Jakarta, Aktual.co — Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) A Tony Prasetiantono meminta pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, kendati pada triwulan I-2015 masih tumbuh melambat.
Ia menuturkan, 5 persen merupakan batas psikologis dan apabila realisasi pertumbuhan ekonomi di bawah level itu, akan menimbulkan sentimen yang negatif bagi investor atau pebisnis.
Menurut Tony, tingkat pertumbuhan ekonomi di bawah lima persen dapat mengurangi kepercayaan (confidence) pasar dan pemerintah harus mengejar ketertinggalan tersebut di triwulan-triwulan berikutnya.
“Saya kira masih bisa lah walau kemarin hanya 4,7 persen, tapi memang ibaratnya pemerintahan ini kan masih baru, start-nya masih lambat. Ada kendala nomenklatur kementerian juga, mudah-mudahan masih bisa dikejar,” kata Tony.
Komisaris Independen Permata Bank itu juga menilai target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen sebagaimana tercantum dalam APBN-P 2015 sudah tidak realistis lagi, karena ekonomi harus tumbuh jauh lebih tinggi di atas enam persen untuk dapat mengejar melambatnya pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama.
“Jadi paling realistis ya kepala lima dan saya kira masih bisa karena biasanya spending di lebaran, dari sisi konsumsi naik, dan belanja pemerintah juga sudah mulai jalan. Tapi paling banter (paling tinggi) itu 5,2 persen untuk tahun ini, dengan harapan nanti di semester kedua digenjot ya,” ujar Tony.
Pemerintah sendiri meyakini perekonomian Indonesia 2015 akan tumbuh di atas 5 persen namun tidak mencapai target sesuai APBN-P 2015. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro optimistis pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,4 persen meskipun berbagai tekanan eksternal dan internal menyebabkan terjadinya perlambatan.
“Kami realistis melihat perkembangan triwulan satu kemarin dan (outlook) triwulan selanjutnya sehingga kami berpendapat outlook pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 5,4 persen,” ujar Bambang.
Ia mengatakan, pemerintah akan mempercepat realisasi belanja modal yang diharapkan dapat memberikan kontribusi pada sektor investasi serta memperbaiki daya beli masyarakat dan menjaga inflasi agar konsumsi rumah tangga meningkat. Menurut Bambang, kondisi dunia sedang mengalami perubahan dan semua terkoreksi ke bawah. Ia mengaku realistis melihat target pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap optimistis mengikuti dinamika yang ada.
Namun, kondisi ekonomi global sendiri diprediksi akan mulai membaik pada 2016. Hal itu terlihat dari proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan perekonomian dunia bisa tumbuh pada kisaran 3,8 persen.
“Ada semacam optimisme untuk global, dan bagi kita kalau global membaik, tentunya beberapa negara ekonomi mengalami pertumbuhan meningkat. Mereka adalah trading partner kita. Mudah-mudahan ekspor dan investasi kembali membaik,” kata Bambang.
Artikel ini ditulis oleh:

















