Jakarta, aktual.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat dan menyentuh level terendah baru sepanjang masa di posisi Rp17.510 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB, Selasa (12/5). Pelemahan mata uang Garuda terjadi seiring berlanjutnya tekanan di pasar keuangan domestik, termasuk anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data perdagangan, rupiah melemah sebesar Rp114 dibandingkan posisi sebelumnya. Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tercatat mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang global lainnya seperti dolar Singapura dan euro.
Di saat yang sama, IHSG kembali bergerak di zona merah dengan turun 64 poin atau 0,90 persen ke level 6.842 hingga pukul 10.00 WIB. Koreksi indeks dipicu pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big cap, di antaranya saham MORA, BREN, dan TPIA.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik disebut tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, sebelumnya mengatakan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) relatif stabil di level 97,9. Pelaku pasar, kata dia, masih mencermati perkembangan terbaru terkait perundingan damai di Timur Tengah yang kembali mengalami kemunduran.
“Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan dengan menyebutnya sama sekali tidak dapat diterima. Sementara Teheran menegaskan tidak akan pernah tunduk,” ujar Andry.
Menurut dia, kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari lonjakan harga energi yang berkepanjangan.
“Akibatnya, harga minyak bergerak naik, memicu kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari guncangan harga minyak yang berkepanjangan,” katanya.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun juga tercatat naik 5,93 basis poin menjadi 4,41 persen. Kenaikan tersebut terjadi seiring pelaku pasar menanti rilis data inflasi konsumen AS periode April yang dinilai dapat memberikan arah baru terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt

















