Karyawan memperlihatkan uang pecahan dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Selasa (4/9/2018). Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS melemah menjadi Rp14.940 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Indonesia punya sejarah pahit mengenai krisis moneter, yaitu yang terjadi 20 tahun silam, tepatnya pada 1998. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Kebijakan untuk menurunkan suku bunga acuan dinilai ke depannya dapat melonggarkan tekanan dari ketidakpastian kondisi perekonomian global yang juga berdampak kepada kinerja berbagai aspek perekonomian nasional.

Anggota Komisi XI DPR RI Ramson Siagian dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (27/11), menyatakan, penurunan suku bunga dianggap penting guna menjaga perekonomian Indonesia di tengah tekanan sentimen ekonomi global.

Menurut dia, penurunan suku bunga pada sektor riil akan berdampak pada peningkatan kualitas produk dalam negeri yang akan semakin bisa bersaing pada pasar domestik dan regional.

Saat ini, lanjut politisi Gerindra itu, pasar domestik tengah dihadapi oleh perdagangan bebas, yang jika kalah bersaing industri lokal dapat terancam dan berimbas pasa lapangan kerja.

“Saya berharap bank-bank pelaksana dapat berkoordinasi dengan BI, tentunya juga bersama OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan pembuat kebijakan fiskal. Karena agak sulit kalau tidak ada suatu inovasi strategis untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, padahal hal itu diperlukan juga guna memperluas lapangan kerja,” kata Ramson Siagian.

Sebagaimana diwartakan, Direktur Riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyarankan kepada Bank Indonesia agar kembali memangkas suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate nya pada 2020 mendatang.

“Menurut saya begitu BI sebaiknya melanjutkan penurunan suku bunga pada tahun 2020. Bukan di 2019,” katanya saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (22/11).

Piter mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk dapat memberi waktu kepada perbankan agar melakukan transmisi terhadap kebijakan BI sebelumnya yaitu pemangkasan suku bunga acuan sebanyak 100 bps.

Ia menuturkan perbankan memang sudah mulai menurunkan suku bunga kredit dan suku bunga deposito namun masih minim sebab mereka menahan untuk menurunkannya karena likuiditas yang ketat.

Oleh sebab itu, ia menilai kebijakan Bank Indonesia yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar lima persen merupakan langkah yang tepat.

“BI menahan suku bunga acuan BI7dRR sudah diprediksikan oleh pelaku pasar. Langkah ini saya kira tepat sekaligus juga menyimpan potensi untuk kembali menurunkan suku bunga pada tahun depan,” katanya.

Ant.

(Zaenal Arifin)