Sejumlah pengungsi perempuan Gunung Agung melakukan aktivitas membuat anyaman bambu di Posko pengungsian Sidemen, Karangasem, Bali, Rabu (4/10/2017). Dalam sehari mereka mampu menyelesaikan lima keranjang dan dijual setiap keranjang dihargai lima ribu rupiah. Dengan tetap berkreatifitas, akan membawa dampak positif baik dari sisi psikologis yang dapat membangkitkan semangat dan menghilangkan rasa cemas para pengungsi dari dampak bencana yang mungkin terjadi. AKTUAL/Tino Oktaviano

Klungkung, Aktual.com – Pengungsi Gunung Agung yang berada di Posko Griya Cucukan, Desa Selat, Kecamatan Klungkung, Bali, mengisi waktu luangnya dengan membuat kerajinan anyaman bambu untuk menumbuhkan ekonomi keluarga selama di tempat penampungan sementara.

Seorang pengungsi asal Desa Taman Darma, Kecamatan Selat, Karangasem, Desak Ayu Sudiantini (35) saat ditemui di posko pengungsian di Klungkung, Sabtu (7/10), mengatakan selama dua pekan dipengungsian dirinya melakukan aktivitas membuat anyaman bambu berbentuk segi empat atau lumpian.

“Saya membuat lumpian ini untuk mengisi waktu luang selama dipengungsian dan hitung-hitung untuk menambah penghasilan keluarga kami,” ujar Desak Ayu.

Ibu dua anak ini menuturkan, selama pengungsian dirinya mampu membuat sepuluh kerajinan bambu (lumpian) per harinya yang biasanya digunakan umat Hindu untuk tempat menaruh sarana ritual.

“Saya belajar membuat anyaman ini sejak kecil dan sehari mampu membuat sepuluh anyaman bambu,” ujarnya sambil mengerjakan anyaman bambu yang sedang dirangkainya.

Desak Ayu menuturkan, anyaman bambu yang dibuatnya dibeli oleh pengepul asal Kabupaten Bangli yang datang dua hari sekali ke pengungsian dengan harga jual perdua biji lumpian itu seharga Rp10 ribu.

“Langganan saya biasanya membeli 40 biji anyaman bambu kepada saya. Kalau dihitung sekali menjual anyaman ini mendapat omzet Rp200 ribu,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan aktivitas menganyam bambu ini sedikit mengurangi rasa bosannya selama dipengungsian dan tetap semangat mencari penghasilan meskipun tidak berada di rumah.

“Ya, pasti bosan tinggal di pengungsian. Apalagi kami sudah dua minggu disini. Tapi dengan melakukan aktivitas ini sedikit tidaknya ada kegiatan untuk saya,” ujarnya.

Sementara itu, Dewa Komang Sudapertama yang juga tinggal di posko pengungsian Griya Cucukan menambahkan, pihaknya selama dipengungsian juga melakukan aktivitas menganyam bambu untuk menambah pendapatan keluarganya selama dipengungsian.

“Saya berharap Gunung Agung tidak meletus, sehingga bisa pulang untuk bekerja lagi,” ujarnya.

Dewa Komang mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah dan donatur yang sudah memberikan bantuan logistik, sehingga segala kebutuhan sehari-harinya dapat terpenuhi selama dipengungsian.

Berdasarkan data BPBD Klungkung jumlah pengungsi di posko Griya Cucukan mencapai 55 jiwa yang rata-rata berasal dari Kecamatan Selat Karangasem dan Desa Muncan Kecamatan Rendan itu memang memiliki mata pencarian sebagai pengerajin dan tukang pahat kayu.

 

Ant.

()