12 April 2026
Beranda blog Halaman 610

Ledakan di SMA 72 Jadi Alarm Darurat Bullying, DPR Desak Evaluasi Total Dunia Pendidikan

Jakarta, Aktual.com — Peristiwa ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta yang diduga dipicu oleh aksi balas dendam korban perundungan (bullying) kembali membuka luka lama dunia pendidikan Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyebut kasus ini sebagai tanda bahwa praktik kekerasan dan perundungan di sekolah sudah masuk tahap darurat nasional.

“Kalau informasi yang kami terima benar bahwa pelaku merupakan korban bullying, maka ini sungguh sangat disayangkan. Padahal aturan tentang pencegahan bullying sudah bertumpuk-tumpuk dan sosialisasinya masif,” kata Lalu Hadrian saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, kasus di SMA 72 menjadi bukti bahwa masih ada kelemahan dalam sistem pengawasan dan pembinaan karakter di sekolah.

“Berarti ada yang kurang, ada yang lemah. Karena itu kami mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melakukan evaluasi total dan langkah cepat agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Lalu menegaskan, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Ia menyoroti bahwa meskipun regulasi sudah jelas mulai dari Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 hingga berbagai pedoman antikekerasan di sekolah praktiknya masih jauh dari ideal.

“Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tapi juga tempat tumbuhnya karakter. Kalau sampai ada siswa yang merasa terpojok hingga bertindak ekstrem, berarti ada yang salah dalam sistem pembinaan dan pendampingan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pengawasan internal sekolah dan peran orang tua sangat penting dalam mencegah perundungan. Menurut Lalu, siswa harus didorong untuk berani melapor bila menjadi korban atau mengetahui kasus bullying di lingkungan mereka.

“Kami meminta orang tua aktif bekerja sama dengan sekolah melalui komite sekolah. Anak-anak juga harus tahu bahwa mereka bisa melapor tanpa takut. Kalau ada korban, segera lapor ke guru atau kepala sekolah, jangan diam,” ujarnya.

Pendidikan Karakter dan Literasi Digital Jadi Kunci

Menanggapi meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, DPR tengah menyiapkan revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Salah satu fokusnya adalah memperkuat pendidikan karakter dalam kurikulum.

“Pendidikan karakter, moral, dan sopan santun harus kita pertegas kembali. Generasi muda hari ini banyak yang terkontaminasi oleh informasi negatif dari media sosial. Maka literasi digital juga sangat penting untuk ditanamkan di sekolah-sekolah,” jelas Lalu.

Ia juga menilai bahwa pengaruh media sosial kerap memperparah perilaku perundungan, baik secara langsung maupun melalui kekerasan verbal di dunia maya. Karena itu, ia meminta Kemendikdasmen berkoordinasi dengan Kominfo dan KPAI untuk mengantisipasi dampak negatif dunia digital terhadap pelajar.

“Ketika berbicara soal digital, itu tidak bisa diselesaikan oleh Kementerian Pendidikan sendiri. Perlu sinergi lintas lembaga,” katanya.

Trauma Healing Jadi Prioritas

Komisi X DPR RI juga menyoroti pentingnya pemulihan psikologis bagi para siswa dan guru pasca ledakan di SMA 72. Lulu mengatakan, trauma akibat kejadian tersebut tidak bisa dianggap remeh.

“Guru dan siswa sama-sama mengalami trauma. Kami meminta Kemendikdasmen bersama Dinas Pendidikan DKI segera menurunkan tim psikolog untuk melakukan trauma healing, supaya kegiatan belajar bisa kembali berjalan dengan aman,” ujar Lalu.

Lalu menegaskan, penanganan perundungan tidak bisa dibebankan hanya pada satu pihak. Menurutnya, sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah harus memiliki peran aktif dan saling mengawasi.

“Bullying ini sudah terlalu sering terjadi, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Jadi ini bukan sekadar urusan sekolah, tapi urusan kita semua sebagai bangsa,” tutupnya.

(Taufik Akbar Harefa)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

DPR Apresiasi BGN Tutup Permanen Dapur SPPG Sebabkan Keracunan

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (9/7/2025). ANTARA/Tri Meilani Ameliya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (9/7/2025). ANTARA/Tri Meilani Ameliya.

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mengapresiasi Badan Gizi Nasional (BGN) yang akan menutup permanen dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) karena lalai hingga menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) keracunan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Saya mengapresiasi kebijakan baru yang diumumkan oleh BGN bahwa SPPG yang terbukti menyebabkan KLB keracunan dalam pelaksanaan Program MBG akan ditutup secara permanen,” kata Charles di Jakarta, Senin (10/11).

Menurut dia, kebijakan ini menggambarkan adanya political will dari pemerintah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan anak-anak.

“Saya mendukung sepenuhnya langkah BGN untuk mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang lalai,” kata dia.

Dia memahami bahwa Pemerintah saat ini memang tengah melakukan pembenahan terhadap tata kelola program MBG. Antara lain dengan menerbitkan petunjuk teknis (juknis) baru yang lebih ketat, termasuk kewajiban memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh SPPG.

Namun, pimpinan Komisi DPR yang membidangi kesehatan itu menegaskan, pemerintah tidak boleh menutup mata bahwa peristiwa keracunan MBG masih sering terjadi di berbagai daerah.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa insiden keracunan makanan masih terjadi di berbagai wilayah. Data yang saya terima menunjukkan bahwa sudah hampir 20 ribu anak menjadi korban keracunan makanan dalam program ini,” kata dia.

Untuk itu, dia mengatakan bahwa pengawasan terhadap pelaksana program MBG juga harus diperkuat, dan kualitasnya tidak boleh dikorbankan demi target kuantitas. Karena keselamatan anak-anak, kata dia, harus menjadi prioritas utama.

“Setiap makanan yang disalurkan melalui program MBG harus memenuhi standar keamanan pangan yang tinggi,” kata dia.

Dia juga menekankan bahwa pemerintah tidak boleh mentolerir kelalaian, apalagi jika dilakukan oleh penyedia pangan yang belum memenuhi persyaratan untuk beroperasi.

“Penegakan standar dan sanksi yang konsisten akan menjadi pesan jelas bahwa program MBG bukan sekadar program distribusi pangan, tetapi sebuah intervensi gizi yang harus dikelola dengan tanggung jawab tinggi dan berorientasi pada keselamatan serta kesejahteraan anak-anak Indonesia,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Pemkot Bekasi Dukung Pelestrian Budaya Melalui Pentas Seni Budaya TTKKBI

Jakarta, aktual.com – Pemerintah Kota Bekasi hadir dalam Pentas Seni Budaya sekaligus pelantikan pengurus DPW 2 Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten-Indonesia (TTKKBI) Kota Bekasi (08/11).

Acara ini merupakan wujud nyata dukungan Pemerintah Kota Bekasi dalam melestarikan budaya. Sekretaris Kecamatan Bekasi Barat Kota Bekasi, Dewi Astiyanti S.T., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas upaya pelestarian kebudayaan yang masih berjalan dengan baik. “Ini Seni Budaya Bagian dari peran Kami (Pemerintah Kota Bekasi). Kami apresiasi ternyata perihal pelestarian kebudayaan masih berjalan dengan baik,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bekasi sangat bangga melihat para pelaku seni budaya masih menunjukkan eksistensinya di Kota Bekasi. “Kita sambut dengan baik, mudah-mudahan kami dari Kecamatan Bekasi Barat sebagai perwakilan Kota Bekasi bersama TTKKBI tetap menjaga pelestarian budaya di Kota Bekasi,” imbuhnya.

Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB itu diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Mars TTKKBI dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah dengan berbagai penampilan seni budaya tradisional.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bekasi, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfotandi) Kota Bekasi, Sekretaris Camat Bekasi Barat, Lurah Jakasampurna, serta unsur Koramil dan Wakapolsek setempat. Hadir pula Ketua Umum TTKKBI H. TB. Arif Hidayat, Ketua DPW 1 TTKKBI Jawa Barat Erin Rahmat, serta para sesepuh budayawan Sunda. (ADV)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ketua Fraksi Golkar MPR Ajak Generasi Muda Amalkan Empat Pilar

Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, melakukan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang berlangsung di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Marombak, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, 5 November 2025. Aktual/DOK MPR RI

Labuan Bajo, aktual.com – Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, kembali menegaskan pentingnya pengamalan Empat Pilar Kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di kalangan generasi muda. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang berlangsung di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Marombak, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, pada 5 November 2025.

Dalam kegiatan tersebut, Melchias Mekeng menekankan bahwa generasi muda memiliki peran sentral dalam menjaga keutuhan dan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah berbagai tantangan zaman. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika harus terus menjadi pedoman hidup bersama.

“Generasi muda harus memahami dan mengamalkan nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka inilah penerus bangsa yang akan memastikan Indonesia tetap berdiri kokoh dan bersatu di tengah perubahan global dan tantangan masa depan,” ujar Mekeng dalam sambutannya.

Kegiatan ini diikuti oleh para guru dan pelajar MAN Marombak yang antusias mendengarkan pemaparan mengenai makna dan relevansi Empat Pilar Kebangsaan dalam konteks kehidupan generasi muda saat ini.

Lebih lanjut, Melchias Mekeng menekankan pentingnya menjaga semangat kebangsaan, toleransi, dan persatuan sebagai modal utama dalam melanjutkan cita-cita pendiri bangsa. Menurutnya, pemahaman terhadap Empat Pilar tidak boleh berhenti sebatas teori, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun dunia digital.

Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari agenda MPR RI untuk memperkuat karakter kebangsaan masyarakat, khususnya di kalangan pelajar, agar terus berkomitmen menjaga persatuan, gotong royong, dan semangat cinta tanah air.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Tutut Tanggapi Pernyataan Soal Pro-Kontra Soeharto Jadi Pahlawan

Jakarta, aktual.com – Putri Presiden RI ke-2 Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti (Tutut Soeharto), menanggapi pro dan kontra penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada ayahandanya di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11).

Dalam pernyataannya seusai agenda itu, Tutut yang didampingi sang adik, Bambang Trihatmodjo, menyebut pro dan kontra yang muncul di masyarakat sebagai hal yang wajar dan bagian dari dinamika demokrasi.

“Pro kontra itu biasa, masyarakat Indonesia kan macam-macam. Yang penting kita melihat apa yang telah dilakukan Pak Harto dari sejak muda sampai beliau wafat, semua perjuangannya untuk masyarakat dan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan, keluarga tidak memiliki dendam ataupun keberatan terhadap kritik yang muncul atas keputusan tersebut, yang terpenting adalah menjaga persatuan dan tidak bersikap berlebihan dalam menyikapi perbedaan pandangan.

“Kami keluarga tidak merasa dendam, karena kan kita negara kesatuan. Boleh saja kontra, tapi jangan ekstrem. Kita jaga persatuan dan kesatuan,” kata Tutut.

Tutut menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.

Ia menilai keputusan itu lahir dari penilaian atas rekam jejak dan kontribusi Soeharto bagi pembangunan Indonesia.

“Terima kasih banyak kepada Pak Presiden. Karena beliau tentara, jadi tahu apa yang telah dilakukan bapak. Tapi beliau juga melihat aspirasi masyarakat,” ucapnya.

Menanggapi pertanyaan mengapa gelar itu belum diberikan pada era presiden sebelumnya, Tutut menyebut bahwa saat itu pemerintah mempertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat.

“Karena (Presiden sebelumnya) belum banyak kumpulkan (dukungan) supaya Pak Harto terpilih, juga untuk persatuan dan kesatuan Indonesia, supaya tidak ada yang marah. Sekarang rakyat sudah dewasa dan makin pintar,” ujarnya.

Ditanya mengenai anggapan bahwa gelar tersebut dapat menghapus stigma terhadap Soeharto terkait isu korupsi dan pelanggaran HAM, Tutut menegaskan masyarakat kini dapat menilai sendiri.

“Rakyat sudah makin pintar dan bisa melihat apa yang bapak lakukan. Kami tidak perlu membela diri, semua bisa terlihat kok,” katanya.

Sebagai bentuk syukur atas penganugerahan gelar tersebut, keluarga berencana melakukan ziarah ke makam Soeharto di Astana Giribangun.

“Kami bersyukur kepada Allah. Kalau Allah tidak izinkan, semua ini tidak akan terjadi,” demikian Tutut.

Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan bidang perjuangan kepada almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto dari Provinsi Jawa Tengah.

Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116.TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

“Jenderal Soeharto menonjol sejak masa kemerdekaan. Sebagai wakil komandan BKR Yogyakarta ia memimpin pelucutan senjata di Jepang, Kota Baru 1945,” demikian petikan informasi yang dibacakan di Istana Negara Jakarta.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Pramono Harap Tidak Ada Lagi Perundungan di Lingkungan Sekolah

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat dijumpai di Balai Kota, Senin (10/11/2025). ANTARA/Lifia Mawaddah Putri.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat dijumpai di Balai Kota, Senin (10/11/2025). Aktual/ANTARA

Jakarta, aktual.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berharap tidak ada lagi perundungan atau bullying di lingkungan sekolah di ibu kota.

“Jadi yang paling utama yang bersifat perundungan atau bullying tidak boleh terulang kembali karena ini bisa menjadi motivasi atau pemicu,” kata Pramono saat dijumpai di Balai Kota Jakarta, Senin (10/11).

Kendati demikian, saat dimintai tanggapan terkait pelaku ledakan SMA Negeri 72 yang diduga merupakan korban bullying, Pramono masih enggan berkomentar.

Meski saat meninjau tempat kejadian perkara (TKP) Pramono mendengar terkait isu tersebut, namun Ia mengatakan masih menunggu proses dari pihak kepolisian terkait hal tersebut.

“Sampai hari ini, karena ini yang berwenang sepenuhnya adalah kepolisian, mari kita tunggu bersama-sama apa yang sebenarnya terjadi. Jadi untuk itu, saya tidak komentar, tetapi sekali lagi kita tunggu apa yang menjadi temuan yang sebenarnya,” ujar Pramono.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menyebutkan masih mendalami motif terduga pelaku ledakan di SMA Negeri 72, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, pada Jumat siang (7/11) yang disebut adalah korban “bully” atau dirundung oleh siswa lain.

“Kita di malam ini sengaja meluruskan informasi sehingga tidak simpang siur, tadi disampaikan oleh Bapak Kapolda Metro Jaya, ini juga masih dilakukan pendalaman terhadap motif, apakah yang bersangkutan korban bullying? Ini juga masih kita dalami,” kata Kabid Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto.

Budi juga menjelaskan pihaknya belum dapat meminta sejumlah keterangan dari para saksi karena mayoritas masih dalam penanganan Rumah Sakit.

“Karena saksi-saksi yang ada juga adalah menjadi korban dan butuh pemulihan dalam penanganan medis. Jadi, kemungkinan besok Bapak Kapolda Metro Jaya yang akan menyampaikan,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain