Serangan pasukan koalisi di Raqqa, Suriah. Foto: Ist

Jakarta, Aktual.com – Kelompok pemberontak Suriah menuduh tentara menggunakan gas klorin dalam pertempuran di Damaskus timur. Pernyataan tersebut dengan cepat dibantah militer, mereka menyebutnya tuduhan tersebut adalah rekayasa.

Kelompok Failaq al-Rahman mengatakan bahwa lebih dari 30 orang menderita sesak napas akibat serangan di Ain Tarma, wilayah Ghouta timur, tempat pasukan pemerintah berusaha mengambil kembali kendali dari kelompok pemberontak.

Dalam pernyataan diedarkan media pemerintah, sumber militer mengatakan bahwa komando tentara sama sekali menolak tuduhan tersebut.

“Kami belum pernah menggunakan senjata kimia apa pun pada masa lalu dan kapan pun tidak akan menggunakannya,” kata pernyataan itu, ditulis Senin (3/7).

Amerika Serikat mengatakan pada Rabu bahwa pemerintahan Presiden Bashar al-Assad tampaknya sejauh ini mengindahkan sebuah peringatan yang dikeluarkan pada awal pekan ini, untuk tidak melakukan serangan senjata kimia setelah AS mengatakan bahwa pihaknya melihat kemungkinan adanya persiapan serangan menggunakan senjata kimia lain.

Pemerintahan Barat termasuk Amerika Serikat mengatakan bahwa pemerintah Suriah berada di balik serangan gas kimia di kota Khan Sheikhoun pada April lalu, menewaskan puluhan orang. Sebagai tanggapan, Amerika Serikat menembakkan peluru kendali jelajah ke pangkalan udara yang menurut AS merupakan tempat serangan itu dilancarkan.

(Antara)

(Eka)