibenahi itu “mafia murah” di Dephub dan bukan” harga murah” tiket pesawat. Jaka sembung makan ikan, gak nyambung Mas Jonan,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rupiah Dibuka Menguat, IHSG Loyo

Jakarta, Aktual.co — Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Senin (12/1) pagi bergerak menguat sebesar 73 poin menjadi Rp12.557 dibandingkan posisi sebelumnya Rp12.630 per dolar AS.

“Laju Rupiah masih berkesempatan mengalami penguatan lanjutan dengan adanya pengutan mata uang hard currency lainnya untuk mengimbangi laju Dolar AS,” ujar Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI), Reza Priyambada di Jakarta, Senin (12/1).

Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin dibuka turun 13,91 poin atau 0,27 persen menjadi 5.202,74 dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 3,52 poin (0,39 persen) ke level 895,30.

“Laju IHSG tidak akan jauh berbeda dengan sebelumnya, tampak variatif dan cenderung melemah jika aksi profit taking tersebut semakin besar,” jelas Reza.

Dari 507 saham yang diperdagangkan, sebanyak 44 saham menguat, 53saham melemah, dan 410 saham stagnan. Lima sektor menguat dipimpin sektor properti (0,84%), Sedangkan 4 sektor yang melemah dipimpin pertanian (0,55%).

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

PGN Penuhi Kebutuhan Gas untuk Industri Wilayah Lampung

Jakarta, Aktual.co — PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) pada  bulan Januari ini mulai mengalirkan gas bumi ke sejumlah industri di wilayah Lampung. Penyaluran gas bumi ini merupakan realisasi dari penandatanganan kontrak Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) antara PGN dengan 14 industri besar di Lampung pada pertengahan tahun 2014.

Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup mengatakan, penyaluran gas bumi kepada sektor industri di Lampung merupakan bukti dari komitmen PGN untuk terus meningkatkan penggunaan energi non Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebagai energi baik yang ramah lingkungan, hemat dan aman, penggunaan gas bumi diharapkan mampu memperkuat daya saing industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Lampung dan sekitarnya.

“Kami berharap penggunaan gas bumi mampu memperkuat daya saing dan efisiensi sektor industri di Lampung, seperti yang telah dibuktikan oleh pelanggan industri PGN lainnya. PGN akan terus mendukung optimalisasi penggunaan gas bumi melalui pembangunan infrastruktur dan distribusi gas bumi,” jelas Heri Yusup dalam keterangan yang diterima Aktual, Senin (12/1).

Sejumlah industri besar yang akan menggunakan gas dari FSRU Lampung adalah PT Coca Cola Amatil Indonesia, PT Garuda Food Putra Prima, PT Nestle Indonesia, Novotel Lampung, PT Bumi Menara Internusa, PT Tunas Baru Lampung, PT Gizi Utama, PT Japfa Comfeed, PT Philips Seafood, Hotel Sahid Bandar Lampung, PT LDC Indonesia, PT Aman Jaya Perdana, Hotel Aston Lampung, dan Golden Dragon.

“Pada Januari ini ada 3 industri yang sudah teraliri yaitu Coca Cola, Nestle dan Philips Seafod. Lainnya akan menyusul segera,” kata Heri Yusup.

Menurutnya, pengaliran gas ke sektor industri tersebut sejalan dengan rampungnya pembangunan pipa distribusi PGN dari Labuan Maringgai ke Tanjung Panjang, Lampung sejauh lebih dari 90 km di akhir 2014. Selain membangun jaringan pipa yang berukuran sangat variatif mulai 4 inchi – 16 inchi, PGN juga membangun 2 stasiun penerima gas (offtake station) yaitu Sutami dan Sekampung Udik, untuk mengatur aliran dan tekanan gas ke pelanggan. Saat ini total gas bumi yang dialirkan ke sektor industri di Lampung mencapai sekitar  1,01 BBTUD.

“PGN akan terus mendukung pemanfaatan gas bumi di wilayah Lampung melalui pembangunan infrastruktur dan penyaluran gas. Kami percaya, dalam jangka panjang dengan sumber energi yang lebih baik, Lampung dapat menjadi kawasan industri yang maju dan memberikan kesejahteraan yang lebih baik kepada masyarakatnya,” jelasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain