Houston, Aktual.com – Staf berkewarganegaraan China meninggalkan konsulatnya di Houston di tengah kerumunan massa yang melontarkan ejekan pada Jumat (24/7) setelah pemerintah Amerika Serikat memerintahkan pengosongan gedung itu.

AS menuduh konsulat itu menjadi tempat untuk memata-matai perusahaan-perusahaan dan para peneliti Amerika.

Sekitar 100 pengunjuk rasa meneriakkan “kembalilah ke China,” mengecam Partai Komunis China yang berkuasa dan melambaikan bendera saat para pekerja konsulat mengunggah barang-barang milik mereka ke bagasi truk sewaan.

Bangunan lima lantai itu pekan ini menjadi titik pertikaian antara Beijing dan Washington perkara perdagangan, pandemi virus corona dan manuver militer di Asia Tenggara.

Segera setelah tenggat penutupan konsulat pada pukul 21.00 GMT, sekelompok orang dilihat oleh wartawan Reuters sedang menggunakan perkakas listrik dan linggis membuka paksa pintu belakang. Mereka menolak menyebut identitas mereka kepada wartawan.

Setelah mereka masuk ke dalam, dua anggota berseragam Biro Keamanan Diplomatik Deplu AS tiba menjaga pintu itu. Mereka juga tak menjawab para wartawan.

Kedubes China di Washington dan Deplu AS tak menjawab segera permintaan untuk berkomentar.

Menurut seorang saksi Reuters, staf konsulat keluar dari gedung segera setelah pukul 4 sore waktu setempat dan pergi dengan kendaraan.

Di antara pendemo, Zhony Yi Ma, 34, berangkat menuju Houston dengan satu kelompok dari New York untuk mengejek staf konsulat. Polisi menjaga kerumunan jauh dari gedung konsulat.

“Kami ingin mengakhiri Partai Komunis China (PKC) , kembali ke China dan membangun negeri seperti Amerika,” katanya.

Pendemo lain termasuk kelompok pendukung grup spiritual Falun Gong, yang dilarang di China. Tao Peng, 48, berdiri diam memegang panji-panji menyerukan pembubaran komunisme.

Sebagai ilmuwan riset medis dari Houston, dia mengatakan PKC menyusup ke dalam kelompok-kelompok dan tak bisa dipercaya.

“Saya besar di China daratan dan menyaksikan bagaimana PKC berbohong,” katanya saat satu truk–yang dihiasi spanduk “Merdeka dari Komunisme, dan Tuhan Memberkati Amerika– yang disewa Falun Gong mengitari kawasan itu.

Para pejabat senior AS mengatakan pada Jumat bahwa konsulat itu merupakan salah satu pelaku pelanggaran terburuk dalam hal kegiatan mata-mata China di AS dan mengaitkan stafnya dengan perburuan China terhadap satu vaksin virus corona baru.

Reuters (Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)