Pemandangan menunjukkan jalan yang rusak dengan karung pasir sebagai pembatas di distrik Saif al-Dawla Aleppo, Suriah, 6 Maret 2015. ANTARA FOTO/REUTERS/Hosam Katan/File Photo/cfo/16

Jakarta, Aktual.com – Kelompok pemberontak Suriah, Senin memutuskan untuk menghentikan seluruh pembahasan mengenai perundingan damai yang akan digelar Rusia di Kazakhstan.

Mereka akan ikut berunding jika pemerintah Suriah beserta sekutunya di Iran berhenti melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Pemberontak mengatakan perjanjian gencatan senjata yang diusung Rusia dan Turki akan berakhir jika pasukan pemerintah beserta sekutunya terus menginvasi wilayah mereka.

Ketentuan itu akan berlaku Jumat, kata pemberontak.

“Pasukan pemerintah beserta sekutunya terus menembak dan melakukan banyak pelanggaran,” katanya dalam surat pernyataan yang ditandatangani kelompok pemberontak Tentara Pembebasan Suriah (FSA).

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Sabtu mendukung rencana gencatan senjata yang akan diikuti perundingan damai di ibukota Kazakhstan, Astana.

Pelanggaran banyak terjadi di wilayah barat laut Damaskus, lembah Barada yang dikuasai pemberontak.

Tentara pemerintah dan Hezbollah dari Lebanon dikabarkan terus menekan pasukan pemberontak di sana.

Pemberontak mengatakan, tentara berusaha mengambil alih wilayah tersebut, mengingat ada sumber air utama untuk warga Damaskus.

Wilayah itu menjadi rute utama pengiriman pasokan barang dari Lebanon ke ibukota Suriah oleh Hezbollah.

Sebagaimana perjanjian lainnya, gencatan senjata di Suriah mulai dengan awal yang mengkhawatirkan.

Pasalnya banyak pelanggaran terjadi di beberapa wilayah perang.

Pemberontak meragukan kemampuan Rusia memaksa pemerintah Suriah dan sekutunya mematuhi isi perjanjian gencatan senjata tersebut.

(Ant)

(Nebby)