13 April 2026
Beranda blog Halaman 613

MPR Segera Bertemu Presiden Bahas Kelanjutan GBHN

Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan sambutan saat acara Halal bi Halal Masyarakat Kabupaten dan Kota Tegal di Jabodetabek, Minggu (27/4/2025), di Gedung Nusantara IV Komplek Perlemen Senayan Jakarta. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani mengungkapkan perkembangan terbaru mengenai pembahasan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang tengah menjadi perhatian publik. Ia memastikan MPR akan segera menjadwalkan pertemuan dengan Presiden Ke-8 RI, Prabowo Subianto, untuk membahas kelanjutan arah kebijakan nasional tersebut.

“Ya, kita sedang minta waktu untuk ketemu dengan Presiden untuk berdiskusi persoalan itu,” kata Muzani kepada wartawan usai menghadiri Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025 di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).

Menurut Muzani, seluruh bahan pembahasan mengenai GBHN yang disusun oleh MPR saat ini sudah berada pada tahap akhir. “Sejauh ini bahan yang disampaikan oleh MPR sudah final dan selesai. Kita akan segera menyampaikan ke Kepala Negara untuk didiskusikan,” ujarnya.

Terkait dasar hukum yang akan menjadi payung penerapan GBHN, Muzani menjelaskan MPR masih mengkaji opsi terbaik. Ia menyebut, masih ada ruang diskusi apakah kebijakan itu akan dituangkan melalui Ketetapan MPR (TAP MPR) atau Undang-Undang (UU).

“Nah, ini yang mau kita diskusikan, apakah TAP MPR atau UU atau apa?” tutur Sekjen Partai Gerindra itu.

Pembahasan GBHN selama ini menjadi salah satu agenda strategis MPR untuk memperkuat arah pembangunan nasional jangka panjang. Gagasan tersebut sempat mencuat kembali di masa pemerintahan Presiden Prabowo sebagai upaya menghadirkan kesinambungan kebijakan lintas periode pemerintahan.

Selain isu GBHN, Muzani juga menanggapi pandangan publik terkait komposisi Tim Reformasi Polri yang disebut berisi tokoh-tokoh lama. Menurutnya, pemerintah layak diberikan kepercayaan karena tim tersebut berisi figur-figur berpengalaman yang memahami dinamika kepolisian.

“Ya kita sih berprasangka baik, kita beri optimisme karena mereka orang-orang yang sangat paham terhadap persoalan kepolisian dan menjadi tuntutan masyarakat. Kami percaya itu orang-orang kredibel yang bisa memperjuangkan reformasi kepolisian,” tegasnya.

Dengan sikap terbuka MPR dalam membahas arah baru GBHN serta dukungannya terhadap langkah reformasi Polri, Ahmad Muzani menegaskan komitmen lembaganya untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam memperkuat sistem ketatanegaraan dan tata kelola institusi negara yang lebih baik.

Prabowo Tetapkan 10 Pahlawan Nasional, Nama Soeharto Jadi Sorotan di Hari Pahlawan

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutannya di Gedung Utama Kompleks Kejaksaan Agung RI, Jakarta, pada Senin, 20 Oktober 2025. Aktual/BPMI Setpres

Jakarta, aktual.com – Presiden Prabowo Subianto akan mengumumkan 10 nama pahlawan nasional terbaru dalam upacara di Istana Negara yang dijadwalkan berlangsung pada peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11). Salah satu nama yang dipastikan masuk dalam daftar tersebut adalah Presiden ke-2 RI Soeharto.

Kepastian itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat ditemui di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, Minggu (9/11). “Besok, insya Allah akan diumumkan. Kurang lebih 10 nama. Soeharto, ya, masuk,” ujar Prasetyo.

Prasetyo menjelaskan pertemuan Prabowo dengan sejumlah pejabat negara pada hari ini turut membahas finalisasi penetapan para penerima gelar pahlawan nasional. Proses tersebut melibatkan komunikasi intensif dengan berbagai tokoh untuk memastikan keputusan pemerintah mengakomodasi masukan dari banyak pihak.

Dalam pertemuan itu, Prabowo juga mengundang Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang memimpin Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK). Menurut Prasetyo, langkah tersebut merupakan bagian dari pola kerja Prabowo yang mengedepankan konsultasi dan penyerapan aspirasi.

“Beliau menugaskan beberapa pihak untuk berkomunikasi dengan para tokoh, mendapatkan masukan dari berbagai pihak sehingga apa yang nanti diputuskan sudah melalui berbagai pertimbangan,” kata Prasetyo.

Prasetyo menegaskan Soeharto dinilai layak mendapatkan gelar pahlawan nasional karena jasa besar dalam membangun bangsa selama masa kepemimpinannya. “Itu bagian dari penghormatan kepada para pendahulu, terutama para pemimpin kita, yang pasti memiliki jasa luar biasa terhadap bangsa dan negara,” ujarnya.

AHY Dukung Soeharto–Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional, Serukan Rekonsiliasi Sejarah

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia Agus Harimurti Yudhoyono. (ANTARA/HO - Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan)

Jakarta, aktual.com – Keputusan pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan. Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyebut langkah itu sebagai momentum penting untuk rekonsiliasi sejarah dan memperkuat persatuan bangsa.

Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (8/11), AHY menilai keputusan tersebut mencerminkan kedewasaan bangsa dalam menghargai jasa para pemimpin, meski memiliki latar belakang politik dan gaya kepemimpinan yang berbeda. “Ini bukan sekadar penghargaan simbolik, tetapi bentuk pengakuan atas kontribusi setiap pemimpin bagi perjalanan bangsa,” ujar AHY.

Menurut AHY, Soeharto dan Gus Dur memiliki warisan yang berbeda namun sama-sama memberi dampak besar. Soeharto dikenal dengan catatan pembangunan dan stabilitas nasional, sementara Gus Dur dikenang sebagai tokoh yang menegakkan nilai kemanusiaan, kebebasan, dan pluralitas. “Warisan keduanya harus dirawat, bukan dipertentangkan,” tegasnya.

Kementerian Sekretariat Negara sebelumnya telah mengumumkan daftar penerima Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025. Nama Soeharto dan Abdurrahman Wahid masuk bersama sederet tokoh dari berbagai daerah. Penganugerahan resmi akan dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada upacara Hari Pahlawan, Senin 10 November 2025, di Istana Negara.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Hadi Tjahjanto, menyampaikan gelar tersebut diputuskan setelah melalui kajian mendalam oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. “Negara menilai jasa keduanya dalam dimensi berbeda, namun berpengaruh besar bagi kemajuan bangsa,” jelas Hadi.

Keputusan tersebut memicu diskusi hangat di sejumlah daerah. Sebagian menilai langkah ini sebagai simbol rekonsiliasi nasional—cara menghadapi sejarah secara jujur tanpa terjebak pada luka politik masa lalu. Di Yogyakarta, kader NU dan aktivis muda Muhammadiyah menggelar doa bersama untuk menghormati kedua tokoh tersebut.

“Kalau Gus Dur mengajarkan kemanusiaan, Pak Harto mengajarkan kedisiplinan. Dua-duanya perlu diteladani,” kata Ustaz Kholil, tokoh muda NU.

Penganugerahan gelar kepada Soeharto dan Gus Dur juga memiliki makna politis. Di tengah upaya pemerintahan Prabowo memperkuat stabilitas nasional pasca-Pemilu 2024, langkah ini dipandang sebagai sinyal merangkul seluruh kekuatan politik, baik nasionalis maupun religius.

Pengamat politik Universitas Indonesia, Dr. Pangi Syarwi Chaniago, menilai kebijakan tersebut sebagai simbol politik persatuan. “Prabowo ingin menunjukkan bahwa negara ini besar karena keberagaman. Soeharto dan Gus Dur adalah dua sisi mata uang yang sama: pembangunan dan kemanusiaan,” ujarnya.

HNW Dorong Profesionalisme dan Ketulusan Tata Kelola Haji dan Umrah

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com — Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menekankan pentingnya peningkatan profesionalisme dan ketulusan dalam tata kelola ibadah haji dan umrah di Indonesia. Ia menilai, hal itu dapat diwujudkan dengan tetap konsisten pada semangat pembentukan Kementerian Haji dan Umrah, yang terpisah dari Kementerian Agama.

Menurut Hidayat, salah satu tujuan utama pembentukan kementerian khusus itu adalah peningkatan profesionalitas dan mutu pelayanan penyelenggaraan ibadah haji serta umrah, dengan tetap berpegang pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

“Undang-undang tentang Haji sudah kembali menetapkan asas syariah sebagai prinsip utama. Ini artinya negara turut memastikan pelaksanaan ibadah Haji yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Prinsip ini penting untuk menghadirkan profesionalisme penyelenggaraan haji, ditambah dengan asas baru yaitu perlindungan dan pelayanan,” kata Hidayat seusai menghadiri Rakernas II dan Mudzakaroh Nasional Perhajian II Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah PP Muhammadiyah, di Jakarta, Sabtu (8/11/2025).

Dalam forum bertema “Transformasi Ekosistem Pelayanan Ibadah Haji dan Umrah yang Berkualitas”, Hidayat memaparkan materi bertajuk “Kebijakan Tata Kelola Haji dan Umrah yang Profesional”. Ia menyoroti sejumlah hal teknis yang perlu diperbaiki pemerintah, di antaranya soal pemberian kartu Nusuk bagi jemaah.

“Tahun lalu, banyak jemaah yang sudah berada di Madinah atau Mekah namun belum menerima kartu Nusuk, yang menjadi syarat masuk ke Masjidil Haram. Alhamdulillah, kini telah disepakati dalam rapat kerja Komisi VIII DPR RI dan Kementerian Haji agar kartu Nusuk dibagikan sejak dari embarkasi di Indonesia,” ujarnya.

Hidayat juga mengingatkan persoalan teknis lain yang terjadi pada musim haji 2025, seperti pemisahan jemaah akibat pengaturan syarikah yang tidak terkoordinasi.

“Tahun lalu ada suami-istri, orang tua dan anak, bahkan pembimbing yang terpisah dari jemaahnya karena masalah syarikah. Sekarang sudah disepakati agar hal itu tidak terulang lagi, dengan Kementerian Haji memastikan pelayanan terbaik dari dua syarikah yang telah ditunjuk,” ujar politikus PKS itu.

Selain itu, Hidayat menilai UU Haji terbaru juga memperkuat profesionalitas dengan memberikan ruang bagi pengawasan publik terhadap penyelenggaraan haji. Menurutnya, keterlibatan masyarakat penting untuk memastikan tata kelola haji yang profesional, transparan, dan akuntabel.

“Pembentukan Kementerian Haji merupakan langkah strategis untuk meningkatkan profesionalitas penyelenggaraan haji. Kalau hanya berbentuk badan, kewenangan dan koordinasinya terbatas, juga tidak memiliki cabang kekuasaan hingga ke daerah. Dengan kementerian, koordinasi dengan pihak Saudi akan lebih kuat dan terhormat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hidayat menambahkan, Komisi VIII DPR akan terus melakukan pengawasan terhadap kinerja Kementerian Haji agar tidak mengulangi kesalahan di tahun sebelumnya.

Ia berharap pemerintah dapat mewujudkan penyelenggaraan haji yang lebih berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau, sejalan dengan harapan Presiden Prabowo dan umat Islam.

“Penyelenggaraan haji yang baik bukan hanya soal teknis, tapi juga membawa berkah. Seperti KH Ahmad Dahlan yang dulu peduli terhadap urusan haji hingga membentuk Badan Penolong Haji tahun 1922, dan dari situ lahir keberkahan bagi Persyarikatan Muhammadiyah yang besar ini,” kata Hidayat.

Menanggapi pertanyaan peserta mengenai perbedaan pandangan dalam pelaksanaan ibadah haji, Hidayat mengimbau warga Muhammadiyah agar berpegang pada keputusan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah.

“Begitu berada di Tanah Suci, kita akan bertemu dengan berbagai madzhab dan pendapat. Tapi kalau di Muhammadiyah sudah punya rujukan yang disepakati, ikuti saja. Insya Allah itu yang maslahat,” pungkasnya.

Polisi Pastikan Terduga Pelaku Ledakan SMAN 72 Jalani Operasi Kepala, 29 Korban Masih Dirawat

Polda Metro Jaya mendirikan pos pelayanan di RS Islam Cempaka Putih dan memberikan update data terbaru pasien korban ledakan SMAN 72 Jakarta di rumah sakit setempat pada Minggu (9/11/2025). (ANTARA/Mario Sofia Nasution)
Polda Metro Jaya mendirikan pos pelayanan di RS Islam Cempaka Putih dan memberikan update data terbaru pasien korban ledakan SMAN 72 Jakarta di rumah sakit setempat pada Minggu (9/11/2025). (ANTARA/Mario Sofia Nasution)

Jakarta, aktual.com – Kepolisian Daerah Metro Jaya memastikan bahwa terduga pelaku dalam insiden ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, masih menjalani perawatan intensif. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyebut terduga pelaku harus menjalani operasi akibat luka di bagian kepala.

“Luka pasti di bagian kepala dan ada luka goresan. Iya menjalani operasi, pada bagian kepala ya,” kata Budi kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (8/11/2025).

Budi menambahkan, aparat masih melakukan penjagaan ketat terhadap terduga pelaku maupun para korban yang dirawat di rumah sakit. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi tetap aman dan menghindari dampak yang lebih besar.

“Pasti, bukan hanya pelaku, terhadap korban kan juga kita jaga. Karena kan kita berharap tidak terjadi fatalitas yang lebih berat,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah total korban yang terdata hingga Sabtu (8/11) mencapai 96 orang. Dari jumlah tersebut, 67 orang telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.

“Kami tekankan jumlah korban 96 orang. Saat ini yang dirawat berjumlah 29 orang, dengan rincian 14 di Rumah Sakit Islam Jakarta, 14 di Rumah Sakit Yarsi, dan 1 di Rumah Sakit Pertamina. Sementara 67 orang lainnya sudah pulang ke rumah dalam kondisi lebih baik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Budi menuturkan bahwa kondisi terduga pelaku kini sudah sadar dan masih terus dalam pengawasan medis.

“Disampaikan oleh Bapak Kapolri memang salah satu dugaan yang melakukan dalam kondisi ini adalah anak berhadapan dengan hukum. Masih dalam perawatan dan kondisinya sudah sadar. Termasuk saat ini kita fokus terhadap pemulihan,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Pakar Puji Langkah BPN Perkuat Sistem Teknologi Pertanahan Cegah Sertifikat Ganda

Wakil Rektor 2 Untag Surabaya Supangat, M.Kom., Ph.D. ITIL, COBIT, CLA, CISA. (paling kanan). ANTARA/Dokumen pribadi
Wakil Rektor 2 Untag Surabaya Supangat, M.Kom., Ph.D. ITIL, COBIT, CLA, CISA. (paling kanan). ANTARA/Dokumen pribadi

Surabaya, aktual.com – Pakar sistem informasi memuji langkah Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang memperkuat sistem teknologi informasi pertanahan sebagai langkah strategis untuk mencegah sertifikat ganda dan mewujudkan kepastian hukum agraria.

“Tinjauan permasalahan dari perspektif sistem teknologi informasi mengidentifikasi sejumlah kelemahan, khususnya dalam hal keandalan data, pelacakan perubahan, keterkaitan antara data fisik dan yuridis, serta pengendalian terhadap duplikasi data,” kata Pakar Sistem Informasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Supangat, M.Kom., Ph.D, di Surabaya, Minggu (9/11).

Supangat menegaskan bahwa kasus sertifikat ganda mencerminkan kelemahan mendasar dalam keterpaduan data.

Ia menilai setiap bidang tanah seharusnya memiliki identitas tunggal yang menghubungkan data fisik dengan data yuridis agar duplikasi dapat dihindari.

Wakil Rektor 2 Untag Surabaya itu mengusulkan strategi menyeluruh guna meningkatkan keandalan sistem informasi pertanahan.

“Setiap bidang tanah perlu memiliki identitas unik yang konsisten, seperti Nomor Identifikasi Bidang (NIB), yang digunakan dalam seluruh proses administrasi. Sistem harus mengintegrasikan data fisik dengan data yuridis dalam satu basis data yang terkelola dengan baik,” paparnya.

Untuk pencegahan duplikasi, Supangat merekomendasikan sistem verifikasi otomatis serta integrasi pemetaan digital.

“Integrasi dengan sistem pemetaan digital memungkinkan deteksi dini terhadap tumpang tindih atau klaim ganda,” katanya.

Ia menilai teknologi blockchain dapat menjadi solusi jangka panjang.

“Inovasi seperti penggunaan teknologi blockchain dan token NFT dapat memberikan sidik digital unik pada setiap bidang tanah, memperkuat keaslian dan mencegah pemalsuan,” tambahnya.

Supangat juga menyoroti pentingnya sertifikat elektronik serta transparansi layanan digital.

“Transformasi menuju sertifikat elektronik yang telah dimulai oleh BPN membantu mengurangi risiko kehilangan dokumen fisik dan pemalsuan. Aplikasi publik seperti Sentuh Tanahku memungkinkan masyarakat mengakses informasi status tanah secara daring,” ujarnya.

Menurutnya, konektivitas antar-instansi menjadi kunci sukses transformasi digital. Sistem pertanahan perlu terhubung dengan pemerintah daerah, desa/kelurahan, lembaga perpajakan, dan badan pengukuran agar validasi data berjalan cepat dan akurat.

Untuk data lama yang rawan masalah, Supangat menyarankan audit dan pembaruan.

“Data lama, terutama yang berasal dari sebelum tahun 1980 atau yang belum terdigitalisasi, perlu diaudit dan diperbarui, karena sering menjadi sumber masalah. Program seperti Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) perlu didukung dengan fitur penanda untuk bidang tanah berisiko tinggi,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya pencatatan digital pada setiap perubahan hak tanah. “Langkah pembenahan sistem informasi pertanahan yang sedang dilakukan BPN ini diharapkan dapat menciptakan sistem yang lebih tangguh, akuntabel, dan mampu memberikan layanan yang cepat serta terpercaya bagi masyarakat, sekaligus mencegah terulangnya kasus sertifikat ganda di masa depan,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain