12 April 2026
Beranda blog Halaman 43086

Rachmawati Gelar Konpers di Kediamannya soal KPK dan Jokowi

Jakarta, Aktual.co — Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri akan melakukan jumpa pers hari ini, Rabu (15/10) siang, di kediamannya, di kawasan Jatipadang, Jakarta Selatan.
Dia menilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terlihat terburu-buru dalam “menyelamatkan” mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta yang kini menjadi presiden terpilih, Joko Widodo.
Dalam jumpa pers ini, Rachmawati mau mengkritik KPK yang tanpa menyelidiki sudah mengatakan Jokowi tidak ada masalah dalam beberapa kasus yang selama ini menjadi perhatian publik.
Jurubicara KPK Johan Budi misalnya, mengatakan Jokowi memiliki rekening yang bersih. Jokowi juga clear dalam kasus dana Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) pada 2010, saat Jokowi menjabat sebagai walikota Solo.
Sedangkan dalam kasus transjakarta, DPR berencana memanggil KPK dan Kejaksaan Agung berdasarkan laporan Rachmawati. Dalam laporannya, Rachmawati menduga Jokowi terlibat dengan kasus dugaan korupsi tersebut dan kepemilikan rekening di luar negeri.
Putri Presiden Soekarno itu juga meminta agar pelantikan Jokowi sebagai presiden ditunda selama kasus dugaan korupsi ini belum dituntaskan.

Artikel ini ditulis oleh:

Empat Catatan Kritis Buat SMI

Jakarta, Aktual.co – Terlalu beresiko bagi kabinet Jokowi untuk menggunakan Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai ujung tombak perekonomian. Bukan apa-apa, karena setidaknya ada empat catatan kritis tentang SMI yang wajib diwaspadai oleh Jokowi.

‎Demikian disampaikan oleh peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra di Jakarta, pagi ini, Rabu (15/10).

‎Menurut Gede, catatan pertama tentang SMI adalah tentang peningkatan utang luar negeri yang jumlahnya cukup signifikan semasanya menjabat di pemerintahan SBY tahun 2005 hingga 2010, yaitu dari sebesar Rp 1.313 ke Rp 1.676 trilyun. 

‎Selain itu, di ujung jabatannya di tahun 2010, SMI sangat terkenal di kalangan investor asing sebagai menteri keuangan yang gemar memberi imbal hasil yang tinggi bagi kepemilikan obligasi negara (4,32%), bahkan di antara negara-negara di kawasan Asia Timur seperti Filipina (3,89%) dan Korea Selatan (4,15%). 

‎Bunga obligasi yang tinggi itulah yang menjelaskan, mengapa SMI disenangi bankir-bankir asing, tapi merugikan Indonesia. Menurut kalangan ekonom senior, hal ini berpotensi merugikan Indonesia secara finansial di masa depan.

‎”Kedua adalah tentang keterkaitan SMI di Skandal Century. SMI memiliki peran yang sangat besar dalam skandal kontroversial ini karena hadir pada rapat KSSK pada tanggal 21 November 2008 untuk penentuan status Bank Century sebagai bank gagal yang harus diberikan dana talangan. KPK masih belum meningkatkan status hukum SMI karena diduga terdapat campur tangan oknum penasehat KPK yang simpati terhadap SMI,” jelas Gede.‎

‎Ketiga adalah tentang keterlibatan SMI dalam Skandal Pajak Bos Ramayana Paulus Tumewu yang sempat ramai di DPR pada April 2010. Pada tahun 2006, selaku menteri keuangan SMI diduga kuat membantu penggelapan ratusan milyar pajak taipan yang saat itu (2006) merupakan orang terkaya ke-14 di Indonesia versi majalah Forbes. Kasus inilah yang kabarnya merupakan penyebab dari hengkangnya SMI dari Indonesia sebagai kompromi politik.

‎”Catatan keempat, meskipun orang tua SMI kabarnya merupakan nasionalis PNI, tidak ada yang meragukan bahwa ekonom UI ini merupakan keturunan ideologis Mafia Berkeley yang dipimpin Widjoyo Nitisastro,” katanya lagi. 

‎Jokowi, sambung Gede, harus menolak lupa, bahwa sesungguhnya adalah Mafia Berkeley bersama Angkatan Darat pimpinan Suharto dkk lah yang menggulingkan Pemerintahan Bung Karno dan kemudian menjadi arsitek ekonomi Orde Baru selama 32 tahun. 

‎”Kini merekalah yang menjadi garda terdepan membela paham neoliberalisme yang bertentangan dengan konstitusi kita,” tutup Gede.‎

Ani-Kuntoro Jadi Menteri?‎ Trisakti Cuma Jadi Jargon

Dan nama Sri Mulyani Indrawati (SMI) pun akhirnya bergema juga. Konon, dia akan diplot mengisi kursi menteri pada kabinet Jokowi-JK. Tidak tanggung-tanggung, konon lagi, dia akan menjadi Menteri Koordinator Perekonomian. Posisi keren yang menggawangi jatuh-bangunnya perekonomian negeri berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa ini.

Nama lain yang juga beredar adalah Kuntoro Mangkusubroto. Nama ini memang tidak sekencang SMI. Namun, tak urung gosip ini memantik kekhawatiran sebagian kalangan yang paham betul rekam jejak Kuntoro di jajaran birokrasi.

‎Jika kabar-kabur yang berseliweran itu benar, maka lengkap sudah keterpurukan Indonesia. Nyaris sejak Orde Baru, dan disambung Orde Reformasi, kendali ekonomi Indonesia senantiasa diserahkan kepada para penghamba sekaligus pejuang neoliberalisme. Satu mazhab yang getol menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak pasar. ‎

‎Perempuan yang akrab disapa Ani itu kini adalah Managing Director IMF. Jabatannya sekarang sudah lumayan mentereng. Tapi, saat didapuk menduduki posisinya tersebut, sempat berembus kabar, Ani diselematkan the invisble hand agar tidak terseret pusaran mega skandal Bank Century. Sekadar mengingatkan saja, saat –meninjam istilah Wapres Jusuf kalla– perampokan uang negara sebesar Rp6,7 triliun itu terjadi, dia adalah Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK). Sebagai KKSK, Ani dianggap orang kedua yang paling bertanggung jawab setelah Wapres Boediono.

‎Komparador asing sejati‎

‎Agar publik tidak lupa, selain mega skandal Century, Ani juga punya sederet prestasi yang membuktikan dia adalah seorang komprador asing sejati. Pada Februari 2013, misalnya, obligasi RI yang dijualnya laris-manis bak kacang goreng. Dan, pembeli utamanya ternyata investor asing. ‎

‎Kenapa? ‎Perempuan yang dipuji-puji media asing sebagai Menkeu terbaik Asia, bahkan dunia ini, menyorongkan yield sebesar 5,26% per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi yang diterbitkan sejumlah negara ASEAN lain. Sebut saja, Thailand 3,61%, Filipina 3,52%, dan Malaysia 3,48%.‎

‎Yang membuat seru, yield yang dibayar Indonesia ternyata jauh lebih tinggi ketimbang Filipina. Padahal saat obligasi itu diterbitkan, sejumlah lembaga rating seperti S&P, Fitch, dan Moody’s mengganjar peringkat Indonesia di atas Filipina. Dalam logika pasar uang, negara yang peringkatnya lebih tinggi bisa mengail dana dengan biaya lebih murah.‎

‎Selisih bunga Indonesia dan Filipina sepertinya ‘hanya’  1,74%. Tapi mari kita sejenak menggunakan kalkulator sederhana. Tenor obligasi yang diterbitkan negara biasanya panjang, 20-30 tahun. Obligasi yang dilego mbak Ani itu nilainya Rp812 Trilyun. Dengan selisih bunga yang ‘hanya’ 1,74% itu akan memaksa Indonesia membayar 34,8% atau Rp282,57 Trilyun lebih besar daripada jika yield-nya sama dengan Filipina yang 3,52%. Bayangkan, Rp282,57 triliun!‎

‎Bisakah Anda memaknai angka Rp282,7 triliun dalam 20 tahun bagi Indonesia? Itu artinya, tiap tahun rakyat harus membayar Rp14,13 triliun lebih besar untuk mengisi kocek asing. Jumlah itu setara dengan membangun tiga jembatan setara Suramadu. Jauh lebih besar daripada biaya membangun double track kereta api Jakarta-Surabaya yang cuma Rp10 triliun.‎

‎Hobi obral obligasi dengan bunga supermahal Sri terus berlanjut. Pada 2008, Indonesia menerbitkan global bond di New York sebesar US$2 miliar dengan tenor 10 tahun. Bunga yang diberikan 6,95%. Ini bunga obligasi negara tertinggi yang diberikan oleh negara ASEAN. Sebagai perbandingan, suku bunga global bond yang diterbitkan Malaysia waktu itu cuma 3,86%, Thailand 4,8%. Bahkan Filipina, yang selama ini dikenal sebagai The Sick Man in Asia, bunganya hanya 6,51%.‎

‎Yang lebih  hebat lagi, pada 2009, untuk menambal defisit APBN, dia kembali menerbitkan global bond senilai US$3 miliar. Global bond itu terbagi dua; US$2 miliar berjangka waktu 10 tahun dengan bunga 11,75% dan US$1 miliar berjangka waktu 5 tahun berbunga 10,5%. Pada saat yang sama, Filpina menangguk dana dari pasar internasional sebesar US$1,5 miliar dengan bunga 8,5% saja! ‎

‎Bisa dipahami, mengapa para kapitalis asing cinta berat kepadanya. Bisa dimaklumi juga, kenapa majalah Euromoney pada 2006 mengganjarnya sebagai Finance Minister of the Year. ‎

‎Sri mulyani telah memuaskan syahwat kapitalis asing sambil mengorbankan kepentingan bangsanya sendiri. Menteri keuangan seperti inikah yang akan kembali diboyong Jokowi masuk dalam jajaran kabinetnya?‎‎

‎Merugikan negara dengan UU Migas ‎

‎Bagaimana dengan Kuntoro? Rekam jejak Kuntoro sejauh ini biasa-biasa saja, jauh dari cemerlang. Padahal, karirnya di pemerintahan terbilang panjang dan cukup lengkap. Dia pernah menjadi Dirjen Pertambangan Umum  (1993-1997),dua kali Menteri Pertambangan, yaitu pada  Kabinet Pembangunan VII (1998) dan di Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Direktur Utama PLN (2000), serta Kepala Badan Pelaksana – Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (2005).‎

‎Satu lagi tentang Kuntoro. Sekadar mengingatkan saja, Kuntoro adalah tokoh penting di balik UU No. 22/2001 tentang Migas yang sangat menguntungkan asing dan sangat merugikan Indonesia. Bukan itu saja, lewat Kuntoro pula USAID masuk, bahkan mengucurkan dollar demi suksesnya pembahasan RUU yang draft-nya mereka buatkan.‎

‎Kisah pengkhianatan anak bangsa kepada bangsanya sendiri ini masih dapat ditemukan dalam arsip Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia di Jakarta. Pada 29 Agustus 2008 Kedubes AS mengeluarkan pernyataan resmi mengenai keterlibatan USAID dalam apa yang disebut sebagai proses reformasi sektor energi.‎

‎Lewat dokumen itu sangat jelas peran yang dimainkan Kuntoro pada awal 1999. Saat itu, sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dia minta bantuan USAID mereview sebuah draft RUU Migas. USAID menyambut positif undangan itu dan selanjutnya bersama pemerintah Indonesia menandatangani Strategic Objective Grant Agreement (SOGA) yang berlaku untuk lima tahun sekaligus mengucurkan bantuan US$20 juta.‎‎

‎Tulisan ini akan kian panjang jika harus menguliti kinerja dan prestasi keduanya sebagai pengabdi dan pejuang kepentingan asing. Pertanyaan besar kepada Jokowi, benarkah Anda akan menarik mereka dalam jajaran menteri? ‎

‎Kalau memang benar, lantas dimana doktrin Tri Sakti yang dengan berbusa-busa Anda semburkan saat berkampanye Pilpres tempo hari?  Bukankah dengan Trisakti itu Anda sukses menyihir rakyat Indonesia yang sudah lama ingin mandiri dalam politik, ekonomi, budaya sendiri? Atau, karena Anda telah megubahnya menjadi dengan Nawacita pada visi-misi yang diserahkan ke KPU, maka dagangan Tri Sakti itu kini boleh dicampakkan? ‎

‎Oleh: ‎Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Jelang Pensiun, SBY Gelar Pertemuan dengan Kepala Daerah

Jakarta, Aktual.co — Jelang pergantian Kepala negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri acara silaturahmi dengan kepala daerah, pimpinan militer dan kepolisian daerah dari seluruh Indonesia, di Sentul International Convention Centre, Rabu (15/10). 
Dalam acara tersebut, seluruh gubernur, bupati, dan wali kota, ketua DPRD, Panglima Daerah Militer, Kepala Kepolisian Daerah, Komandan Distrik Militer, dan Kepala Kepolisian Resort turut hadir.
Hadir juga Kepala Kejaksaan Tinggi dan Kepala Kejaksaan Negeri dari seluruh Indonesia
Presiden Yudhoyono dijadwalkan menyampaikan sambutan dalam acara yang bertajuk Silaturahmi Nasional menuju pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Mendampingi Presiden dalam acara itu Wakil Presiden Boediono, para menteri kabinet Indonesia Bersatu II, Kapolri, Panglima TNI dan sejumlah pejabat lainnya. Acara berlangsung mulai pukul 09.30 WIB
Presiden Yudhoyono akan mengakhiri masa jabatan pada 20 Oktober 2014. Dalam sebuah sidang paripurna MPR RI, Presiden terpilih Joko Widodo akan diambil sumpahnya dan dilantik menjadi Presiden ketujuh RI.

Artikel ini ditulis oleh:

Aksesi FCTC, Pemerintah Abaikan Kesejahteraan Rakyat

Jakarta, Aktual.co — Terkait desakan kelompok antirokok dan tembakau untuk segera mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana mengatakan bahwa jika pemerintah memutuskan mengaksesi FCTC bisa diartikan sebagai tindakan abai pemerintah terhadap kesejahteraan rakyatnya.

“Kalau Pemerintah ingin mewujudkan kesejahteraan rakyat, salah satu yang dapat dilakukan adalah berlaku adil terhadap kelompok petani, termasuk dari komoditas tembakau,” kata Hikmahanto, ditulis Rabu (15/10).

Menurutnya, bertani tembakau sudah menjadi tradisi turun temurun sebagian masyarakat Indonesia dalam mencapai kesejahteraan. Dukungan Pemerintah terhadap kelangsungan pertanian tembakau adalah bagian dari perwujudan kesejahteraan tersebut.

“Terwujudnya kesejahteraan masyarakat adalah kewajiban bersama yang harus melibatkan semua stakeholders. Maka Kementerian Kesehatan dan sekutunya tidak berkompeten untuk meratifikasi FCTC,” papar Hikmahanto.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Kamar Dagang Industri (Kadin), Thomas Darmawan menegaskan, saat ini seluruh industri menolak ditandatanganinya FCTC karena akan berdampak negatif pada industri rokok. “Industri rokok skala kecil dan besar menolak ratifikasi,” tegasnya.

Dijelaskannya, FCTC sekarang ini semangatnya pelarangan dan bukan pengendalian atau pembatasan lagi. “Alhasil, semua industri kompak menolak dan meminta pemerintah membatalkan rencana ratifikasi. Mudah-mudahan mampu menjelaskan posisi industri,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Jokowi Bertemu Empat Mata dengan Ical

Presiden terpilih Joko Widodo (kiri) dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berbicara seusai melakukan pertemuan tertutup di Restoran Kunstkring, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (14/10/2014). Keduanya bertemu untuk saling silaturahmi serta membicarakan perkembangan terkini terkait masalah kenegaraan. Dalam kesempatan itu pula, Aburizal Bakrie menegaskan dirinya masih tetap bergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP). AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Berita Lain