Jakarta, Aktual.co — Banyak dari mall yang dibangun di Jakarta tak memiliki konsep yang jelas mengenai dampak lingkungan. 
Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna mengatakan banyak keberadaan mall di Jakarta yang menelan banyak ruang terbuka hijau dan resapan air. 
Dan yang paling jelas terlihat, keberadaan mall telah memberikan sumbangan terhadap kemacetan yang luar biasa di Jakarta.
“Pusat perbelanjaan kita berada di kawasan padat, yang berdampak pada kemacetan karena banyak yang mengakses mall menggunakan kendaraan pribadi,” ujarnya, saat dihubungi Aktual.co, Rabu (22/10). 
Mengenai adanya penyetopan pembangunan mall di Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat, menurutnya itu bagus. 
Namun hal ini diakuinya membuat para pengembang melirik membangun mall di Jakarta Timur dan Jakarta Utara. 
“Sah-sah saja jika di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara dilakukan pembangunan mall, namun harus ada aspek yang perlu diperhatikan baik oleh pemerintah maupun pengembang,” ujarnya.
Dia menyarankan agar pemerintah menyediakan transportasi publik yang memadai. Sehingga menarik pengguna kendaraan untuk berpindah memanfaatkan trasportasi publik. 
Cara lainnya, pengenaan tarif parkir yang mahal sehingga pengunjung akan berpikir ulang menggunakan kendaraannya hanya sekadar ke mall atau hotel. 
Menurutnya juga perlu diterapkan sanksi tegas terhadap setiap pelanggaran yang dilakukan pengelola mall, seperti pengenaan pajak kemacetan.
“Sanksi semacam ini bisa dijatuhkan apabila keberadaan pusat belanja tersebut menunjukkan indikasi bangkitan beban pergerakan atau menambah padat arus kendaraan di sekitarnya,” ujarnya.
Pada pihak pengembang pun Yayat menyarankan agar melakukan pengintegrasian dengan jalur dan moda transportasi publik. Meski diperbolehkan membuat kegiatan usaha namun harus disesuaikan dengan keadaan di sekitarnya.
“Harus ada traffic management dan semacamnya. Oleh karena itulah diperlukan AMDAL (analisis dampak lingkungan) lalu lintasnya.”

()