Jakarta, Aktual.com —  PT Pertamina (Persero) membantah tudingan miring Indonesia Corruption Watch (ICW) yang menyebutkan adanya potensi mark up harga gas elpiji 12 Kg sebesar Rp30.000 per tabung untuk periode Agustus 2015.

“Tidak benar kalau kami menikmati keuntungan sebesar Rp30 ribu per tabung,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (21/8).

Ia mengakui jika ditengah menurunnya harga CP Aramco sepanjang Agustus ini, pihaknya memang sudah mengantongi keuntungan.

“Tapi saya nyatakan keuntungan Pertamina tidak sebesar Rp30 ribu per tabung. Lebih rendah dari itu,” ujarnya.

Meski begitu, dirinya mengungkapkan bahwa pihaknya tidak dapat memastikan ke depannya perseroan akan terus mendapatkan keuntungan atau justru kembali rugi dari penjualan elpiji 12 kg. Pasalnya, harga gas elpiji bergantung pada perkembangan harga CP Aramco. Terlebih hingga saat ini perseroan belum melakukan penyesuaian harga sejak April 2015.

“Sama seperti analogi antara harga minyak mentah dengan harga keekonomian BBM. Karena potensinya bisa gain bisa lost tergantung selisih harga antara harga jual dan CP Aramco,” terangnya.

Ia menegaskan, komposisi perhitungan harga gas elpiji 12 kg yang digunakan Pertamina berbeda dengan yang digunakan oleh ICW. Hal tersebut menjadikan perhitungan ICW lebih murah ketimbang Pertamina.

Untuk diketahui, perhitungan harga keekonomian elpiji yang digunakan ICW mengacu pada harga kontrak CP Aramco untuk bulan berjalan, dengan komposisi dari propane 50% dan butane 50% dengan rumus: harga patokan+margin agen+PPN. Sementara mekanisme harga patokan elpiji dihitung dengan rumus: CP Aramco+USD68,64/MT+1,88% CP Aramco+Rp1.750/kg.

“ICW gunakan komposisi propane butane 50:50, kami komposisi menghitung propane 42% dan butane 58%. Perhitungan ICW mengacu pada nilai tukar (kurs) beli rata-rata BI pada bulan berjalan. Sementara perseroan mengacu pada kurs tengah dolar Amerika Serikat (USD).

“Kami gunakan kurs tengah dolar bukan kurs beli dolar. Itu perbedaan yang paling mendasar,” tutupnya.

()

(Eka)