Seorang teller menunjukan mata uang dollar di salah satu gerai money changer di Jakarta, Jumat (2/3/18). Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai pengenaan tarif impor baja sebesar 10% dan tarif impor alumunium sebesar 25%, sempat membuat dollar AS melemah terhadap rupiah. AKTUAL/Tino Oktaviano

Pontianak, Aktual.com – Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kalimantan Barat, Denia Abdussamad mengatakan nilai tukar Rupiah yang terus tertekan oleh Dolar AS dapat mempengaruhi daya saing produk Indonesia.

“Dengan menguatnya Dolar AS terhadap Rupiah tentu akan memperlemah daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor,” ujarnya di Pontianak, Senin (3/9).

Ia menyebutkan pengaruh yang ada karena disebabkan beberapa sektor industri di Indonesia sangat bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal.

“Saat Dolar AS mahal, maka biaya produksi pasti naik yang berdampak pada harga barang menjadi lebih mahal,” ujar dia.

Sementara itu, lanjutnya konsumsi domestik masih stagnan yang akan berpengaruh pada profit pengusaha yang semakin rendah. “Jika dikatakan menguntungkan Dolar AS naik bagi pengusaha sawit juga belum tentu karena ongkos produksi ikut naik. Kenaikan Dolar AS ini kan juga berpengaruh terhadap BBM,” terangnya.

Dengan kondisi yang ada ia pihaknya berharap pemerintah untuk terus membuat kebijakan moneter dan fiskal yang bisa menekan lemahnya Rupiah.

“Kita optimis dengan kebijakan yang tepat pemerintah dapat menekan lemahnya Rupiah. Semoga kondisi ekonomi Indonesia terus kuat,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalbar, Prijono mengatakan bahwa setiap situasi dan kondisi baik melemah maupun menguatnya Rupiah selalu ada peluang. “Penguatan Dolar AS saat ini tidak hanya terjadi pada Rupiah saja namun mata uang asing negara-negara lainnya,” papar dia.

Ia menyebutkan dalam kondisi saat ini harus terus diupayakan substitusi impor. Menurutnya ekspor Indonesia sebetulnya bisa lebih tinggi lagi terutama bagi industri yang tidak memiliki atau rendah konten impor.

“Hanya saja industri yang memiliki konten impor tinggi.Apalagi bila produk dijual domestik, perlu mengatur strategi,” tambahnya.

Ia melanjutkan ekspor Kalbar saat ini masih berasal dari sumber daya alam yakni dari hasil perkebunan dan pertania.

Dengan potensi yang ada perlu terus didorong untuk dapat menghasilkan komoditi ekspor yang bernilai tambah tinggi dan kompetitif.

Terkait dengan hal itu, hilirisasi menjadi isu strategis,” katanya.

 

Ant.

()