Pekerja menata tabung gas elpiji 3 kilogram di Depot and Filling Station LPG Pertamina Plumpang, Jakarta, Selasa (3/11). Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja berharap sekitar 20 persen konsumen gas elpiji bersubsidi tiga kilogram dapat beralih ke elpiji 5,5 kilogram nonsubsidi agar subsidi dapat dialihkan ke infrastruktur, kesehatan, dan lainnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./pd/15

Jakarta, Aktual.com — PT Pertamina (Persero) menyatakan jika program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg yang diterapkan sejak 2007 lalu telah terdistribusi sebanyak 57,19 juta paket dan mengklaim berhasil menghemat subsidi sebesar Rp197,05 triliun

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Purponegoro mengatakan realisasi program konversi ini sukses dalam waktu cepat.

“Bahkan, katanya, program tersebut telah menjadi contoh bagi negara-negara lainnya,” ujarnya seperti yang dikutip dari laman Pertamina.com, Minggu (14/2/).

Menurut Wianda, indikator suksesnya program ini dapat dilihat dengan terdistribusinya 57,19 juta paket hanya dalam waktu 9 tahun program berjalan, dan mengubah pola konsumsi energi masyarakat secara masif dari semula minyak tanah ke elpiji 3 kg.

“Program ini juga mendorong kemajuan industri tabung elpiji dan membuka lapangan kerja, di mana hingga saat ini sebanyak 89 juta tabung elpiji 3 kg beredar di masyarakat,” bebernya.

Secara akumulatif, tutur Wianda, akibat konversi ini penghematan subsidi yang berhasil dicapai sejak pertama kali bergulir hingga saat ini mencapai Rp 197 triliun, dimana konsumsi minyak tanah turun dari 9,85 juta KL pada 2007 menjadi hanya 850 ribu KL di tahun 2015.

Dia juga mengungkapkan saat ini program konversi telah dilakukan di seluruh Indonesia, kecuali Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat berikut pulau-pulau kecil yang sulit untuk dikonversi karena keterbatasan infrastruktur dasar.

“Saat ini, terdapat 3.250 agen dan 128.044 pangkalan Elpiji 3kg yang tersebar hingga pelosok,” tutupnya.

()