14 Januari 2026
Beranda blog Halaman 41106

Bentrok Antar Kelompok Mahasiswa di Makassar, Dua Orang Terkena Panah

Jakarta, Aktual.co — Bentrok antar dua kelompok mahasiswa di jalan Mannuruki Dua, Tamalate, Makassar, menyebabkan dua orang luka terkena panah pada Minggu (7/12) malam.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Sulsel, Kombespol Endi Sutendi mengaku tak mengetahui motif bentrokan mahasiswa tersebut.
Dua kelompok ini saling melempar batu, melepaskan anak panah, dan membawa senjata tajam. Dua mahasiswa, Renaldi (20) dan Faris dilaporkan terkena panah.
Bentrokan usai ketika pihak kepolisian tiba di lokasi dan membubarkannya.

Artikel ini ditulis oleh:

Bentrok Antar Kelompok Mahasiswa di Makassar, Dua Orang Terkena Panah

Jakarta, Aktual.co — Bentrok antar dua kelompok mahasiswa di jalan Mannuruki Dua, Tamalate, Makassar, menyebabkan dua orang luka terkena panah pada Minggu (7/12) malam.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Sulsel, Kombespol Endi Sutendi mengaku tak mengetahui motif bentrokan mahasiswa tersebut.
Dua kelompok ini saling melempar batu, melepaskan anak panah, dan membawa senjata tajam. Dua mahasiswa, Renaldi (20) dan Faris dilaporkan terkena panah.
Bentrokan usai ketika pihak kepolisian tiba di lokasi dan membubarkannya.

Artikel ini ditulis oleh:

Anggaran Reses DPR 2014 Dinilai Mubadzir

Jakarta, Aktual.co — Anggaran reses DPR periode 2014 mencapai Rp994,9 miliar, atau melonjak hingga 44 persen dibanding periode 2013 sebesar Rp678.4 miliar.
Pengamat politik anggaran Uchok Sky Khadafi mengatakan, tinggi dan mahal biaya reses DPR hanya akan menambah mubadzir anggaran negara yang dikumpulkan dari pajak rakyat. Sebab tujuan dan fungsi reses itu sudah mandul tanpa hasil yang jelas.
“Kegiatan saat reses juga membosankan konstituen, dan  dewan tidak bisa membawa aspirasi rakyat ke tingkat nasional,” kata Uchok.
Alih-alih memperjuangkan aspirasi rakyat, para anggota dewan malah ribut dan bercekcok antara mereka sendiri, baik di fraksi, partai, dan kelompok kerjanya. Di sisi lain, pemerintah Jokowi tampak sangat menikmati ulah adu domba yang dia lakukan sehingga kegaduhan politik tak kunjung selesai.
Biar puas, Uchok menyarankan Pemerintah Jokowi menyediakan ring adu domba antar anggota dewan sehingga keributan bisa dilokalisir.
“Akan lebih baik disediakan oleh pemerintah Jokowi sebuah “Ring Tinju” saja di DPR  agar pertarungan berantem ini tidak liar, dapat ditonton oleh seluruh rakyat, dan pemerintah Jokowi juga puas adu dombanya,” pungkas Uchok.
Laporan: M Sahlan

Artikel ini ditulis oleh:

Anggaran Reses DPR 2014 Dinilai Mubadzir

Jakarta, Aktual.co — Anggaran reses DPR periode 2014 mencapai Rp994,9 miliar, atau melonjak hingga 44 persen dibanding periode 2013 sebesar Rp678.4 miliar.
Pengamat politik anggaran Uchok Sky Khadafi mengatakan, tinggi dan mahal biaya reses DPR hanya akan menambah mubadzir anggaran negara yang dikumpulkan dari pajak rakyat. Sebab tujuan dan fungsi reses itu sudah mandul tanpa hasil yang jelas.
“Kegiatan saat reses juga membosankan konstituen, dan  dewan tidak bisa membawa aspirasi rakyat ke tingkat nasional,” kata Uchok.
Alih-alih memperjuangkan aspirasi rakyat, para anggota dewan malah ribut dan bercekcok antara mereka sendiri, baik di fraksi, partai, dan kelompok kerjanya. Di sisi lain, pemerintah Jokowi tampak sangat menikmati ulah adu domba yang dia lakukan sehingga kegaduhan politik tak kunjung selesai.
Biar puas, Uchok menyarankan Pemerintah Jokowi menyediakan ring adu domba antar anggota dewan sehingga keributan bisa dilokalisir.
“Akan lebih baik disediakan oleh pemerintah Jokowi sebuah “Ring Tinju” saja di DPR  agar pertarungan berantem ini tidak liar, dapat ditonton oleh seluruh rakyat, dan pemerintah Jokowi juga puas adu dombanya,” pungkas Uchok.
Laporan: M Sahlan

Artikel ini ditulis oleh:

Wapres JK: Kebijakan Pemerintah Ibarat “Minum Obat”

Jakarta, Aktual.co — Beragamkebijakan yang dilakukan pemerintah saat ini banyak ditentang atau dikritik berbagai kalangan masyarakat, peneliti, akademisi bahkan kalangan DPR. Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, manfaat kebijakan tersebut jangan dilihat efek jangka pendeknya, tetapi harus dilihat dampak jangka panjangnya.

“Jangan lihat jangka pendek,” kata Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (8/12).

Menurut JK, kebijakan pemerintahan saat ini adalah seperti “minum obat” yang awalnya berasa pahit, tetapi selanjutnya akan memiliki manfaat yang berjangka panjang. Indonesia sebenarnya pada masa lalu memiliki kesempatan untuk maju, tetapi masih kerap terjadi praktik eksploitasi yang hanya berjangka pendek.

Ia mencontohkan sekitar tahun 70-an, pengusaha yang hebat rata-rata bergerak di bidang kayu dan memiliki HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Namun, hal tersebut ternyata berdampak kepada banyak pohon yang ditebang pengusaha, sehingga banyak kawasan yang banjir hingga kini.

Begitu juga, ujar dia, dengan yang terjadi pada masa saat ini yang dapat dikatakan sebagai era kejayaan bagi pengusaha tambang.

“Apa yang terjadi, lingkungan kita habis. Untuk itu, ke depannya harus dengan proses dan tidak bisa hanya ekstraktif,” tukasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Wapres JK: Kebijakan Pemerintah Ibarat “Minum Obat”

Jakarta, Aktual.co — Beragamkebijakan yang dilakukan pemerintah saat ini banyak ditentang atau dikritik berbagai kalangan masyarakat, peneliti, akademisi bahkan kalangan DPR. Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, manfaat kebijakan tersebut jangan dilihat efek jangka pendeknya, tetapi harus dilihat dampak jangka panjangnya.

“Jangan lihat jangka pendek,” kata Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (8/12).

Menurut JK, kebijakan pemerintahan saat ini adalah seperti “minum obat” yang awalnya berasa pahit, tetapi selanjutnya akan memiliki manfaat yang berjangka panjang. Indonesia sebenarnya pada masa lalu memiliki kesempatan untuk maju, tetapi masih kerap terjadi praktik eksploitasi yang hanya berjangka pendek.

Ia mencontohkan sekitar tahun 70-an, pengusaha yang hebat rata-rata bergerak di bidang kayu dan memiliki HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Namun, hal tersebut ternyata berdampak kepada banyak pohon yang ditebang pengusaha, sehingga banyak kawasan yang banjir hingga kini.

Begitu juga, ujar dia, dengan yang terjadi pada masa saat ini yang dapat dikatakan sebagai era kejayaan bagi pengusaha tambang.

“Apa yang terjadi, lingkungan kita habis. Untuk itu, ke depannya harus dengan proses dan tidak bisa hanya ekstraktif,” tukasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain