6 April 2026
Beranda blog Halaman 39981

Kerap Berkelit, Lisa Lukita Diingatkan Hakim

Jakarta, Aktual.co — Karena kerap berbelit-belit dalam memberikan kesaksian di sidang lanjutan kasus Hambalang, Direktur CV Rifa Medika Lisa Lukita Wati ditegur majelis hakim.
Majelis hakim berkali-kali memperingati Lisa Lukita Wati untuk memberikan keterangan yang sebenarnya soal duit Rp 5 miliar dan fee 18 persen dari proyek Hambalang itu. Lisa hari ini menjadi saksi untuk terdakwa Machfud Suroso di kasus Hambalang.
Setelah persidangan berjalan lebih dari 2 jam, Lisa yang mengenakan kursi roda itu tiba-tiba menangis saat dikonfirmasi Jaksa perihal uang Rp 5 miliar dari Tim Assistensi Hambalang dan Komisaris PT Methaphora Solusi Global M Arifin kepada Arif Gunawan alias Arif Gundul.
“Kemudian yang Rp 5 miliar itu yang mulia, saya memang dalam ancaman dua tahun terakhir,” kata Lisa saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (12/1).
Namun demikian, sambung Lisa uang Rp 5 miliar itu yang mengambil bukanlah almarhum Arif Gundul. Dia mengatakan, duit tersebut diambil oleh Widodo Wisnu Sayoko.
Mendengar pengakuan tersebut, lantas Ketua Majelis Hakim Sinung Hermawan bertanya siapa Widodo yang dimaksud, Lisa menjawab adik mantan petinggi negara. Saat itu dia mengaku dikenalkan kepada Widodo oleh Mantan Sesmenpora Wafid Muharam.
Selain Widodo, Wafid juga mengenalkan sosok Ibu Pur alias Sylvia Sholehah kepada Lisa. Ibu Pur dikenalkan sebagai orang yang dekat dengan penguasa. Menurut Lisa, pada tahun 2012 sempat bertemu dengan Ibu Pur di Makassar. 
Dia mengaku dalam pertemuan tersebut dia mencoba mengkonfirmasi terkait uang-uang di proyek Hambalang kepada Ibu Pur.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Fakta Terbaru Tentang Hilangnya Penduduk Polinesia Asli di Pulau Paskah

Jakarta, Aktual.co — Apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat Polinesia asli yang pernah tinggal di Pulau Paskah?
Beberapa peneliti berpendapat, bahwa  pulau Rapa Nui, yang luasnya sekitar 63 mil persegi di bagian tenggara Samudera Pasifik, tidak berpenghuni pasca para penduduk menggunakan sumber daya alam.

Namun,  peneliti lain menerangkan, bahwa penduduk pulau itu mulai eksodus setelah orang Eropa membawa penyakit atau wabah penyakit – dan mengambil banyak warga setempat sebagai budak.

Tetapi, penelitian terbaru menyatakan kemungkinan lain, dimana kondisi lingkungan yang keras di pulau – dengan intensitas hujan yang tinggi menyebabkan kualitas tanah menurun (longsor), bukan eksodus penduduk asli yang selama ini diberitakan- sebelum bangsa Eropa tiba pada tahun 1722, demikian  Live Science melaporkan.

“Hasil penelitian kami benar-benar cukup mengejutkan bagi saya tentunya,” kata Dr. Thegn Ladefoged, Profesor antropologi dari University of Auckland, Selandia Baru sekaligus penulis makalah yang menjelaskan penelitian tersebut, menyatakan dalam surat elektronik-nya, kepada Huffington Post .

“Singkatnya, penelitian kami tidak mendukung pendapat tentang perpindahan masal yang terjadi sebelum kedatangan bangsa Eropa. Wilayah atau lingkungan yang kurang optimal berubah sebelum kontak Eropa.”

Para peneliti menganalisis 428 alat obsidian dari tanggal pembuatan dan serpihan batu obsidian yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di pulau tersebut. Dengan memadukan unsur alat dan batu, para peneliti bisa menyimpulkan kapan dan bagaimana penduduk Rapa Nui kuno menggunakan tanah dan sumber daya alam di berbagai kawasan dalam pulau itu.

Apalagi yang ditemukan peneliti? Pemakaian lahan dan sumber daya alam yang bervariasi di seluruh pulau, lebih mencerminkan masalah lingkungan dari cuaca yang buruk.

“Sementara kita tidak memiliki data penduduk langsung, jelas bahwa orang-orang bereaksi terhadap  perubahan cuaca regional di pulau, sebelum mereka hancur oleh pengenalan penyakit Eropa dan proses bersejarah lainnya,” ujar Ladefoged.

Para peneliti mencatat hasil riset. Hasil penelitian dapat berguna dalam studi masyarakat prasejarah lainnya yang mengalami kepunahan secara mendadak.

Makalah tersebut dipublikasikan secara online dalam Prosiding National Academy of Sciences pada 5 Januari 2015 lalu.

Artikel ini ditulis oleh:

Polres Pekanbaru Buru Pelaku Perampok Toko

Jakarta, Aktual.co — Polres Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, memburu perampok spesialis toko yang kerap menggunakan senjata tajam dalam melancarkan aksinya.
“Laporan terakhir masuk pada Sabtu (10/1). Peristiwa tersebut terjadi di Toko King Jaya, Jalan Hangtuah, Nomor 45, Kelurahan Rejo Sari, Kecamatan Tenayanraya, Pekanbaru,” kata Kepala Bidang Humas Polda Riau Ajun Komisaris Besar Polisi Guntur Aryo Tejo ketika dihubungi, Senin (12/1).
Dia mengatakan, perampokan itu terjadi pukul 21.30 WIB ketika korban hendak menutup tokonya. Ketika itu, menurut laporan korban, pelaku yang seorang diri mendatanginya dengan menggunakan sepeda motor jenis bebek.
“Malam itu, korban langsung diancam oleh tersangka menggunakan senaja tajam sejenis parang. Korban sempat melakukan perlawanan hingga pelaku membacok tangan korban dan memukul kepala korban hingga terjatuh,” kata dia.
Menurut sejumlah saksi, kejadian itu terekam oleh kamera pemantau yang terpasang di depan dan di dalam toko milik korban. Dalam rekaman CCTV tersebut terlihat tersangka yang melukai korbannya kemudian menggasak uang tunai yang berada di dalam brankas toko.
Rekaman tersebut juga mendeteksi nomor polisi pada kendaraan pelaku yakni BM 2452 tanpa nomor seri. “Anggota sejauh ini masih memburu pelaku. Kuat dugaan pelaku memang spesialis toko.”
Menurut catatan Kepolisian Daerah Riau, kasus pencurian dengan kekerasan cenderung mengalami peningkatan dan nyaris setiap bulan terjadi di berbagai wilayah kabupaten atau kota di Riau. Bahkan selama Januari hingga Desember 2014 telah terjadi 341 kasus pencurian disertai kekerasan atau curas di berbagai wilayah kabupaten-kota di provinsi ini.
“Menurut laporan, Pekanbaru menjadi daerah tertinggi yang terdapat kasus tersebut dengan 74 kejadian,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol Arif Rahman Hakim.
Dia mengatakan, sebagian besar kasus pencurian disertai kekerasan terjadi di wilayah tengah kota dengan para korbannya adalah pemilik toko atau pusat perbelanjaan, termasuk mini market. Sedangkan kejahatan curas yang terjadi di pertokoan atau pusat perbelanjaan itu, menurut dia, mencapai 40 persen atau sekitar 28 kasus.
Kemudian dari 74 kasus curas yang terjadi di Pekanbaru itu, lanjut dia, sebanyak 41 kasus di antaranya telah berhasil diungkap. Namun, ada 55,4 persen kasus yang sudah berhasil diungkap khusus untuk Polresta Pekanbaru.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Ditanya Fee 18 Persen Direktur CV Rifa Medika Terus Berkelit

Jakarta, Aktual.co — Sidang kasus Hambalang dengan terdakwa Machfud Suroso kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (12/1). Sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi-saksi.
Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi menghadirkan Direktur CV Rifa Medika Lisa Lukita Wati. Saat memberikan kesaksiannya Lisa ditanya JPU terkait pertemuan di Plaza Senayan dan fee 18 persen dalam proyek Hambalang.
“Dalam pertemuan itu ada bahasan terkait fee 18 persen?” tanya JPU
“Tidak ada,” jawab Lisa.
Lisa mengaku, pertemuannya di PS itu hanya untuk memperkenalkan Dedi Kusdinar dengan Teuku Bagus Muhammad Noor. Posisi dia di situ sebagai salah satu tim asistensi proyek dan tak mendengar secara keseluruhan semua pembicaraan. 
Namun dia membantah ada pembicaraan tentang pemenang lelang. “Saya banyak keluar masuk. Yang saya tahu pada saat itu niatnya untuk memperkenalkan Pak Teuku Bagus dan Dedi Kusdinar.”
“Apakah ada pembicaraan terkait Hambalang?” cecar Jaksa.
“Iya terkait Hambalang,” kata Lisa.
Namun ketika jaksa kembali menanyakan soal fee 18 persen, Lisa kembali berkilah. Dia mengaku, tak tahu perihal fee 18 persen itu. Padahal saat jaksa bertanya kepada saksi lain yaitu Arifin, Lisa disebut tahu tentang adanya fee tersebut.
Selanjutnya Lisa ditegur majelis hakim dan diminta untuk berkata jujur.
“Saya sebenarnya kasihan. Saudara ini sudah menggunakan kursi roda. Alangkah baiknya buka mulut saja. Kalau tidak mau, saudara harus datang lagi di persidangan berikutnya,” kata Ketua Majelis Hakim Sinung Hermawan.
“Di dunia dan di akhirat juga ada konsekuensinya,” tambah Jaksa.
Jaksa kembali menanyakan kepada Lisa apakah tahu terkait fee tersebut, namun Lisa lagi-lagi menjawab tak tahu. Tetapi dia tahu di kesempatan lain. Saat itu dia diberitahu oleh Wafid Muharam.
“Saat itu beliau (Wafid) terlihat bingung, dia curhat ke saya. Ada bahas permintaan fee 18 persen. Pak Wafid juga bilang ada permintaan dari tetangga. Saya tidak tahu tetangga itu siapa, Pak Paul Nelwan bilangnya, mohon maaf, tetangga itu anggota dewan,” kata dia.
“Katakan saja yang sebenarnya, tidak usah mohon maaf,” kata jaksa.
Mantan Direktur Pemasaran PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manullang (Rosa) dalam sidang terdahulu pernah mengaku bahwa Grup Anugrah milik Muhammad Nazaruddin menetapkan fee 18 persen kepada PT Adhi Karya (AK). Fee tersebut dimaksudkan agar PT Adhi Karya mendapatkan pengerjaan jasa konstruksi proyek Hambalang.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Presiden Jokowi: Negara Asean Juga Takut MEA

Jakarta, Aktual.co —  Presiden Joko Widodo menginginkan para pengusaha untuk jangan mencemaskan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai tahun 2015 karena seluruh negara di kawasan Asia Tenggara mencemaskan hal yang sama.

“Saudara-saudara tak usah takut, mereka (negara-negara ASEAN) juga takut, dan yang paling ditakutkan adalah Indonesia,” kata Presiden Joko Widodo dalam acara Musyawarah Nasional XV Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandung, Senin (12/1).

Menurut Presiden, dirinya telah bertemu dengan sejumlah pemimpin negara dan pemerintahan di ASEAN dan mereka semua juga khawatir karena masih menerka dan meraba-raba pemberlakuan dampak MEA.

Presiden berpendapat, Indonesia adalah negara yang ditakuti karena negara-negara lain penduduknya tidak sebanyak dengan jumlah penduduk yang terdapat di Indonesia.

“Mereka berpikir begitu dibuka mereka akan diserbu oleh pengusaha RI yang banyak sekali,” katanya sambil menambahkan, “serbuan” itu terutama dapat dilakukan para pengusaha muda yang biasanya mendahulukan keberanian.

Untuk itu, Presiden juga menegaskan agar pengusaha nasional tidak takut karena negara yang lain sudah grogi, tetapi yang terpenting adalah adanya kesiapan dan perancangan yang baik.

Jokowi juga menghendaki agar beragam peluang usaha yang ada di dalam negeri agar jangan sampai di ambil pengusaha luar negeri yang masuk ke Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Terduga Teroris yang Dicokok di Bima Terindikasi Jaringan Santoso

Jakarta, Aktual.co — Satu dari dua terduga teroris yang ditangkap, Kamis (8/1) di wilayah Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, yakni DE warga Kelurahan Penatoi Kecamatan Mpunda, terindikasi keterlibatannya dalam jaringan Santoso di Poso.
“Keterlibatannya masih dipertajam, namun keduanya memang terindikasi ikut dalam kelompok Santoso terutama peran yang dilakoni DE,” kata Kasubdit I Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Polda NTB AKBP I Made Yasa di Mataram, Senin (12/1).
Sedangkan ER, kata dia, bertugas untuk menyalurkan dana kebutuhan bagi keluarga teroris di wilayah Bima, baik itu para istri anggota yang sedang ditinggalkan suaminya untuk ikut pelatihan di Poso, maupun janda yang suaminya diketahui telah meninggal.
Diketahui, penangkapan kedua terduga berawal dari kecurigaan anggota Polresta Bima yang sedang berpatroli pada Kamis (8/1) dini hari. Anggota menemukan keduanya sedang duduk bersama seseorang yang berhasil meloloskan diri yakni F di belakang kantor Wali Kota Bima.
Namun, identitas F sudah diketahui berdasarkan pemeriksaan kedua terduga maupun pencarian data di kepolisian. Hingga kini, polisi memperkirakan keberadaan F masih di seputaran Bima. “F masih menjadi buronan kami, pencariannya kini ditangani oleh Polresta Bima,” kata dia.
Kemudian, barang bukti yang menguatkan kedua terduga memiliki keterlibatan dalam jaringan teroris di Poso yakni dengan ditemukannya sebuah senjata api jenis revolver beserta beberapa butir peluru. Namun, dari pengakuan terduga, senjata api itu adalah titipan dari F kepada DE.
Selain senjata api yang diduga adalah milik anggota kepolisian itu, Polda NTB juga mengamankan beberapa barang bukti lainnya seperti senjata api jenis senapan angin, dua pedang, golok, dan arit. “Barang buktinya masih kami amankan dan periksa lebih lanjut,” katanya.
Sehubungan dengan penyelidikan kasus tersebut, Yasa menuturkan, pihak Polda NTB tetap menjalin koordinasi dengan Densus 88 antiteror. “Kami sudah jalin koordinasi dengan Densus 88 antiteror, guna mengetahui sejauh mana keterlibatan dua terduga dalam jaringan Santoso.”
Dia menambahkan, jika terbukti ada keterlibatan berdasarkan data Densus 88 antiteror, nantinya kasus ini akan dilimpahkan. “Kecuali, Densus 88 antiteror tetap mempercayai Polda NTB untuk menangani kasusnya,” kata Yasa kepada wartawan.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain