12 Januari 2026
Beranda blog Halaman 41076

Cindera Mata Turis, Perajin Tenun Cepuk Rangrang Kembali Menggeliat

Jakarta, Aktual.co — Tenun Cepuk Rangrang, hasil kerajinan skala rumah tangga yang diwarisi masyarakat Nusa Penida, sebuah pulau yang terpisah dengan daratan Bali, kembali menggeliat, karena sebelumnya hanya untuk kelengkapan ritual keagamaan masyarakat setempat.

“Tenun Rangrang yang disakralkan kini mulai diproduksi masyarakat secara besar-besaran sebagai cindera mata bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke daerah itu,” kata Ketua Kelompok Industri Tenun Wanangun Asri, Desa Pakraman Karang, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Wayan Sukertha, Senin (08/12).

Ia mengatakan, tenun Cepuk Rangrang menggunakan motif kain tenun hasil karya warga setempat yang mulai dipromosikan kepada masyarakat luas.

“Nenek moyang kami ratusan tahun silam, sudah menyimpan harta karun, yaitu kain tenun bernama Cepuk Rangrang. Cepuk rangrang hanya dipakai saat upacara keagamaan saja,” ujar Sukerta.

Tenun Cepuk Rangrang berasal dari kata Cepuk dan Rangrang atau disebut kain bolong-bolong. Cepuk bolong-bolong (lubang) ini merupakan simbol transparansi.

Industri dari kelompok tersebut mulai berkembang berkat bantuan dan dukungan dari Bank Indonesia sebagai pembina dan antusiasme tinggi masyarakat Desa Pejukutan sejak empat tahun silam..

“Motif tenun Cepuk Rangrang ini simbol dari transparansi, yang hanya biasa digunakan untuk upacara keagamaan saja, Trasparansi tersebut disimbulkan dengan ketulusan hati dalam melakukan persembahan atau yadnya,” katanya.

Masyarakat setempat ingin menampilkan produk industri yang menjadi matadagangan andalan, namun selama ini terkendala dengan modal dan syukur mendapat pembinaan dari BI sejak empat tahun lalu.

Tenun Cepuk Rangrang memiliki ciri khas, pada lembaran kain tenun terdapat ruang-ruang kecil berlubang. Sementara, motifnya juga berbeda dengan tenun-tenun hasil karya masyarakat di kabupaten lainnya di Bali.

Selain desain berlubang dan motif yang berbeda, warnanya pun juga lebih cerah dari tenun lainnya. Tenun Cepuk Rangang didominasi warna merah, orange dan ungu.

Pemilihan bahan warna bisa menggunakan bahan kimia atau bahan alami terbuat dari daun, buah dan akar-akaran pohon kayu tertentu, yang terdapat di daerahsekitar Pulau Nusa Penida.

Harga tenun itu brvariasi, selendang dihargai Rp 100.000 hingga Rp200.000 per lembar. Sedangkan kain tenun yang lebar dijual antara Rp 400.000 hingga Rp 1,2 juta per lembar, Satu selendang yang berukuran 60cm kali 200cm bisa dihasilkan selama 2-3 hari.

Artikel ini ditulis oleh:

Cindera Mata Turis, Perajin Tenun Cepuk Rangrang Kembali Menggeliat

Jakarta, Aktual.co — Tenun Cepuk Rangrang, hasil kerajinan skala rumah tangga yang diwarisi masyarakat Nusa Penida, sebuah pulau yang terpisah dengan daratan Bali, kembali menggeliat, karena sebelumnya hanya untuk kelengkapan ritual keagamaan masyarakat setempat.

“Tenun Rangrang yang disakralkan kini mulai diproduksi masyarakat secara besar-besaran sebagai cindera mata bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke daerah itu,” kata Ketua Kelompok Industri Tenun Wanangun Asri, Desa Pakraman Karang, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Wayan Sukertha, Senin (08/12).

Ia mengatakan, tenun Cepuk Rangrang menggunakan motif kain tenun hasil karya warga setempat yang mulai dipromosikan kepada masyarakat luas.

“Nenek moyang kami ratusan tahun silam, sudah menyimpan harta karun, yaitu kain tenun bernama Cepuk Rangrang. Cepuk rangrang hanya dipakai saat upacara keagamaan saja,” ujar Sukerta.

Tenun Cepuk Rangrang berasal dari kata Cepuk dan Rangrang atau disebut kain bolong-bolong. Cepuk bolong-bolong (lubang) ini merupakan simbol transparansi.

Industri dari kelompok tersebut mulai berkembang berkat bantuan dan dukungan dari Bank Indonesia sebagai pembina dan antusiasme tinggi masyarakat Desa Pejukutan sejak empat tahun silam..

“Motif tenun Cepuk Rangrang ini simbol dari transparansi, yang hanya biasa digunakan untuk upacara keagamaan saja, Trasparansi tersebut disimbulkan dengan ketulusan hati dalam melakukan persembahan atau yadnya,” katanya.

Masyarakat setempat ingin menampilkan produk industri yang menjadi matadagangan andalan, namun selama ini terkendala dengan modal dan syukur mendapat pembinaan dari BI sejak empat tahun lalu.

Tenun Cepuk Rangrang memiliki ciri khas, pada lembaran kain tenun terdapat ruang-ruang kecil berlubang. Sementara, motifnya juga berbeda dengan tenun-tenun hasil karya masyarakat di kabupaten lainnya di Bali.

Selain desain berlubang dan motif yang berbeda, warnanya pun juga lebih cerah dari tenun lainnya. Tenun Cepuk Rangang didominasi warna merah, orange dan ungu.

Pemilihan bahan warna bisa menggunakan bahan kimia atau bahan alami terbuat dari daun, buah dan akar-akaran pohon kayu tertentu, yang terdapat di daerahsekitar Pulau Nusa Penida.

Harga tenun itu brvariasi, selendang dihargai Rp 100.000 hingga Rp200.000 per lembar. Sedangkan kain tenun yang lebar dijual antara Rp 400.000 hingga Rp 1,2 juta per lembar, Satu selendang yang berukuran 60cm kali 200cm bisa dihasilkan selama 2-3 hari.

Artikel ini ditulis oleh:

Polisi Kumpulkan Data Antemortem 35 Korban Tenggelamnya Kapal Oryong

Jakarta, Aktual.co — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri bergerak membantu mengumpulkan data antemortem terkait peristiwa tenggelamnya Kapal Ikan Oryong 501, di Laut Bering, Rusia, Senin (1/12).
Sebab, sejumlah Warga Negara Indonesia juga berada pada kapal naas tersebut. Kapal yang teridentifikasi milik Korea Selatan itu, membawa 62 awak kapal. Terdiri dari satu WN Rusia, 11 WN Korsel, 13 WN Filipina dan 35 WNI.
Direktur Eksekutif DVI Mabes Polri Kombes Anton Castilani, menjelaskan dari 35 WNI itu, tiga asal DKI Jakarta, delapan Jawa Barat, 17 Jawa Tengah serta satu dari Jawa Timur. Kemudian dari Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara masing-masing satu orang serta Maluku tiga orang.
Anton menambahkan, sehari pascakejadian, kemudian ada permintaan kepada Polri lewat Kedutaan Besar RI di Seoul, Korsel, untuk menyiapkan data ante mortem pada anak buah kapal asal Indonesia tersebut. “Kami segera membentuk tim,” tegas Anton di Mabes Polri, Senin (8/12).
Dari kegiatan penyelamatan yang dilakukan, lanjutnya, otoritas setempat sudah ditemukan 14 WNI ABK kapal itu. Tiga di antaranya selamat. Kemudian 11 orang ditemukan sudah tewas.
Pihaknya menyiapkan family assistance center, untuk pihak keluarga menerima informasi tentang perkembangan kegiatan DVI. Dia berharap itu dapat memberikan informasi terkait proses identifikasi korban.
“Termasuk informasi dari keluarga. Serta proses identifikasi dan pemulangan jenazah kalau ditemukan di kemudian hari,” katanya.
Dia mengatakan tim ante mortem sedang mengumpulkan berbagai data dari record, sidik jari, DNA dari keluarga terdekat. “Nanti Kepolisian Korea akan menunggu info yang kita kumpulkan,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Polisi Kumpulkan Data Antemortem 35 Korban Tenggelamnya Kapal Oryong

Jakarta, Aktual.co — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri bergerak membantu mengumpulkan data antemortem terkait peristiwa tenggelamnya Kapal Ikan Oryong 501, di Laut Bering, Rusia, Senin (1/12).
Sebab, sejumlah Warga Negara Indonesia juga berada pada kapal naas tersebut. Kapal yang teridentifikasi milik Korea Selatan itu, membawa 62 awak kapal. Terdiri dari satu WN Rusia, 11 WN Korsel, 13 WN Filipina dan 35 WNI.
Direktur Eksekutif DVI Mabes Polri Kombes Anton Castilani, menjelaskan dari 35 WNI itu, tiga asal DKI Jakarta, delapan Jawa Barat, 17 Jawa Tengah serta satu dari Jawa Timur. Kemudian dari Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara masing-masing satu orang serta Maluku tiga orang.
Anton menambahkan, sehari pascakejadian, kemudian ada permintaan kepada Polri lewat Kedutaan Besar RI di Seoul, Korsel, untuk menyiapkan data ante mortem pada anak buah kapal asal Indonesia tersebut. “Kami segera membentuk tim,” tegas Anton di Mabes Polri, Senin (8/12).
Dari kegiatan penyelamatan yang dilakukan, lanjutnya, otoritas setempat sudah ditemukan 14 WNI ABK kapal itu. Tiga di antaranya selamat. Kemudian 11 orang ditemukan sudah tewas.
Pihaknya menyiapkan family assistance center, untuk pihak keluarga menerima informasi tentang perkembangan kegiatan DVI. Dia berharap itu dapat memberikan informasi terkait proses identifikasi korban.
“Termasuk informasi dari keluarga. Serta proses identifikasi dan pemulangan jenazah kalau ditemukan di kemudian hari,” katanya.
Dia mengatakan tim ante mortem sedang mengumpulkan berbagai data dari record, sidik jari, DNA dari keluarga terdekat. “Nanti Kepolisian Korea akan menunggu info yang kita kumpulkan,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Muhammadiyah Tidak Setuju Pernyataan Kemenag Soal Atribut Natal

Jakarta, Aktual.co — Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan Muslim tetap tak boleh mengenakan atribut Natal meskipun hal itu untuk kepentingan bisnis.

“Saya tidak setuju dengan pernyataan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Dirjen Bimas Kemenag), Machasin, yang menyatakan pengenaan atribut sah-sah saja,” ujar Anwar Abbas di Jakarta, Senin (8/13).

Menurut dia, penggenaan atribut Natal tidak diperkenankan karena sudah menyangkut masalah keyakinan.

Anwar menjelaskan, Natal merupakan persoalan agama dan tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis. Dalam Al Quran surat Alkafirun dinyatakan bahwa orang-orang non Muslim dipersilakan mengerjakan ibadahnya sendiri, Muslim pun mengerjakan ibadah sendiri dan tidak memaksa non Muslim untuk mengikutinya.

“Ini sudah menyangkut keyakinan seseorang,” jelas dia.

Ia menjelaskan Dirjen Bimas Islam Kemenag Machasin lebih cocok menjadi akademisi bukan birokrat, karena mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

“Sebagai akademisi, dia bebas berbicara tentang bidangnya. Tapi kalau dia jadi birokrat ceritanya jadi lain. Dia terikat dengan aturan birokrasi.” Tugas birokrat adalah melayani umat, membantu umat, bukan membuat masalah dan menjadi beban bagi umat.

“Dan kalau dia sebagai birokrat akan melakukan sesuatu harus ada dasar hukumnya agar tidak membuat gaduh,” pinta dia.

Jika hal itu dibiarkan, maka tidak mustahil Kemenag bukannya menjadi pelayan umat atau rakyat tapi malah menjadi musuh umat dan musuh rakyat.

“Menurut saya karena masalah tersebut sudah menyangkut masalah keyakinan, maka Machasin sebagai salah seorang Dirjen di Kemenag janganlah mengeluarkan opini apalagi fatwa tanpa meminta pendapat MUI,” terang dia.

Jika masih mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam lagi, lanjut dia, maka sebaiknya Machasin dikembalikan ke kampus, sehingga peluang berwacana lebih terbuka.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Muhammadiyah Tidak Setuju Pernyataan Kemenag Soal Atribut Natal

Jakarta, Aktual.co — Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan Muslim tetap tak boleh mengenakan atribut Natal meskipun hal itu untuk kepentingan bisnis.

“Saya tidak setuju dengan pernyataan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Dirjen Bimas Kemenag), Machasin, yang menyatakan pengenaan atribut sah-sah saja,” ujar Anwar Abbas di Jakarta, Senin (8/13).

Menurut dia, penggenaan atribut Natal tidak diperkenankan karena sudah menyangkut masalah keyakinan.

Anwar menjelaskan, Natal merupakan persoalan agama dan tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis. Dalam Al Quran surat Alkafirun dinyatakan bahwa orang-orang non Muslim dipersilakan mengerjakan ibadahnya sendiri, Muslim pun mengerjakan ibadah sendiri dan tidak memaksa non Muslim untuk mengikutinya.

“Ini sudah menyangkut keyakinan seseorang,” jelas dia.

Ia menjelaskan Dirjen Bimas Islam Kemenag Machasin lebih cocok menjadi akademisi bukan birokrat, karena mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

“Sebagai akademisi, dia bebas berbicara tentang bidangnya. Tapi kalau dia jadi birokrat ceritanya jadi lain. Dia terikat dengan aturan birokrasi.” Tugas birokrat adalah melayani umat, membantu umat, bukan membuat masalah dan menjadi beban bagi umat.

“Dan kalau dia sebagai birokrat akan melakukan sesuatu harus ada dasar hukumnya agar tidak membuat gaduh,” pinta dia.

Jika hal itu dibiarkan, maka tidak mustahil Kemenag bukannya menjadi pelayan umat atau rakyat tapi malah menjadi musuh umat dan musuh rakyat.

“Menurut saya karena masalah tersebut sudah menyangkut masalah keyakinan, maka Machasin sebagai salah seorang Dirjen di Kemenag janganlah mengeluarkan opini apalagi fatwa tanpa meminta pendapat MUI,” terang dia.

Jika masih mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam lagi, lanjut dia, maka sebaiknya Machasin dikembalikan ke kampus, sehingga peluang berwacana lebih terbuka.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Berita Lain