Ambon, Aktual.com – Situs pemukiman kuno Uifana, Pulau Ujir, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, menyimpan fragmen keramik Tiongkok abad ke-16, peninggalan zaman Dinasti Ming.

“Ada banyak fragmen keramik Tiongkok yang kami temukan di sana, setelah diidentifikasi, yang paling tua adalah peninggalan zaman Dinasti Ming,” kata Arkeolog Wuri Handoko dari Balai Arkeologi Ambon, di Ambon, Sabtu (27/6).

Ia mengatakan, Uifana yang berada di tengah hutan di Pulau Ujir merupakan satu-satunya pemukiman Muslim kuno yang pernah ditemukan di wilayah Kepulauan Aru.

Situs yang usianya hingga kini masih berusaha ditelusuri oleh tim arkeolog dari Balai Arkeologi Ambon tersebut, kemudian ditinggalkan penghuninya karena porak-poranda dihantam pasukan pendudukan Jepang.

Tapi jika dilihat dari banyaknya temuan fragmen keramik Tiongkok kuno di atas permukaan lapisan tanah, diduga proses perdagangan di sana telah cukup maju, bahkan jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke wilayah Maluku, namun jalur-jalur niaganya belum bisa dipastikan dengan jelas.

“Usia awal keberadaan pemukiman itu masih harus ditelusuri lebih dalam lagi. Setelah kalah perang, masyarakatnya membangun pemukiman baru di Desa Ujir, berkisar 1,5 kilometer dari Uifana,” ucapnya.

Ahli kepurbakalaan Islam itu menambahkan, meski belum diketahui secara pasti masuknya ajaran Islam di Uifana, diduga agama Islam telah berkembang di sana sejak abad ke-16 atau 17 Masehi.

Ini dikarenakan menurut kisah turun-temurun masyarakat Desa Ujir mengenai masjid tua mereka di Uifana, bentuknya masih beratap tumpang tiga dengan tiang alif di atasnya, sama dengan ciri khas bangunan peribadatan umat Muslim di Maluku pada abad ke-16 – 17 Masehi.

“Uifana juga pernah diduduki Bangsa Eropa tapi mereka berhasil mengusir penjajah, benteng peninggalan itu kemudian dialih fungsikan menjadi masjid,” ucapnya.

Artikel ini ditulis oleh: