Patung instalasi bekas peringatan 8 Tahun Semburan Lumpur Lapindo semakin terbenam akibat luberan lumpur di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (28/5). Sepuluh tahun setelah semburan lumpur terjadi, pembayaran ganti rugi terhadap warga yang terkena dampak dari lumpur belum seluruhnya tuntas, meskipun Lapindo telah mengeluarkan dana senilai Rp8 triliun dan mendapat pinjaman dari pemerintah senilai Rp781 miliar. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/16

Sidoarjo, Aktual.com – Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo mengungkapkan, ada peningkatan suhu lumpur Lapindo dari yang biasanya 20-30 derajat naik menjadi 40-60 derajat pasca gempa di Tenggara Kabupaten Malang pada Rabu (16/11).

Humas BPLS Hengky Listria Adi di Sidoarjo mengatakan, adanya kenaikan suhu semburan lumpur tersebut salah satunya diketahui melalui asap pekat yang ada di lokasi tersebut.

“Semalam memang ada kenaikan suhu dari yang biasanya 20-30 derajat naik menjadi 40-60 derajat di ujung titik 25 semburan lumpur,” kata dia, Kamis (17/11).

Dia mengemukakan, akibat adanya gempa yang terjadi di Malang ini tidak berpengaruh pada kondisi tanggul penahan lumpur Lapindo yang ada saat ini.

“Untuk tanggul penahan lumpur sampai dengan saat ini kondisinya masih aman tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun demikian, kami tetap melakukan pemantauan di lokasi tersebut.”

Dia mengatakan, saat ini pihaknya juga melakukan pemantauan di sejumlah titik supaya kalau terjadi retakan atau kemungkinan lain supaya cepat dilakukan tindakan. “Pemantauan terus kami lakukan rutin seperti biasanya supaya kalau ada kemungkinan terburuk bisa segera dilakukan tindakan cepat.”

Sebelumnya, gempa berkekuatan 6,2 skala richter dirasakan warga di sejumlah daerah di pesisir selatan Jawa Timur, Rabu malam pada pukul 22.10:11 WIB.

Menurut keterangan badan meteorologi klimatologi dan geofisika (BMKG) gempa berpusat pada titik ordinat 9.32 lintang selatan (LS), 113.12 bujur timur (BT), sekitar 127 kilometer tenggara Kabupaten Malang berkedalaman 69 kilometer tersebut.

(Wisnu)