7 April 2026
Beranda blog Halaman 405

Jaringan Internasional Terbongkar, WNA Malaysia hingga Nigeria Terlibat Kasus Narkoba di Jakarta

Jakarta, aktual.com – Polda Metro Jaya mengungkap keterlibatan jaringan internasional dalam kasus narkoba akhir 2025. Sebanyak delapan tersangka tercatat sebagai warga negara asing.

Para WNA tersebut berasal dari Malaysia, Australia, China, dan Nigeria. Mereka ditangkap dalam pengungkapan 1.517 kasus narkoba selama Oktober hingga Desember 2025.

Wadirresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Dedy Anung menyebut penanganan WNA tetap mengacu hukum nasional. “Proses hukum tetap sama tanpa membedakan kewarganegaraan,” kata Dedy, Jakarta, dikutip Senin (22/12/2025)

Meski demikian, kepolisian berkoordinasi dengan kedutaan besar negara asal tersangka. “Pendampingan diplomatik dilakukan, namun penegakan hukum tetap berjalan,” ujarnya.

Keterlibatan WNA menunjukkan jaringan narkoba lintas negara masih aktif di wilayah Jakarta. Sebagian berperan sebagai kurir yang dikendalikan bandar buron.

Dedy menambahkan Polda Metro Jaya berkomitmen menindak tegas seluruh pelaku narkoba. “Kami tidak pandang bulu dalam penegakan hukum,” tegas Dedy.

(Muhammad Hamidan Multazam)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Dino Patti Djalal Kritik Kinerja dan Komunikasi Menlu Sugiono

Jakarta, aktual.com – Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal menyampaikan kritik terbuka kepada Menlu Sugiono. Pesan itu disampaikan melalui akun Instagram pribadinya @dinopattidjalal.

Dino menyebut pesannya berasal dari pengalaman hampir 40 tahun berkecimpung di dunia diplomasi nasional dan internasional. Ia menegaskan berbicara sebagai sesepuh Kemlu, tokoh masyarakat, sekaligus warga negara.

Kritik pertama menyangkut kepemimpinan Menlu dalam mengelola Kementerian Luar Negeri. Menurut Dino, Kemlu membutuhkan kehadiran pemimpin yang fokus dan konsisten.

Ia mengibaratkan Kemenlu seperti mobil mewah performa tinggi.

“Kemenlu itu seperti Ferrari, tapi butuh sopir yang piawai dan fokus,” ujarnya, dikutip Senin (22/12/2025)

Dino menilai kurangnya arahan membuat kinerja perwakilan RI melemah. Rapat duta besar tertunda dan banyak keputusan strategis minim tindak lanjut.

Kritik kedua diarahkan pada lemahnya komunikasi publik soal politik luar negeri. Dino mengingatkan prinsip “foreign policy begins at home”.

Ia menilai Menlu jarang menyampaikan pidato kebijakan atau wawancara substantif. Menurutnya, komunikasi visual tanpa penjelasan substansi tidak cukup.

Kritik ketiga menyasar hubungan Menlu dengan pemangku kepentingan hubungan internasional. Dino menilai banyak undangan dialog dari komunitas tidak direspons.

Ia menekankan kepercayaan tidak hadir dengan sendirinya.

“Trust dan respect harus diperjuangkan,” tegas Dino.

Kritik terakhir menyoroti keterbukaan kerja sama dengan akar rumput diplomasi. Dino menilai gotong royong pemerintah dan masyarakat adalah kunci sukses diplomasi Indonesia.

(Muhammad Hamidan Multazam)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

KPK Tutup 2025 dengan 11 OTT, 439 Perkara Korupsi Ditangani dan Selamatkan Rp1,53 Triliun

Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat kinerja penindakan yang cukup padat sepanjang 2025 dengan ratusan perkara yang ditangani hingga pertengahan Desember. Berdasarkan data per 17 Desember 2025, total terdapat 439 perkara yang diproses di berbagai tahapan.

Sebanyak 69 perkara masih berada pada tahap penyelidikan, 110 perkara telah masuk tahap penyidikan, dan 112 perkara berada dalam proses penuntutan. Selain itu, 73 perkara telah berkekuatan hukum tetap, sementara 75 perkara telah memasuki tahap eksekusi.

Dalam periode yang hampir bersamaan, KPK juga mencatat penanganan terhadap 118 tersangka. Jumlah tersebut berasal dari berbagai perkara yang ditangani, termasuk hasil operasi tangkap tangan.

Hingga 22 Desember 2025, KPK telah melaksanakan 11 kegiatan tangkap tangan yang menyasar dugaan tindak pidana korupsi di sejumlah sektor. Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto menyampaikan, rangkaian penindakan tersebut tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga diarahkan untuk mendorong perbaikan sistem.

“Ada sebelas penangkapan para terduga pelaku tindak pidana korupsi,” katanya saat konferensi pers laporan kinerja akhir tahun di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.

Fitroh menjelaskan, operasi tangkap tangan yang dilakukan sepanjang 2025 membuka praktik korupsi yang bersifat sistematis dan menyentuh sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Ia menyebut kasus-kasus tersebut ditemukan di bidang kesehatan, pekerjaan umum, hingga praktik jual beli jabatan.

Selain penindakan, KPK juga mencatat capaian pemulihan keuangan negara yang signifikan. Sepanjang 2025, nilai pemulihan keuangan negara mencapai Rp1,53 triliun yang berasal dari denda, uang pengganti, dan hasil rampasan. Seluruhnya disetorkan ke kas negara sebagai penerimaan negara bukan pajak.

Menurut Fitroh, capaian tersebut tidak terlepas dari peran serta masyarakat yang turut melaporkan dugaan tindak pidana korupsi. Ia menilai keterlibatan publik menjadi salah satu pintu masuk penting dalam pengungkapan perkara. “Banyak kasus yang berawal dari peran masyarakat,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

3.508 PPPK‎ Resmi di Lantik,Bupati Lebak Coret 55 PPPK Tak Memenuhi Syarat

Bupati Lebak Moch Hasbi Asyidiki Jayabaya Usai Memberikan Sambutan di Acara Pelantikan Langsung Menyerahkan SK Pada PPPK
Bupati Lebak Moch Hasbi Asyidiki Jayabaya Usai Memberikan Sambutan di Acara Pelantikan Langsung Menyerahkan SK Pada PPPK

Lebak, aktual.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, melantik 3.508 pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu dan mencoret 55 PPPK karena tidak memenuhi persyaratan sesuai petunjuk teknis (juknis).

‎Keputusan tersebut diambil setelah melalui proses verifikasi dan evaluasi administrasi secara menyeluruh.

Moch Hasbi Asyidiki Jayabaya ‎Bupati Lebak dalam sambutannya mengatakan, dari total 3.563 peserta, sebanyak 3.508 orang dinyatakan memenuhi syarat dan resmi Lantik dan diambil sumpah jabatannya bertempat dilapangan bola Uwes Qorni Pasir Ona Senin, (22/12/2025).

‎“Dari 3563 peserta, 55 orang tidak memenuhi syarat. Rinciannya, 50 orang tidak hadir saat masa sanggah, dan 5 orang tidak memenuhi ketentuan minimal masa kerja dua tahun. Oleh karena itu, kita coret,” ujar Hasbi usai melaksanakan pelantikan.

Bupati ‎Hasbi menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari peraturan pemerintah dan ketentuan Kementerian PAN-RB yang mengatur bahwa mulai tahun 2026 tidak diperbolehkan lagi pegawai dengan status kontrak di lingkungan pemerintahan.

‎Meski demikian, Pemkab Lebak masih membutuhkan tambahan aparatur di sejumlah sektor strategis, seperti Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Inspektorat, dan Dinas Pemadam Kebakaran, terutama untuk posisi asesor dan auditor.

‎Untuk penggajian 3.508 PPPK, Pemkab Lebak mengalokasikan anggaran sebesar Rp15,7 miliar. Anggaran tersebut sebagian besar berasal dari pegawai existing yang sebelumnya telah bekerja di lingkungan Pemkab Lebak.

‎“Bagi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan, kesejahteraan mereka kini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya,” jelasnya.

‎Hasbi menegaskan seluruh proses seleksi dilakukan secara transparan tanpa titipan. Ia juga menekankan pentingnya peran PPPK dalam memberikan pelayanan publik, tidak hanya di kantor, tetapi juga di masyarakat.

‎“Pelayanan publik ini hadir di mana pun, termasuk di lingkungan tempat tinggal, kampung, dan desa masing-masing,” papar Bupati.

‎Di tengah keterbatasan fiskal daerah, Pemkab Lebak mengoptimalkan kebijakan Instruksi Presiden Nomor 1 tentang efisiensi anggaran, dengan melakukan pergeseran anggaran untuk mendukung pembangunan yang lebih produktif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Sementara itu, Danis Apriyan (35) yang sudah mengabdi sejak tahun 2018 hingga 2025 selama 7 tahun di dinas Lingkungan Hidup (LH) sebagai petugas kebersihan, saya merasa senang dan bahagia, karena sudah sekian lama menunggu akhirnya kesampaian juga dilantik menjadi PPPK.

Saya mengucapkan terimakasih pada Bapak Bupati yang telah melantik PPPK,Paruh Waktu,” ucapnya dengan penuh kebahagiaan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Menguatkan Peran Ibu Bangsa demi Terwujudnya Keadilan Sosial

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) GKR Hemas, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi dan Ketua Kaukus Perempuan Parlemen Badikenita BR Sitepu hadir dalam Musyawarah Ibu Bangsa di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/12/2025). Musyawarah Ibu Bangsa digelar dalam rangka memperingati Hari Ibu yang secara khusus di desain menjadi sebuah wadah di mana pikiran-pikiran kembali disatukan sedemikian rupa untuk kembali menggali pikiran-pikiran para perempuan di Indonesia. Aktual/TINO OKTAVIANO

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Bergaji Rp25 Juta Tapi Tekor, Pejabat Bursa Bongkar Realita Keuangan Kelas Menengah

Jakarta, Aktual.com — Tingginya penghasilan tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi keuangan yang sehat. Fenomena paradoks finansial kelas menengah kembali disorot, menyusul banyaknya pekerja bergaji besar yang justru terjebak defisit akibat gaya hidup dan pengelolaan keuangan yang kurang bijak.

Kepala Unit Riset Pasar Modal Bursa Efek Indonesia (BEI) Heidy Ruswita Sari mengungkapkan paradoks keuangan yang kerap dialami kelompok kelas menengah. Menurutnya, besarnya gaji tidak otomatis menjamin seseorang mencapai kemerdekaan finansial.

“Kalau gaji kecil atau besar itu relatif. Yang paling penting adalah seberapa banyak yang tersisa dan bisa kita simpan,” ujar Heidy dalam kegiatan Literasi Keuangan bagi Segmen Perempuan di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Senin (22/12/2025).

Ia mencontohkan, tidak sedikit pekerja dengan penghasilan puluhan juta rupiah justru mengalami tekanan finansial akibat gaya hidup konsumtif dan beban utang yang tidak terkontrol. Sebaliknya, pekerja dengan gaji lebih kecil tetapi disiplin mengatur pengeluaran dan menabung justru bisa lebih aman secara keuangan.

“Orang bergaji Rp25 juta bisa lebih tertekan dibanding yang gajinya Rp7 juta kalau pengelolaannya tidak benar,” katanya.

Heidy menjelaskan, kemerdekaan finansial bukan semata-mata soal besarnya pendapatan, melainkan kondisi ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya tanpa rasa khawatir terhadap masa depan keuangan.

“Ketika kita ingin jalan-jalan, umrah, atau mentraktir orang tua, uangnya tersedia dan tidak mengganggu kebutuhan lain,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya investasi sebagai instrumen untuk menjaga nilai uang dari tekanan inflasi. Menurutnya, menyimpan uang tanpa strategi justru berisiko menurunkan daya beli dalam jangka panjang.

Namun demikian, Heidy mengingatkan masyarakat agar memahami profil risiko sebelum berinvestasi di pasar modal. “Kalau investasinya bikin tidur tidak nyenyak, berarti itu tidak cocok,” katanya.

Melalui kegiatan literasi keuangan tersebut, BEI berharap pemahaman masyarakat, khususnya kelas menengah, terhadap pengelolaan keuangan dan investasi semakin meningkat. Langkah ini dinilai penting untuk mendorong stabilitas ekonomi keluarga dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain