13 April 2026
Beranda blog Halaman 41290

BI Klaim Industri Perbankan Masih Sehat

Jakarta, Aktual.co —  Permasalahan melebarnya perbedaan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan pertumbuhan kredit masih terus berlangsung hingga triwulan 1 tahun 2014. Meningkatnya pertumbuhan kredit yang tidak diimbangi dengan peningkatan sumber dana utamanya tersebut dikhawatirkan berdampak pada liquiditas bank, meningkatkan biaya dana bank, kewajiban jangka pendek perbankan demi memenuhi kebutuhan liquiditasnya, dan menurunnya Net Interest Margin (NIM) bank.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), Darsono mengatakan bahwa industri perbankan sejauh ini masih dalam kondisi sehat. Hanya ada satu bank yang mengalami lonjakan kredit bermasalah (Non Perfoming Loan/NPL).

“Setelah stress test dilakukan, bank-bank kita masih sehat. Hanya ada satu bank saja yang NPL nya melonjak hingga 5,75 persen, namun itu tidak berpengaruh signifikan,” kata Darsono yang enggan emnyebutkan nama bank tersebut, di Kantor BI Jakarta, Rabu (10/12).

Sejalan dengan hal tersebut, BI menetapkan pertumbuhan kredit perbankan pada 2015 pada kisaran 15-17 persen. Hal tersebut dilihat dari kondisi liquiditas industri yang masih memadai dan situasi ekonomi saat ini.

“Liquiditas industri dalam kondisi memadai. Mempertimbangkan ekonomi masih berlangsung normal, 2015 kredit tumbuh 15-17 persen,” ujar Gubernur BI, Agus Martowardojo.

Untuk diketahui, efisensi tersebut diukur dari rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Organisasi (BOPO) di perbankan nasional.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Investasi USD25 Miliar Bakal Dikaji Pertamina dalam Enam Bulan

Jakarta, Aktual.co — Guna meningkatkan kapasitas (upgrade) lima kilang, Pertamina sedikitnya membutuhkan investasi sekitar USD25 miliar selama sepuluh tahun ke depan. Untuk itu Pertamina bermitra dengan tiga perusahaan minyak dan gas global terkemuka untuk kerjasama peningkatan kapasitas dan upgrade lima kilang di Indonesia melalui konsep Refining Development Master Plan (RDMP).

Ketiga mitra tersebut yaitu Saudi Aramco dari Saudi Arabia, Sinopec dari China dan JX Nippon Oil & Energy dari Jepang. Sementara kelima kilang yang akan diupgrading adalah kilang minyak di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah, Kilang Dumai di Riau, Kilang Plaju di Sumatera Selatan, serta kilang Balongan di Jawa Barat.

Terkait pembiayaan, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan bahwa pihaknya bersama para mitra akan mengkaji terlebih dahulu dalam waktu enam bulan ke depan.

“Mengenai funding (pembiayaan) tentu saja itu akan dikaji juga dalam enam bulan masa studi. Nanti enam bulan ke depan kita akan ketemu lagi. Tentu saja masalah finansial dikaitkan dengan kemampuan Pertamina. Paling lambat 6 bulan ke depan kita harus ada agreement, atau kontrak apa yang kita akan lakukan bersama.” kata Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto dalam acara RDMP MoU Signing Ceremony di gedung utama Kantor Pertamina, Jakarta, Rabu (10/12).

Sementara itu, Direktur Pengolahan Pertamina Rahmad Hardadi menuturkan bahwa bentuk kerjasama ini merupakan kesepakatan untuk melakukan join relationship. Di mana dalam waktu beberapa bulan ke depan semua pihak terkait akan mengkaji bersama.

“Bentuk kerjasama ini semacam kesepakatan untuk melakukan join relationship dan kita mengkaji bersama, waktunya 3-6 bulan kajian ini harus firm, kemudian kita wujudkan dalam membangun infrastruktur di area refinery,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Investasi USD25 Miliar Bakal Dikaji Pertamina dalam Enam Bulan

Jakarta, Aktual.co — Guna meningkatkan kapasitas (upgrade) lima kilang, Pertamina sedikitnya membutuhkan investasi sekitar USD25 miliar selama sepuluh tahun ke depan. Untuk itu Pertamina bermitra dengan tiga perusahaan minyak dan gas global terkemuka untuk kerjasama peningkatan kapasitas dan upgrade lima kilang di Indonesia melalui konsep Refining Development Master Plan (RDMP).

Ketiga mitra tersebut yaitu Saudi Aramco dari Saudi Arabia, Sinopec dari China dan JX Nippon Oil & Energy dari Jepang. Sementara kelima kilang yang akan diupgrading adalah kilang minyak di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah, Kilang Dumai di Riau, Kilang Plaju di Sumatera Selatan, serta kilang Balongan di Jawa Barat.

Terkait pembiayaan, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan bahwa pihaknya bersama para mitra akan mengkaji terlebih dahulu dalam waktu enam bulan ke depan.

“Mengenai funding (pembiayaan) tentu saja itu akan dikaji juga dalam enam bulan masa studi. Nanti enam bulan ke depan kita akan ketemu lagi. Tentu saja masalah finansial dikaitkan dengan kemampuan Pertamina. Paling lambat 6 bulan ke depan kita harus ada agreement, atau kontrak apa yang kita akan lakukan bersama.” kata Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto dalam acara RDMP MoU Signing Ceremony di gedung utama Kantor Pertamina, Jakarta, Rabu (10/12).

Sementara itu, Direktur Pengolahan Pertamina Rahmad Hardadi menuturkan bahwa bentuk kerjasama ini merupakan kesepakatan untuk melakukan join relationship. Di mana dalam waktu beberapa bulan ke depan semua pihak terkait akan mengkaji bersama.

“Bentuk kerjasama ini semacam kesepakatan untuk melakukan join relationship dan kita mengkaji bersama, waktunya 3-6 bulan kajian ini harus firm, kemudian kita wujudkan dalam membangun infrastruktur di area refinery,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Tuntut Kenaikan UMK, Buruh di Pekalongan Mogok Nasional

Semarang, Aktual.co — Ribuan buruh dan element masyarakat yang mengatasnamakan Aliansi Rakyat Pekalongan melakukan aksi solidaritas mogok nasional dengan turun ke jalan di sepanjang jalur Pantura menuju gedung DPRD Kota Pekalongan, Rabu (10/12).
Buruh terdiri dari berbagai serikat SPN, SMI, KPOP, FPBI, PPMI, SBSI, SRP dan SPMP. Mereka melakukan aksi blokir jalan yang mengakibatkan lalu lintas Pantura Pekalongan tersendat.
Sekjen DPC SPN Kota Pekalongan, Damirin mengatakan bahwa tuntutan ini dilakukan sebagai bentuk protes kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
“Kami ingin menyampaikan aspirasi kepada DPRD dan pemerintah untuk minta dukungan agar Gubernur Ganjar Pranowo bisa memenuhi janjinya menaikkan UMK sebesar 2 persen di 35 kabupaten kota usai kenaikan harga BBM,” kata dia.
Menurut Damirin, kenaikan harga BBM berpengaruh besar terhadap kehidupan buruh. Sehingga UMK yang ditetapkan saat ini dinilai tidak layak dengan kebutuhan hidup yang ada.
“Buruh ingin DPRD memberikan rekomendasi berupa surat pernyataan yang dikirimkan kepada Gubernur. Isinya, meminta agar janji menaikkan UMK 2 persen bisa dipenuhi. Kalau sampai permintaan itu ditolak, kami akan duduki kantor dewan,” ancam Pengurus SPN, Delita Arifiyanto.
Diketahui, Gubernur Jawa Tengah melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Jateng Nomor 560/85 Tahun 2014 tentang penetapan UMK 35 kabupaten kota, menetapkan UMK Kota Pekalongan sebesar Rp1.291.000. 
Angka itu, sesuai dengan usulan hasil revisi Walikota Pekalongan yang sebelumnya hanya mengusulkan angka Rp1.285.000. Walikota sendiri menyatakan, revisi yang dilakukannya belum mempertimbangkan dampak kenaikan harga BBM. 
Penambahan akibat adanya kebijakan itu akan dilakukan oleh Gubernur yang berjanji menaikkan 2 persen dari angka usulan masing-masing daerah. 
“Terima kasih Pak Wali sudah merubah angka awal. Pak Wali juga menyampaikan bahwa itu diluar dampak kenaikan BBM. Ganjar sendiri yang berjanji menambah 2 persen, tapi ternyata bohong. Tidak seperak pun diberi tambahan,” tegas Wakil Ketua SPN, Edi Susilo.
Selain menuntut kenaikan UMK sebesar 2 persen, mereka juga meminta penghapusan sistem outsorching dan kerja kontrak, hapus union busting, merevisi Permenaker tentang komponen KHL dari 60 item menjadi 84 item.
Setelah ke Kantor DPRD, massa melanjutkan aksinya ke Kantor Dinsosnakertrans Kota Pekalongan. 

Artikel ini ditulis oleh:

Tuntut Kenaikan UMK, Buruh di Pekalongan Mogok Nasional

Semarang, Aktual.co — Ribuan buruh dan element masyarakat yang mengatasnamakan Aliansi Rakyat Pekalongan melakukan aksi solidaritas mogok nasional dengan turun ke jalan di sepanjang jalur Pantura menuju gedung DPRD Kota Pekalongan, Rabu (10/12).
Buruh terdiri dari berbagai serikat SPN, SMI, KPOP, FPBI, PPMI, SBSI, SRP dan SPMP. Mereka melakukan aksi blokir jalan yang mengakibatkan lalu lintas Pantura Pekalongan tersendat.
Sekjen DPC SPN Kota Pekalongan, Damirin mengatakan bahwa tuntutan ini dilakukan sebagai bentuk protes kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
“Kami ingin menyampaikan aspirasi kepada DPRD dan pemerintah untuk minta dukungan agar Gubernur Ganjar Pranowo bisa memenuhi janjinya menaikkan UMK sebesar 2 persen di 35 kabupaten kota usai kenaikan harga BBM,” kata dia.
Menurut Damirin, kenaikan harga BBM berpengaruh besar terhadap kehidupan buruh. Sehingga UMK yang ditetapkan saat ini dinilai tidak layak dengan kebutuhan hidup yang ada.
“Buruh ingin DPRD memberikan rekomendasi berupa surat pernyataan yang dikirimkan kepada Gubernur. Isinya, meminta agar janji menaikkan UMK 2 persen bisa dipenuhi. Kalau sampai permintaan itu ditolak, kami akan duduki kantor dewan,” ancam Pengurus SPN, Delita Arifiyanto.
Diketahui, Gubernur Jawa Tengah melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Jateng Nomor 560/85 Tahun 2014 tentang penetapan UMK 35 kabupaten kota, menetapkan UMK Kota Pekalongan sebesar Rp1.291.000. 
Angka itu, sesuai dengan usulan hasil revisi Walikota Pekalongan yang sebelumnya hanya mengusulkan angka Rp1.285.000. Walikota sendiri menyatakan, revisi yang dilakukannya belum mempertimbangkan dampak kenaikan harga BBM. 
Penambahan akibat adanya kebijakan itu akan dilakukan oleh Gubernur yang berjanji menaikkan 2 persen dari angka usulan masing-masing daerah. 
“Terima kasih Pak Wali sudah merubah angka awal. Pak Wali juga menyampaikan bahwa itu diluar dampak kenaikan BBM. Ganjar sendiri yang berjanji menambah 2 persen, tapi ternyata bohong. Tidak seperak pun diberi tambahan,” tegas Wakil Ketua SPN, Edi Susilo.
Selain menuntut kenaikan UMK sebesar 2 persen, mereka juga meminta penghapusan sistem outsorching dan kerja kontrak, hapus union busting, merevisi Permenaker tentang komponen KHL dari 60 item menjadi 84 item.
Setelah ke Kantor DPRD, massa melanjutkan aksinya ke Kantor Dinsosnakertrans Kota Pekalongan. 

Artikel ini ditulis oleh:

Negara Dinilai Gagal Tegakkan HAM Di Sumut

Medan, Aktual.co — Aliansi Warga Sumatera Utara untuk Hak Asasi Manusia (Awas HAM) menilai negara gagal dalam melaksanakan kewajibannya melindungi, menghormati dan memenuhi hak asasi Manusia, khususnya di Sumatera Utara.
“Hal ini dibuktikan dari banyaknya kasus pelanggaran HAM terjadi,” kata kordinator aksi, Herdensi Adnin saat berunjuk rasa peringatan hari HAM didepan kantor DPRD Sumut, Rabu (10/12).
Herdensi menyebutkan, masih terjadinya pelanggaran HAM dapat dilihat mulai dari masih adanya perampasan hak warga sipil, baik oleh pemerintah maupun perusahaan swasta, tidak adanya perlindungan hukum bagi masyarakat, kekerasan yang dilakukan aparat birokrasi, sampai belum terpenuhinya hak-hak dasar.
Persoalan pelanggaran HAM itu tercermin dari maraknya konflik agraria, penyiksaan Pembantu Rumah Tangga (PRT) dna perdagangan manusia (Human Trafficking).
Kemudian, belum dipenuhinya hak disabilitas, hilangnya hak masyarakat adat serta terhambatnya hak menjalankan usaha bagi warga negara seperti yang dialami pedagang buku dilapangan Merdeka, Medan, yang hingga saat ini belum direvitalisasi.
“Persoalan konflik agraria di Sumut, umumnya terkait sengketa eks HGU PTPN II, tanah PTPN II diluarr HGU, sengketa tanah ulayat, maupun tanah yang dirampas preman atau OKP,” kata dia.
Berdasarkan data KontraS Sumut, sepanjang 2014 tercatat tiga kasus konflik agraria yang berkaitan dengan PTPN II. Akibat konflik itu, sebanyak 25 petani terluka, 37 orang dikriminalisasi dan 1 orang meninggal dunia.
Untuk kasus traficking, lanjutnya, berdasarkan catatan Pusaka Indonesia dan P2TP2A, ada empat kasus pidana dengan jumlah korban 42 orang selamat dan dua orang meninggal dunia. Para korban umumnya berasal dari Jawa, Lampung dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Yang paling tragis, kasus yang dialami korban asal NTT yang diperbudak di sarang burung walet. Sayangnya, kasus yang terungkap awal tahun 2014 silam itu, hingga kini belum dituntaskan oleh pihak kepolisian.
Tercatat juga sebanyak 105 kasus kekerasan yang dilakukan TNI dan Polri.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain