Chicago, aktual.com – Pemogokan guru di Chicago memasuki hari belajar ke-10 pada Rabu (30/10), ketika serikat guru dan pejabat distrik bekerja untuk menyelesaikan kebuntuan kontrak di meja perundingan terkait ukuran kelas, jumlah pegawai pendukung dan gaji.

Pemogokan tersebut merupakan yang terpanjang kedua dalam gelombang pemogokan para guru yang berlangsung di West Virginia, Oklahoma, Arizona, dan California selama beberapa tahun terakhir. Pemogokan terpanjang tercatat selama tiga minggu pada bulan Juni di Union City, California.

Kelas tidak akan diadakan karena para guru tetap mogok, Sekolah Negeri Chicago (CPS) mengatakan Selasa (29/10) malam, beberapa jam setelah serikat guru Chicago (Chicago Teachers Union/CTU) bertemu pejabat sekolah untuk membahas perundingan, yang kembali berakhir dengan kebuntuan.

“Ini belum terlambat,” kata ketua CTU Emerita Karen Lewis dalam sebuah pernyataan, memohon Wali Kota Lori Lightfoot untuk membuat kesepakatan, dikutip Reuters, Rabu.

“Anggota kami memiliki tekad dan tidak akan mengalah jika urusan ini menyangkut para keluarga yang mereka layani,” katanya memperingatkan Lightfoot. Pemogokan tersebut merupakan ujian politik besar pertama bagi sang wali kota sejak pemilihan pada bulan April.

Baik Lightfoot maupun pejabat distrik tidak mengeluarkan pernyataan, selain mengumumkan bahwa kelas hari Rabu dibatalkan.

Distrik sekolah terbesar ketiga di Amerika Serikat itu telah membatalkan kelas untuk 300.000 siswa setiap hari belajar sejak serikat pekerja mogok pada 17 Oktober, setelah pembicaraan kontrak gagal menghasilkan kesepakatan.

Serikat pekerja, yang mewakili 25.000 guru yang tidak memiliki kontrak sejak 1 Juli, memilih bulan ini untuk mogok jika kesepakatan tidak tercapai.

Sebanyak 825 anggota House of Delegates dari serikat bertemu di ruang tertutup pada Selasa untuk pertama kalinya sejak meninggalkan pekerjaan.

Seperti pada walkout sebelumnya, guru-guru Chicago mendesak dana yang lebih banyak untuk meringankan ruang kelas yang penuh sesak dan menambah perawat, pekerja sosial serta asisten pengajar, selain meminta kenaikan upah.

CTU menginginkan ukuran kelas yang lebih kecil, lebih banyak staf pendukung, kontrak yang berlangsung tiga tahun — bukan lima tahun– dan lebih banyak waktu persiapan untuk guru sekolah dasar dengan mendapat bayaran.

Pejabat distrik mengatakan pada Selasa bahwa mereka telah mengusulkan anggaran 25 juta dolar (sekitar Rp350 miliar) untuk mengurangi kepadatan kelas-kelas di distrik dan 70 juta dolar (sekitar Rp982 miliar) lainnya untuk mempekerjakan staf pendukung, seperti perawat dan pekerja sosial.

Sejak pemogokan hari pertama, para guru berjajar di depan sekolah-sekolah di distrik itu –yang memiliki 500 sekolah, dan berunjuk rasa beberapa kali di pusat kota Chicago.

Emerita mengatakan distrik itu tidak mampu memenuhi tuntutan penuh serikat pekerja. Ia  memperkirakan tuntutan-tuntutan tersebut akan meningkatkan biaya  2,4 miliar dolar setiap tahun untuk peningkatan lebih dari 30%  anggaran sekolah saat ini, yang berjumlah  7,7 miliar dolar AS.

Ant.

(Zaenal Arifin)