Jakarta, Aktual.co —  Penyebaran nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia sebagai penelitian awal dalam penanggulangan demam berdarah dengue mendapat tanggapan baik dari masyarakat di wilayah penyebaran, kata peneliti utama Riris Andono.

“Tanggapan masyarakat Jomblangan dan Singosaren sangat baik dan mendukung kami, dan kami mengucapkan terima kasih,” katanya usai peletakan perdana telur nyamuk ber-wolbacia di Jomblangan dan Singosaren Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogykarta, Senin (08/12).

Menurut dia, penelitian penanggulangan DBD melalui penyebaran nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia yang dilakukan Eliminate Dengue Project (EDP) di wilayah Kabupaten Bantul ini merupakan hasil kerja sama Fakultas Kedokteran UGM dan Yayasan Tahija.

Penelitian tersebut, kata dia diawali dengan peletakan perdana telur nyamuk aedes aegypti berwolbachia dengan ember khusus berisi sekitar 60-80 telur menyasar di wilayah Banguntapan yang meliputi 11 rukun tetangga (RT) di Dusun Jomblangan serta lima RT di Dusun Singosaren.

“Memang ada masyarakat yang tidak mau rumahnya diletakkan ember nyamuk ber-wolbachia, karena adanya anak kecil, atau ada anggota keluarga yang sakit, kami menghargai itu, namun umumnya mereka suport kami,” katanya.

Ia juga mengatakan, sebelum melakukan penelitian tersebut pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat baik secara langsung maupun melalui tokoh masyarakat maupun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) setempat.

“Sebelum penyebaran wolbachia kami juga melakukan penjajakan, pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat, seperti kunjungan ke tokoh-tokoh masyarakat, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan,” katanya.

Sementara itu, peneliti lain, Warsito Tanto Wijoyo mengatakan, penelitian yang dilakukan di DIY saat ini baru tahap awal untuk mengetahui kemampuan adaptasi nyamuk ber-wolbachia di alam bebas, sehingga efektivitas terhadap penurunan kasus DBD masih panjang.

“Akan ada tiga tahapan penelitian untuk mengetahui efektifitas nyamuk ini dalam penanggulangan DBD, dan ini masih fase pertama sehingga belum bisa dilihat hasilnya, untuk penurunan kasus DBD memang butuh waktu lama,” katanya.

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Pakualam IX berkesempatan meletakkan telur perdana nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia secara simbolis di depan rumah milik Wiji Purwanto, pedukuhan Jomblangan Desa Banguntapan, Bantul.

“Penyebaran nyamuk aedes aegypti sangat luas, sehingga diharapkan wolbachia mampu menghambat penyebaran virus dengue pada nyamuk aedes aegypti hingga mengurangi risiko kesakitan bahkan kematian,” kata Wabup membacakan sambutan Gubernur Sri Sultan HB X.

()

()