13 April 2026
Beranda blog Halaman 420

Penguasaan Kembali 893 Ribu Hektare Hutan, Satgas PKH Kembalikan Kerugian Negara Rp6,6 Triliun

Jakarta, aktual.com – Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) menyerahkan hasil penguasaan kembali kawasan hutan tahap V di Kejaksaan Agung. Penyerahan dilakukan Rabu, 24 September 2025, dan disaksikan langsung Presiden RI Prabowo Subianto.

Pada tahap ini, kawasan hutan seluas 893.002,38 hektare berhasil dikuasai kembali oleh negara. Selain itu, Satgas PKH menyerahkan denda administratif senilai Rp2,34 triliun kepada negara.

Kejaksaan RI juga menyerahkan uang hasil penyelamatan keuangan negara dari perkara korupsi strategis. Dana tersebut berasal dari kasus ekspor CPO dan impor gula dengan total Rp4,28 triliun.

Secara keseluruhan, nilai pengembalian kerugian negara mencapai Rp6,62 triliun dan diterima Menteri Keuangan. Penyerahan dilakukan secara simbolis di Gedung Bundar Kejaksaan Agung.

Dalam sepuluh bulan, Satgas PKH menguasai kembali 4,08 juta hektare lahan perkebunan.
Capaian itu melampaui target lebih dari 400 persen dengan indikasi nilai aset di atas Rp150 triliun.

Sebagian lahan hasil penguasaan kembali diserahkan kepada kementerian dan lembaga terkait.

Pengelolaan perkebunan sawit diberikan kepada PT Agrinas Palma Nusantara seluas 1,7 juta hektare.

Jaksa Agung ST Burhanuddin mengapresiasi sinergi kementerian dan lembaga dalam Satgas PKH.

Ia menegaskan, “Hukum harus tegak demi menjaga stabilitas nasional.”

Menurut Jaksa Agung, hutan adalah anugerah Tuhan yang wajib dilestarikan untuk kepentingan rakyat. Ia menutup dengan pernyataan, “Hutan tidak boleh dikuasai demi kepentingan segelintir kelompok.”

(Muhammad Hamidan Multazam)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Rp6,62 T Dana Korupsi Disita Kejagung, Menteri Purbaya Siapkan Skema Pemanfaatan

Presiden RI Prabowo Subianto (kanan) menyaksikan penyerahan uang pengganti kerugian negara dalam perkara tindak pidana korupsi pemberian fasilitas ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya sebesar Rp13,2 triliun oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Senin (20/10/2025). ANTARA/Fathur Rochman.
Presiden RI Prabowo Subianto (kanan) menyaksikan penyerahan uang pengganti kerugian negara dalam perkara tindak pidana korupsi pemberian fasilitas ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya sebesar Rp13,2 triliun oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Senin (20/10/2025). ANTARA/Fathur Rochman.

Jakarta, Aktual.com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dana sebesar Rp6,62 triliun hasil penyitaan dari kasus lahan sawit, pertambangan, dan tindak pidana korupsi yang diserahkan Kejaksaan Agung (Kejagung) kepada Kementerian Keuangan pada Rabu (24/12/2025) tengah dirancang pemanfaatannya.

“Sekarang uangnya baru masuk, nanti kita desain seperti apa. Yang jelas, ada kebutuhan di berbagai sektor, termasuk penanganan bencana. Tapi anggaran bencana sebenarnya sudah tersedia,” kata Purbaya kepada wartawan.

Ia menjelaskan, pemerintah telah mengalokasikan anggaran penanganan bencana nasional sekitar Rp60 triliun, sehingga dana hasil sitaan tersebut tidak secara khusus diarahkan untuk pembiayaan kebencanaan.

Menurut Purbaya, tambahan penerimaan negara ini membuka sejumlah opsi pemanfaatan, mulai dari mendorong pembangunan, memperkuat tabungan pemerintah, hingga membantu menekan defisit anggaran.

“Artinya bisa dipakai untuk mendorong pembangunan ke depan. Namun ini belum didesain secara rinci karena dana tersebut baru hari ini masuk,” ujarnya.

Purbaya menambahkan, dana tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah ambang batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

“Ini bisa digunakan untuk mengurangi defisit atau menjadi tabungan yang dibelanjakan tahun depan. Yang utama, kita lihat dulu posisi defisit kita, tapi ini sangat membantu untuk memperbaiki fiskal,” katanya.

Ia memastikan, hingga saat ini kondisi anggaran negara masih dalam keadaan aman dan terkelola dengan baik.

Sebelumnya, Jaksa Agung ST Burhanuddin melaporkan keberhasilan penyelamatan keuangan negara dan penagihan denda administratif dengan total nilai Rp6,62 triliun. Dana tersebut berasal dari dua sumber utama.

Pertama, penagihan denda administratif sektor kehutanan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) senilai Rp2,34 triliun dari 20 perusahaan sawit dan satu perusahaan tambang nikel.

Kedua, penyelamatan keuangan negara senilai Rp4,28 triliun dari penanganan perkara tindak pidana korupsi, termasuk kasus pemberian fasilitas ekspor crude palm oil (CPO) serta perkara impor gula.

Masuknya dana hasil penegakan hukum ini dinilai menjadi sinyal kuat sinergi antara upaya pemberantasan korupsi dan penguatan keuangan negara.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Indonesia Emas 2026: Menghentikan Siklus Bangsa yang Terus Tertipu

Rinto Setiyawan, Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia (IWPI)

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP (Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute)

Jakarta, aktual.com – “Bagaimana jadi bangsa kok kecelik terus?”

Kalimat Cak Nun itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya adalah diagnosis keras atas perjalanan Indonesia. Selama puluhan tahun, bangsa ini seperti berpindah dari satu fase harapan ke fase kekecewaan berikutnya. Dua puluh lima tahun kecelik, lalu tiga puluh dua tahun kecelik, kemudian masuk era reformasi—yang diharapkan menjadi titik balik—namun ternyata hanya melahirkan kecelik dalam bentuk baru.

Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menipu rakyat. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: mengapa rakyat selalu bisa ditipu? Mengapa bangsa ini terus mengulang kesalahan yang sama, meski aktor politik silih berganti?

Jawabannya tidak terletak semata pada moral individu, melainkan pada struktur negara yang memang memungkinkan rakyat terus tertipu secara sistemik.

Indonesia rajin mengganti pemimpin, tetapi jarang berani membenahi arsitektur ketatanegaraan. Kita berharap hasil berbeda dari kerangka yang sama. Selama rakyat tidak benar-benar ditempatkan sebagai pemilik dan penguasa kedaulatan, maka setiap pergantian rezim hanya akan menghasilkan variasi baru dari kecelik lama.

Di sinilah makna sejati Indonesia Emas 2026 seharusnya diletakkan. Indonesia Emas bukan sekadar target ekonomi, bonus demografi, atau statistik pertumbuhan. Indonesia Emas adalah keputusan untuk menghentikan siklus tertipu, dengan mengoreksi fondasi negara.

Jika negara dianalogikan sebagai rumah, maka rakyat adalah pemilik rumah. Pemerintah hanyalah pengelola yang diberi mandat untuk mengurus urusan sehari-hari. Masalah muncul ketika pengelola bertindak seolah-olah pemilik, sementara pemilik hanya diberi janji dan simbol kedaulatan.

Perubahan konstitusional pasca-amandemen UUD NRI 1945 memperkuat kondisi ini. Rakyat tetap disebut sebagai pemegang kedaulatan, tetapi kehilangan alat untuk menguasai dan menjalankannya secara nyata. Kedaulatan berubah menjadi konsep normatif—indah dalam teks, lemah dalam praktik. Sejak saat itu, rakyat mudah diyakinkan, mudah diarahkan, dan akhirnya mudah kembali tertipu.

Akibatnya, demokrasi berjalan secara prosedural, tetapi miskin perlindungan substantif. Pemilu rutin digelar, namun jarang menghasilkan perubahan struktural. Negara semakin disamakan dengan pemerintah, dan pemerintah semakin jauh dari posisi sebagai pelayan rakyat.

Indonesia Emas 2026 seharusnya menjadi titik balik dari pola ini. Bukan dengan menambah jargon pembangunan, melainkan dengan memulihkan kedaulatan rakyat secara nyata. Artinya, negara harus dipisahkan tegas dari pemerintah. Pemerintah harus kembali menjadi pelayan publik, bukan pemilik kekuasaan. Lembaga negara harus berdiri di atas kepentingan jangka panjang bangsa, bukan kepentingan elektoral lima tahunan.

Pemulihan ini menuntut keberanian kolektif. Ia bisa ditempuh melalui berbagai mekanisme konstitusional—konvensi nasional, referendum rakyat, atau jalur hukum lain—tetapi tujuannya satu: menghentikan siklus bangsa yang terus tertipu.

Cak Nun pernah mengingatkan bahwa bangsa yang terus kecelik bukan karena bodoh, tetapi karena tidak pernah diberi posisi untuk benar-benar berdaulat. Selama rakyat hanya menjadi objek kebijakan, kecelik akan selalu menemukan jalannya.

Indonesia Emas 2026 bukan janji teknokratik. Ia adalah pilihan moral dan konstitusional: memilih untuk berhenti mengulang kesalahan yang sama, memilih untuk membangun negara yang jujur pada rakyatnya, dan memilih untuk keluar dari lingkaran tertipu yang terlalu lama kita terima sebagai kenormalan.

Jika bangsa ini berani mengambil pilihan itu, Indonesia Emas bukan mimpi. Ia adalah jalan keluar—menuju negara yang tidak lagi mempermainkan rakyatnya, dan rakyat yang tidak lagi rela ditipu.

 

 

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Pesan Natal Menag: Dari Rumah yang Utuh Lahir Indonesia yang Rukun

Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka Halaqah Internasional di Pesantren As’adiyah Pusat Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. ANTARA/HO-Kemenag
Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka Halaqah Internasional di Pesantren As’adiyah Pusat Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. ANTARA/HO-Kemenag

Jakarta, Aktual.com — Perayaan Natal 2025 diharapkan menjadi ruang refleksi dan pemulihan, khususnya bagi keluarga Indonesia. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa keluarga merupakan tempat pertama lahirnya kasih, iman, dan harapan yang menopang kehidupan berbangsa.

Mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, Menag menekankan bahwa kekuatan bangsa berakar dari rumah tangga yang utuh dan penuh kasih. Dari keluarga yang sehat, lahir gereja yang kuat, masyarakat yang rukun, serta Indonesia yang berpengharapan.

“Jika keluarga dipulihkan, maka gereja akan bertumbuh. Jika gereja kuat, masyarakat menjadi rukun. Dan jika keluarga-keluarga kita tangguh, bangsa ini akan menemukan kembali arah dan harapannya,” ujar Menag, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Kamis (25/12/2025).

Menurut Menag, di tengah meningkatnya polarisasi sosial, tekanan ekonomi, serta dampak bencana alam yang masih dirasakan banyak keluarga, rumah harus kembali menjadi ruang aman bagi iman dan kemanusiaan.

Karena itu, Kementerian Agama menempatkan penguatan ketahanan keluarga sebagai salah satu agenda strategis pelayanan masyarakat. Keluarga dinilai tidak hanya berperan mendidik anak, tetapi juga menanamkan nilai moderasi beragama, empati, dan tanggung jawab sosial sejak dini.

“Keluarga yang sehat secara spiritual dan sosial adalah fondasi paling kokoh bagi Indonesia yang damai dan beradab,” tegasnya.

Lebih jauh, Menag juga memaknai Natal sebagai panggilan iman untuk merawat bumi. Di tengah krisis iklim dan kerusakan lingkungan, keluarga diharapkan menjadi pelopor gaya hidup berkelanjutan.

“Iman harus menyentuh cara kita hidup. Mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, dan menghemat energi adalah wujud syukur atas ciptaan Tuhan,” ujarnya.

Menag mengingatkan bahwa Natal 2025 berlangsung di tengah duka saudara-saudara sebangsa yang terdampak bencana. Oleh karena itu, perayaan Natal tidak boleh terlepas dari semangat solidaritas dan kepedulian.

“Kekuatan Natal bukan pada kemewahan perayaan, melainkan pada keberanian untuk berbagi beban dengan mereka yang sedang terluka,” katanya.

Menutup pesannya, Menag berharap Natal menjadi ruang perjumpaan lintas batas dan penguat nilai kemanusiaan.

“Mari kita jadikan keluarga sebagai pelabuhan cinta yang menyelamatkan, sekaligus penjaga alam semesta yang Tuhan titipkan. Selamat Natal 2025 dan menyambut Tahun Baru 2026,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Forum G20 Kembali Fokus pada Isu Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Global

Washington D.C, Aktual.com — Pertemuan Sherpa G20 ke-1 telah diselenggarakan pada 15–16 Desember 2025 di Washington, D.C. Pertemuan ini dipimpin oleh Sherpa G20 Amerika Serikat, Emory Cox, yang juga menjabat sebagai Special Assistant to the President for International Economic Relations.

Dalam pertemuan tersebut, Amerika Serikat menegaskan kembali prioritas utama Presidensi G20 AS, yakni “Unleashing economic prosperity by limiting the burdens of regulations, unlocking affordable energy options, and pioneering new technologies and innovation.”

Ketiga isu prioritas tersebut akan difokuskan pada solusi praktis yang mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan peluang, serta memperkuat ketahanan ekonomi global. AS juga menekankan filosofi back to basic, di mana agenda G20 diarahkan kembali pada isu-isu inti ekonomi dan keuangan, sesuai tujuan awal pembentukan forum tersebut.

“Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, Amerika Serikat berkomitmen mengembalikan agenda ekonomi utama G20 dan menghasilkan capaian ekonomi yang nyata,” ujar Emory Cox, dikutip dari laman ekon.go.id, Rabu (24/12/2025).

Ia menambahkan bahwa Presiden Donald Trump akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 14–15 Desember 2026 di Trump National Doral Miami.

Presidensi AS juga menegaskan pendekatan result-driven dengan menyederhanakan struktur kerja G20. Hanya empat Working Group (WG) yang akan dibentuk, terdiri atas satu WG di Finance Track dan tiga WG di Sherpa Track, yakni Working Group on Growth and Deregulation, Energy Abundance, Innovation, dan Trade.

Indonesia menyambut positif arah baru tersebut. Sherpa G20 Indonesia, Edi Pambudi, menyatakan bahwa prioritas AS sejalan dengan agenda pembangunan nasional Indonesia.

“Indonesia mengapresiasi penekanan Presidensi G20 AS pada kemakmuran ekonomi, transisi energi, serta inovasi. Ini selaras dengan komitmen Indonesia terhadap pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan,” ujar Edi.

Di sela pertemuan, Indonesia juga mendorong agar isu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan stabilitas keuangan global tetap menjadi bagian penting dalam agenda G20, dengan menjunjung tinggi prinsip konsensus sebagai fondasi kerja sama antarnegara anggota.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Pantau Persiapan Natal 2025, Mendagri Ajak Rayakan Sederhana sebagai Solidaritas bagi Korban Bencana

Jakarta, Aktual.com  – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian bersama sejumlah menteri memantau kesiapan pelaksanaan Ibadah Malam Natal Tahun 2025 di Gereja Katedral dan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, Jakarta Pusat, Rabu (24/12/2025). Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan umat Kristiani dapat menjalankan ibadah dengan aman, tertib, dan khidmat.

Dalam peninjauan tersebut, Mendagri bersama rombongan melihat secara langsung kesiapan pengamanan serta sarana dan prasarana pendukung peribadatan di kedua gereja. Kehadiran jajaran pemerintah ini sekaligus menegaskan komitmen negara dalam menjamin kebebasan beribadah serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Mendagri juga mengimbau daerah-daerah yang tidak terdampak bencana agar merayakan Natal dan Tahun Baru (Nataru) secara sederhana dan penuh empati sebagai bentuk solidaritas nasional.

“Kita mengimbau untuk tidak dilaksanakan secara euforia yang berlebihan,” ujar Tito.

Pada kesempatan itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik dan Keamanan (Polkam) Djamari Chaniago menyampaikan pesan empati kepada jemaat, mengingat sebagian masyarakat di wilayah lain merayakan Natal dalam situasi sulit akibat bencana alam.

“Bersamaan pada saat kita di sini merayakan hari Natal, saudara-saudara kita yang berada di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat juga merayakannya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan karena bencana alam yang melanda daerah mereka,” ujar Djamari.

Ia mengajak jemaat untuk mendoakan masyarakat terdampak bencana serta mendoakan pemerintah agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik dalam memenuhi kebutuhan para korban. Menko Polkam menegaskan bahwa pemerintah terus hadir untuk memastikan rasa aman dan ketenangan bagi umat yang menjalankan ibadah.

Melalui sinergi lintas kementerian dan lembaga tersebut, pemerintah berharap perayaan Natal 2025 dapat berlangsung aman, damai, dan khidmat, sekaligus menumbuhkan semangat solidaritas dan kepedulian sosial terhadap sesama, khususnya bagi masyarakat yang tengah menghadapi musibah.

Peninjauan kesiapan Ibadah Malam Natal ini turut dihadiri oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Agus Subiyanto, serta Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain