18 April 2026
Beranda blog Halaman 632

Tak Kuasa Menahan Haru, Kakak Marsinah Terima Gelar Pahlawan Nasional untuk Mendiang Adiknya

Aktivis Buruh, Marsinah (foto) menjadi pahlawan nasional yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com — Suasana haru menyelimuti Istana Negara saat Marsini, kakak kandung aktivis buruh Marsinah, menyampaikan keterangan pers usai Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025, Senin (10/11/2025).

Dengan mata berkaca-kaca, Marsini mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto kepada mendiang adiknya, Marsinah.

Marsini hadir bersama keluarga besar, termasuk keponakan Marsinah, A. Anovianto Prajoko, serta perwakilan dari Kabupaten Nganjuk, untuk menerima penghargaan tersebut. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, Bapak Presiden RI yang sekarang. Terima kasih banget, terima kasih sebesar-besarnya untuk anugerah yang diberikan untuk adik saya Marsina,” ujar Marsini dengan suara bergetar.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung proses panjang pengajuan gelar pahlawan nasional bagi Marsinah — mulai dari pemerintah daerah, organisasi buruh, hingga lembaga swadaya masyarakat. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati pendahulu yang telah memberi nama Jalan Marsina. Juga kepada teman-teman Marsina yang lain, yaitu ke-13 anak yang di-PHK saat peristiwa demo,” tuturnya.

Marsini mengenang dengan haru perjuangan sahabat-sahabat Marsinah yang selama bertahun-tahun terus memperingati perjuangan sang aktivis melalui doa bersama dan kegiatan sosial. Ia mengaku tak menyangka akhirnya dapat berdiri di Istana Negara, menyaksikan perjuangan sang adik diakui oleh negara. “Akhirnya saya bisa berdiri di sini, didampingi orang nomor satu, nomor dua, juga dari LSM Pak Kelik yang selalu berkomunikasi. Saya tidak bisa membalas apa-apa, hanya terima kasih. Semoga semuanya berkah hidupnya di dunia dan akhirat,” ucapnya penuh emosi.

Mengenang sosok sang adik, Marsini bercerita tentang masa kecil Marsinah yang penuh perjuangan. Ia menggambarkan betapa berat kehidupan yang dijalani Marsinah kecil, yang harus berpindah-pindah mengikuti kerabat demi bisa bersekolah. “Marsina waktu kecil berjuang keras agar bisa sekolah sampai SMP. Naik sepeda ontel jengki merah tanpa boncengan, tanpa selebor, tetap semangat belajar meski tanpa ibu dan bapak,” kenangnya.

Dalam kesempatan itu, Marsini juga menyampaikan pesan kepada para buruh di seluruh Indonesia agar terus melanjutkan semangat perjuangan Marsinah dalam memperjuangkan kesejahteraan pekerja. “Harapan kami, teman-teman Marsinah terus berjuang meningkatkan taraf hidupnya. Semoga UMR yang ada sekarang bisa mencukupi kehidupan yang lebih layak, tidak seperti dulu makan saja hanya dua kali sehari,” katanya.

Marsini juga menyoroti sistem kerja kontrak dan outsourcing yang menurutnya masih menjadi persoalan di kalangan buruh. “Kalau outsourcing tiga bulan selesai, otomatis bisa menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga hingga perceraian. Saya mohon teman-teman tetap berjuang, ingatlah Marsina yang berkorban untuk kesejahteraan buruh,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Marsini berharap perjuangan Marsinah tidak berhenti di masa lalu, tetapi terus menjadi inspirasi bagi generasi muda. “Perjuangan Marsinah semoga dilanjutkan oleh teman-temannya yang dulu masih kecil, sekarang sudah dewasa. Teruslah berjuang. Marsina dulu ingin kuliah tapi tidak bisa karena tidak ada biaya — semoga semangatnya tetap hidup,” tandas Marsini.

Mensesneg Sebut Penganugerahan Gelar Pahlawan Kepada Marsinah Tidak Berkaitan dengan Hukum

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi ANTARA/Fathur Rochman/am.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi ANTARA/Fathur Rochman/am.

Jakarta, aktual.com – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah tidak berkaitan dengan proses penyidikan ulang atas kasus pembunuhannya pada 1993.

Hal itu disampaikan Prasetyo usai Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11), ketika ditanya apakah pemerintah akan membuka kembali penyelidikan kasus tersebut.

“Saya kira, enggak ada hubungannya juga ya. Jadi hari ini memang tadi sebagaimana sudah disampaikan bahwa kita melihat jasa-jasa dari para tokoh-tokoh terutama juga para pendahulu-pendahulu kita,” kata Prasetyo.

Ia menyatakan bahwa penganugerahan gelar diberikan berdasarkan kontribusi dan keteladanan perjuangan Marsinah sebagai simbol keberanian buruh memperjuangkan keadilan.

Prasetyo mengajak publik untuk menaruh fokus pada nilai perjuangan yang ditinggalkan, bukan pada polemik masa lalu.

“Mari kita bersama-sama melihat ke depan ya, semua generasi punya masa, semua masa ada orangnya, ada prestasi, ada kelebihan, ada kekurangan,” ujarnya.

Kasus Marsinah terjadi pada 1993 di Sidoarjo, Jawa Timur. Buruh PT Catur Putra Surya (CPS) itu melancarkan aksi mogok kerja bersama rekannya untuk menuntut kenaikan upah sesuai standar pemerintah.

Pada 5 Mei 1993, setelah beberapa buruh ditahan di Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo, Marsinah terlihat terakhir kali saat mendatangi markas tersebut untuk menanyakan nasib rekan-rekannya.

Tiga hari berselang, pada 8 Mei 1993, jenazahnya ditemukan di sebuah gubuk di Nganjuk dengan tanda-tanda penyiksaan berat dan kekerasan seksual.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ledakan di SMA 72 Jadi Alarm Darurat Bullying, DPR Desak Evaluasi Total Dunia Pendidikan

Jakarta, Aktual.com — Peristiwa ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta yang diduga dipicu oleh aksi balas dendam korban perundungan (bullying) kembali membuka luka lama dunia pendidikan Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyebut kasus ini sebagai tanda bahwa praktik kekerasan dan perundungan di sekolah sudah masuk tahap darurat nasional.

“Kalau informasi yang kami terima benar bahwa pelaku merupakan korban bullying, maka ini sungguh sangat disayangkan. Padahal aturan tentang pencegahan bullying sudah bertumpuk-tumpuk dan sosialisasinya masif,” kata Lalu Hadrian saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, kasus di SMA 72 menjadi bukti bahwa masih ada kelemahan dalam sistem pengawasan dan pembinaan karakter di sekolah.

“Berarti ada yang kurang, ada yang lemah. Karena itu kami mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melakukan evaluasi total dan langkah cepat agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Lalu menegaskan, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Ia menyoroti bahwa meskipun regulasi sudah jelas mulai dari Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 hingga berbagai pedoman antikekerasan di sekolah praktiknya masih jauh dari ideal.

“Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tapi juga tempat tumbuhnya karakter. Kalau sampai ada siswa yang merasa terpojok hingga bertindak ekstrem, berarti ada yang salah dalam sistem pembinaan dan pendampingan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pengawasan internal sekolah dan peran orang tua sangat penting dalam mencegah perundungan. Menurut Lalu, siswa harus didorong untuk berani melapor bila menjadi korban atau mengetahui kasus bullying di lingkungan mereka.

“Kami meminta orang tua aktif bekerja sama dengan sekolah melalui komite sekolah. Anak-anak juga harus tahu bahwa mereka bisa melapor tanpa takut. Kalau ada korban, segera lapor ke guru atau kepala sekolah, jangan diam,” ujarnya.

Pendidikan Karakter dan Literasi Digital Jadi Kunci

Menanggapi meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, DPR tengah menyiapkan revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Salah satu fokusnya adalah memperkuat pendidikan karakter dalam kurikulum.

“Pendidikan karakter, moral, dan sopan santun harus kita pertegas kembali. Generasi muda hari ini banyak yang terkontaminasi oleh informasi negatif dari media sosial. Maka literasi digital juga sangat penting untuk ditanamkan di sekolah-sekolah,” jelas Lalu.

Ia juga menilai bahwa pengaruh media sosial kerap memperparah perilaku perundungan, baik secara langsung maupun melalui kekerasan verbal di dunia maya. Karena itu, ia meminta Kemendikdasmen berkoordinasi dengan Kominfo dan KPAI untuk mengantisipasi dampak negatif dunia digital terhadap pelajar.

“Ketika berbicara soal digital, itu tidak bisa diselesaikan oleh Kementerian Pendidikan sendiri. Perlu sinergi lintas lembaga,” katanya.

Trauma Healing Jadi Prioritas

Komisi X DPR RI juga menyoroti pentingnya pemulihan psikologis bagi para siswa dan guru pasca ledakan di SMA 72. Lulu mengatakan, trauma akibat kejadian tersebut tidak bisa dianggap remeh.

“Guru dan siswa sama-sama mengalami trauma. Kami meminta Kemendikdasmen bersama Dinas Pendidikan DKI segera menurunkan tim psikolog untuk melakukan trauma healing, supaya kegiatan belajar bisa kembali berjalan dengan aman,” ujar Lalu.

Lalu menegaskan, penanganan perundungan tidak bisa dibebankan hanya pada satu pihak. Menurutnya, sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah harus memiliki peran aktif dan saling mengawasi.

“Bullying ini sudah terlalu sering terjadi, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Jadi ini bukan sekadar urusan sekolah, tapi urusan kita semua sebagai bangsa,” tutupnya.

(Taufik Akbar Harefa)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

DPR Apresiasi BGN Tutup Permanen Dapur SPPG Sebabkan Keracunan

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (9/7/2025). ANTARA/Tri Meilani Ameliya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (9/7/2025). ANTARA/Tri Meilani Ameliya.

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mengapresiasi Badan Gizi Nasional (BGN) yang akan menutup permanen dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) karena lalai hingga menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) keracunan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Saya mengapresiasi kebijakan baru yang diumumkan oleh BGN bahwa SPPG yang terbukti menyebabkan KLB keracunan dalam pelaksanaan Program MBG akan ditutup secara permanen,” kata Charles di Jakarta, Senin (10/11).

Menurut dia, kebijakan ini menggambarkan adanya political will dari pemerintah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan anak-anak.

“Saya mendukung sepenuhnya langkah BGN untuk mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang lalai,” kata dia.

Dia memahami bahwa Pemerintah saat ini memang tengah melakukan pembenahan terhadap tata kelola program MBG. Antara lain dengan menerbitkan petunjuk teknis (juknis) baru yang lebih ketat, termasuk kewajiban memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh SPPG.

Namun, pimpinan Komisi DPR yang membidangi kesehatan itu menegaskan, pemerintah tidak boleh menutup mata bahwa peristiwa keracunan MBG masih sering terjadi di berbagai daerah.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa insiden keracunan makanan masih terjadi di berbagai wilayah. Data yang saya terima menunjukkan bahwa sudah hampir 20 ribu anak menjadi korban keracunan makanan dalam program ini,” kata dia.

Untuk itu, dia mengatakan bahwa pengawasan terhadap pelaksana program MBG juga harus diperkuat, dan kualitasnya tidak boleh dikorbankan demi target kuantitas. Karena keselamatan anak-anak, kata dia, harus menjadi prioritas utama.

“Setiap makanan yang disalurkan melalui program MBG harus memenuhi standar keamanan pangan yang tinggi,” kata dia.

Dia juga menekankan bahwa pemerintah tidak boleh mentolerir kelalaian, apalagi jika dilakukan oleh penyedia pangan yang belum memenuhi persyaratan untuk beroperasi.

“Penegakan standar dan sanksi yang konsisten akan menjadi pesan jelas bahwa program MBG bukan sekadar program distribusi pangan, tetapi sebuah intervensi gizi yang harus dikelola dengan tanggung jawab tinggi dan berorientasi pada keselamatan serta kesejahteraan anak-anak Indonesia,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Pemkot Bekasi Dukung Pelestrian Budaya Melalui Pentas Seni Budaya TTKKBI

Jakarta, aktual.com – Pemerintah Kota Bekasi hadir dalam Pentas Seni Budaya sekaligus pelantikan pengurus DPW 2 Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten-Indonesia (TTKKBI) Kota Bekasi (08/11).

Acara ini merupakan wujud nyata dukungan Pemerintah Kota Bekasi dalam melestarikan budaya. Sekretaris Kecamatan Bekasi Barat Kota Bekasi, Dewi Astiyanti S.T., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas upaya pelestarian kebudayaan yang masih berjalan dengan baik. “Ini Seni Budaya Bagian dari peran Kami (Pemerintah Kota Bekasi). Kami apresiasi ternyata perihal pelestarian kebudayaan masih berjalan dengan baik,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bekasi sangat bangga melihat para pelaku seni budaya masih menunjukkan eksistensinya di Kota Bekasi. “Kita sambut dengan baik, mudah-mudahan kami dari Kecamatan Bekasi Barat sebagai perwakilan Kota Bekasi bersama TTKKBI tetap menjaga pelestarian budaya di Kota Bekasi,” imbuhnya.

Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB itu diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Mars TTKKBI dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah dengan berbagai penampilan seni budaya tradisional.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bekasi, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfotandi) Kota Bekasi, Sekretaris Camat Bekasi Barat, Lurah Jakasampurna, serta unsur Koramil dan Wakapolsek setempat. Hadir pula Ketua Umum TTKKBI H. TB. Arif Hidayat, Ketua DPW 1 TTKKBI Jawa Barat Erin Rahmat, serta para sesepuh budayawan Sunda. (ADV)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ketua Fraksi Golkar MPR Ajak Generasi Muda Amalkan Empat Pilar

Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, melakukan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang berlangsung di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Marombak, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, 5 November 2025. Aktual/DOK MPR RI

Labuan Bajo, aktual.com – Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, kembali menegaskan pentingnya pengamalan Empat Pilar Kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di kalangan generasi muda. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang berlangsung di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Marombak, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, pada 5 November 2025.

Dalam kegiatan tersebut, Melchias Mekeng menekankan bahwa generasi muda memiliki peran sentral dalam menjaga keutuhan dan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah berbagai tantangan zaman. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika harus terus menjadi pedoman hidup bersama.

“Generasi muda harus memahami dan mengamalkan nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka inilah penerus bangsa yang akan memastikan Indonesia tetap berdiri kokoh dan bersatu di tengah perubahan global dan tantangan masa depan,” ujar Mekeng dalam sambutannya.

Kegiatan ini diikuti oleh para guru dan pelajar MAN Marombak yang antusias mendengarkan pemaparan mengenai makna dan relevansi Empat Pilar Kebangsaan dalam konteks kehidupan generasi muda saat ini.

Lebih lanjut, Melchias Mekeng menekankan pentingnya menjaga semangat kebangsaan, toleransi, dan persatuan sebagai modal utama dalam melanjutkan cita-cita pendiri bangsa. Menurutnya, pemahaman terhadap Empat Pilar tidak boleh berhenti sebatas teori, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun dunia digital.

Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari agenda MPR RI untuk memperkuat karakter kebangsaan masyarakat, khususnya di kalangan pelajar, agar terus berkomitmen menjaga persatuan, gotong royong, dan semangat cinta tanah air.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Berita Lain