Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto memberikan keterangan pers terkait percepatan penanganan COVID-19 di Kantor BNPB, Jakarta, Rabu

Jakarta, akual.com – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjamin ketersedian gula pasir akan tetap terpenuhi setidaknya untuk Pulau Jawa dan DKI Jakarta meski di tengah situasi pandemi global COVID-19.

“Kebutuhan gula saat ini dirasakan relatif tinggi. Harga rata-rata nasional Rp17.000’kg, sementara harga eceran tertinggi Rp12.500, sehingga kami mengambil langkah untuk memenuhi kebutuhan gula tersebut segera akan dilakukan raw sugar 550 ribu ton yang akan digiling industri gula menjadi gula kristal putih,” ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta, Rabu.

Dalam rangka mempercepat pasokan gula, Kemendag bersama dengan Satgas Pangan juga telah memonitor beberapa pabrik dan industri gula, salah satunya di Lampung untuk kemudian didistribusikan.

Ia mengaku, stok gula di Lampung tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gula di Pulau Jawa dan DKI Jakarta dan akan segera didistribusikan .

“Sesuai arahan, telah disepakati gula 33 ribu ton oleh industri gula untuk dikirim ke Jakarta dengan harapan langsung dapat dipasarkan di retail modern. Saat ini progresnya sudah masuk 12 ribu ton dan sampai hari ini proses pengiriman sedang berlangsung, ” katanya.

Dengan pasokan tersebut, diharapkan harga gula di pasaran dapat segera turun, terlebih konsumsi gula di DKI Jakarta per hari bisa menghabiskan sekitar 5 ton.

Keterbatasan gula pasir memang sempat membuat harga gula pasir di sejumlah pasar tradisional di Jakarta, terutama melonjak hingga menembus Rp18.000 bahkan mencapai Rp20.000/kg.

Selain gula pasir, komoditas pangan lain yang mengalami kenaikan harga yakni bawang putih yang mencapai Rp50.000/kg dari sebelumnya Rp40.000/kg.

Meski begitu, pemerintah berkomitmen bahwa ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat menjelang Ramadan akan aman di tengah wabah virus corona.

“Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan supply and demand bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat,” ujar Suhanto.

(Eko Priyanto)