9 April 2026
Beranda blog Halaman 41251

Penyu Masih Bertahan di Pulau Sangkali

Jakarta, Aktual.co — Pulau Sangalaki dan perairan di sekitarnya terus dipertahankan menjadi tempat habitat alami penyu, meskipun satwa langka ini terus terancam punah.

“Kami akan terus pertahankan, apa pun yang terjadi,” kata Lipu, relawan staf World Wildlife Fund (WWF) di Pulau Sangalaki, Kaltim, Rabu (10/12).

Kepulauan Derawan, terutama Pulau Derawan dan Pulau Sangalaki, juga sekitar Pulau Semama, Bilang-bilangan, dan Mataha menjadi tempat perlintasan penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Pulau Sangalaki bisa dicapai dalam 45 menit ke timur dengan speedboat berkekuatan dua kali 200 tenaga kuda dari Pulau Derawan.

Penyu yang akan bertelur berkeliaran di perairan pulau-pulau itu paling tidak selama setengah tahun. Mereka naik ke darat untuk bertelur selang 15 hari selama enam bulan.

“Setelah bulan Agustus ini, setiap malam masih ada rata-rata 15 ekor yang naik untuk bertelur,” kata Lipu.

Setelah itu para penyu kembali mengembara di laut lepas. Penyu yang bertelur di Derawan atau Sangalaki, berdasar dari tag yang dipasang di sirip kirinya, ditemukan menjelajah hingga perairan Filipina dan Samudera Pasifik, ribuan kilometer dari tempatnya dilahirkan.

Masa bertelur penyu ada di antara bulan April-Agustus. Menurut Lipu, pada saat itu bisa sampai 30 ekor lebih penyu yang naik setiap malam di Pulau Sangalaki. Mereka mulai merayap ke pantai setelah matahari tenggelam hingga sedikit lewat tengah malam. Penyu-penyu berada di darat selama lebih kurang tigam jam sebelum turun kembali ke laut.

Lipu juga menuturkan, jumlah 30 ekor ini merupakan penurunan yang sangat jauh. Pada tahun 50-an jumlah penyu setiap malam yang bertelur mencapai 200-an ekor. Masuk dekade 70-an, masih ada 150-an yang naik ke Sangalaki. Tahun 90-an, jumlah penyu yang bertelur menurun drastis menjadi seperti sekarang.

“Saat itu banyak penyu ditangkap dan dibunuh untuk diambil cangkangnya. Telurnya juga diambil untuk dimakan,” kata Lipu.

Artikel ini ditulis oleh:

Misbakhun Enggan Tanggapi RUU Kamnas

Jakarta, Aktual.co — Politisi Partai Golkar, Muhammad Misbakhun enggan menanggapi wacana Presiden Jokowi memasukan kembali RUU Kamnas dalam prolegnas 2015 nanti.
Ia hanya mau menanggapi perihal pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang mengusulkan agar Polri berada di bawah kementerian. Jadi bukan lagi langsung di bawah presiden.
“Saya setuju keinginan pemerintah untuk membuat demokrasi kita lebih kuat, dengan sistem demokrasi sipil kita lebih kuat adalah polisi di bawah kementerian,” ucap dia, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/12).
Ia berpandangan, dengan belum menempatkan Polri di bawah kementerian, adalah salah satu proses reformasi yang selesai.
“Sehingga saya setuju, karena itu adalah amanat reformasi,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Misbakhun Enggan Tanggapi RUU Kamnas

Jakarta, Aktual.co — Politisi Partai Golkar, Muhammad Misbakhun enggan menanggapi wacana Presiden Jokowi memasukan kembali RUU Kamnas dalam prolegnas 2015 nanti.
Ia hanya mau menanggapi perihal pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang mengusulkan agar Polri berada di bawah kementerian. Jadi bukan lagi langsung di bawah presiden.
“Saya setuju keinginan pemerintah untuk membuat demokrasi kita lebih kuat, dengan sistem demokrasi sipil kita lebih kuat adalah polisi di bawah kementerian,” ucap dia, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/12).
Ia berpandangan, dengan belum menempatkan Polri di bawah kementerian, adalah salah satu proses reformasi yang selesai.
“Sehingga saya setuju, karena itu adalah amanat reformasi,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Mantan Presiden Polandia Minta CIA Tak Brutal Lakukan Interogasi

Jakarta, Aktual.co — Polandia telah melakukan tekanan terhadap Amerika Serikat, agar negara itu mengakhiri interogasi brutal oleh CIA terhadap para tersangka Al-Qaeda dalam penjara rahasia di wilayah Polandia pada 2003, kata Mantan Presiden Polandia Aleksander Kwasniewski, Rabu (10/12).

“Saya katakan kepada (presiden AS saat itu, George W) Bush bahwa kerja sama ini harus diakhiri dan kemudian memang berakhir,” kata Kwasniewski, dikutip AFP.

Ia berbicara satu hari setelah laporan Senat AS yang keras mengungkapkan bahwa CIA telah menggunakan cara-cara penyiksaan dalam menginterogasi para tahanan setelah serangan teror 2001.

Kwasniewski, yang menjabat sebagai presiden antara 1995 dan 2005, mengatakan ia mengangkat masalah kekhawatiran Polandia menyangkut kegiatan-kegiatan CIA di Polandia ketika ia bertemu muka dengan Bush di Gedung Putih pada 2003.

Ia mengatakan Bush bersikeras bahwa metode-metode yang dijalankan badan intelijen memberikan “keuntungan penting untuk masalah keamanan”.

“Pihak Amerika melakukan kegiatan mereka dalam kerahasiaan seperti itu, yang membuat kami khawatir. Pihak-pihak berwenang Polandia bertindak untuk mengakhiri kegiatan-kegiatan tersebut, yang (kemudian, red) dihentikan atas tekanan dari Polandia.” Pernyataan Kwasniewski itu merupakan yang pertama kalinya diberikan oleh pemimpin tingkat tinggi Polandia sejak diketahui secara terbuka bahwa Polandia mengizinkan keberadaan “lokasi-lokasi hitam” rahasia AS di wilayahnya.

Kwasniewski mengatakan ia sebelumnya setuju untuk “meningkatkan kerja sama intelijen” dengan AS namun bersikeras bahwa ia tidak mengetahui bahwa CIA melakukan penyiksaan di fasilitas-fasilitas rahasianya.

Polandia mendapat tuduhan-tuduhan yang diarahkan padanya antara 2002-2003.

Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa pada Juli mengecam Polandia atas keterlibatannya dalam penyiksaan yang terjadi di wilayahnya terhadap seorang warga Palestina dan Arab Saudi. Kedua tahanan itu kemudian dipindahkan ke penjara AS di Teluk Guantanamo.

Pengadilan tersebut menyimpulkan bahwa Polandia melakukan kerja sama dalam program CIA yang terkenal jahat itu.

CIA menentang temuan-temuan yang terangkum dalam laporan Senat AS tersebut, yang mengatakan bahwa 119 tahanan ditangkap dan dijebloskan ke “lokasi-lokasi hitam” CIA yang rahasia di negara-negara, yang namanya dihapus.

Laporan-laporan sebelumnya menunjukkan bahwa lokasi-lokasi tersebut berada di Afghanistan, Lithuania, Polandia, Romania dan Thailand.

Para jaksa penuntut telah menyelidiki dugaan-dugaan terkait penjara-penjara rahasia CIA sejak 2008. Mereka mengatakan pada Selasa mereka akan meminta akses untuk mendapatkan laporan tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Mantan Presiden Polandia Minta CIA Tak Brutal Lakukan Interogasi

Jakarta, Aktual.co — Polandia telah melakukan tekanan terhadap Amerika Serikat, agar negara itu mengakhiri interogasi brutal oleh CIA terhadap para tersangka Al-Qaeda dalam penjara rahasia di wilayah Polandia pada 2003, kata Mantan Presiden Polandia Aleksander Kwasniewski, Rabu (10/12).

“Saya katakan kepada (presiden AS saat itu, George W) Bush bahwa kerja sama ini harus diakhiri dan kemudian memang berakhir,” kata Kwasniewski, dikutip AFP.

Ia berbicara satu hari setelah laporan Senat AS yang keras mengungkapkan bahwa CIA telah menggunakan cara-cara penyiksaan dalam menginterogasi para tahanan setelah serangan teror 2001.

Kwasniewski, yang menjabat sebagai presiden antara 1995 dan 2005, mengatakan ia mengangkat masalah kekhawatiran Polandia menyangkut kegiatan-kegiatan CIA di Polandia ketika ia bertemu muka dengan Bush di Gedung Putih pada 2003.

Ia mengatakan Bush bersikeras bahwa metode-metode yang dijalankan badan intelijen memberikan “keuntungan penting untuk masalah keamanan”.

“Pihak Amerika melakukan kegiatan mereka dalam kerahasiaan seperti itu, yang membuat kami khawatir. Pihak-pihak berwenang Polandia bertindak untuk mengakhiri kegiatan-kegiatan tersebut, yang (kemudian, red) dihentikan atas tekanan dari Polandia.” Pernyataan Kwasniewski itu merupakan yang pertama kalinya diberikan oleh pemimpin tingkat tinggi Polandia sejak diketahui secara terbuka bahwa Polandia mengizinkan keberadaan “lokasi-lokasi hitam” rahasia AS di wilayahnya.

Kwasniewski mengatakan ia sebelumnya setuju untuk “meningkatkan kerja sama intelijen” dengan AS namun bersikeras bahwa ia tidak mengetahui bahwa CIA melakukan penyiksaan di fasilitas-fasilitas rahasianya.

Polandia mendapat tuduhan-tuduhan yang diarahkan padanya antara 2002-2003.

Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa pada Juli mengecam Polandia atas keterlibatannya dalam penyiksaan yang terjadi di wilayahnya terhadap seorang warga Palestina dan Arab Saudi. Kedua tahanan itu kemudian dipindahkan ke penjara AS di Teluk Guantanamo.

Pengadilan tersebut menyimpulkan bahwa Polandia melakukan kerja sama dalam program CIA yang terkenal jahat itu.

CIA menentang temuan-temuan yang terangkum dalam laporan Senat AS tersebut, yang mengatakan bahwa 119 tahanan ditangkap dan dijebloskan ke “lokasi-lokasi hitam” CIA yang rahasia di negara-negara, yang namanya dihapus.

Laporan-laporan sebelumnya menunjukkan bahwa lokasi-lokasi tersebut berada di Afghanistan, Lithuania, Polandia, Romania dan Thailand.

Para jaksa penuntut telah menyelidiki dugaan-dugaan terkait penjara-penjara rahasia CIA sejak 2008. Mereka mengatakan pada Selasa mereka akan meminta akses untuk mendapatkan laporan tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Thailand ke Final Piala AFF Kalahkan Filipina 3-0

Jakarta, Aktual.co — Thailand lolos ke babak final kejuaraan sepak bola Asia Tenggara, Piala AFF 2014 setelah dalam pertandingan semifinal leg kedua, Rabu (10/12), mengalahkan Filipina 3-0.

Seperti dikutip dari situs remi AFF, dengan kemenangan pada pertandingan di Bangkok tersebut Thailand unggul agregat 3-0 karena pada semifinal leg pertama di Filipina pekan lalu kedua tim imbang 0-0.

Gol-gol Thailand dicetak oleh pemain depan Chanathip Songkrasin menit keenam, serta Kroekit Thawikan menit ke-57 dan 86.

Thailand kini menunggu calon lawan di final yang masih diperebutkan oleh Vietnam dan Malaysia.

Vietnam yang hari Kamis (11/12) akan menjadi tuan rumah semifinal leg kedua, berada di atas angin karena pada leg pertama berhasil mengalahkan tuan rumah Malaysia 2-1.

Babak final akan berlangsung dengan sistem kandang dan tandang pada 17 dan 20 Desember.

“Kami tidak peduli yang kami hadapi itu Vietnam atau Malaysia di final. Kami siap menghadapi siapapun,” kata pelatih Thailand Kiatisuk Senamuang, usai pertandingan dikutip Reuters.

“Target kami adalah menjuarai Piala Suzuki dan juga pada dua atau tiga tahun yang akan datang,” tambahnya menegaskan.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain